"Apa kau tidak paham arti kata sepenuhnya?" tanya Vivandak, "Tidak ada istilah diwariskan, diturunkan, diteruskan atau sejenisnya. Jika kau tanya aku kenapa Raksas itu juga ingin membunuh mereka, maka jawabanku adalah dia tidak ubahnya seperti makhl...
Atarantis, sebuah kota di pulau Jawa yang wilayahnya berada di tengah-tengah antara kota Jakarta dan Bekasi. Kota ini merupakan salah satu kota dengan penduduk yang padat dan fasilitas yang lengkap. Kota ini memiliki gambaran situasi seperti Jakarta, hanya saja dengan tatanan kota yang lebih rapi dan lebih bersih serta dengan infrastruktur yang lebih baik.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Meski lebih maju dibanding kota-kota besar lainnya, namun Atarantis bukan sepenuhnya kota yang baik. Korupsi dan kejahatan lainnya menghiasinya. Belum lagi Kesenjangan sosial yang begitu terasa. Batas antara si miskin dan si kaya begitu tegas dan kentara. Akibat kesenjangan sosial ini, wilayah Atarantis terbagi menjadi dua, yaitu Atarantis tepi dan Atarantis dalam.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Atarantis tepi merupakan 'sarang' berkumpulnya masyarakat yang kurang beruntung karena hidup dengan keterbatasan finansial. Daerah ini kumuh, penuh dengan rumah-rumah semi permanen yang kotor dan dihuni oleh tukang batu dan pekerja kasar lainnya serta pengemis, pemulung dan orang-orang yang terpinggirkan. Mereka adalah pendatang yang tidak mampu menaklukan Atarantis dan kalah dalam persaingan di kota besar itu namun tidak sanggup untuk pulang. Wilayah ini adalah pusat kejahatan dan criminal kelas teri, tempat para pencopet dan perampok yang beraksi karena terpaksa lahir. Namun tidak jarang cikal-bakal penjahat besar muncul dari wilayah suram ini.
Sebaliknya, Atarantis dalam adalah wilayah yang terang-benderang, dipenuhi gedung megah dan fasilitas mewah karena wilayah ini sekaligus merupakan tempat di mana pusat pemerintahan kota berada. Masyarakatnya bekerja sebagai karyawan dan buruh pabrik dan sebagian lagi memilih profesi lainnya seperti dosen, pekerja seni dan sebagainya. Atarantis dalam tidak luput dari ancaman kejahatan. Kejahatan di jalanan kerap terjadi baik yang dilakukan oleh penjahat kelas rendahan hingga para mafia. Korupsi hampir menjadi pemberitaan setiap bulannya, meskipun tidak separah yang terjadi di kota lain. Intinya kemajuan di Atarantis dalam tidak serta merta membuat penduduknya tenang, karena jika Atarantis tepi merupakan 'sarang' penjahat kotor yang lapar, maka Atarantis dalam tidak bersih dari penjahat pandai yang serakah.