--Palvin--
Seperti biasa, aku bangun dengan sinar matahari yang menerobos dari jendela kamarku, menusuk mataku sehingga aku harus mengerjapkan mataku beberapa kali.
Tidak ada suara lembut seorang wanita yang berteriak memanggil namaku atau sekedar mengucapkan kata bangun. Tidak ada yang mengelus rambutku, tidak ada yang mengguncang tubuhku, tidak ada yang menepuk pipiku dan tidak ada yang mencium keningku.
Aku menatap langit langit kamarku kosong. Aku selalu berharap ada yang melakukan semua hal itu setiap pagi kepadaku, namun aku tahu itu tidak akan pernah mungkin terjadi -lagi-.
Setiap hari aku selalu merindukan sosok dirinya, yang selalu melakukan hal itu semua kepadaku setiap pagi. Aku tahu bahwa merindukannya, menangis, dan bahkan menyesalinya tidak akan bisa mengubah apapun. Malah itu hanya akan membuatku semakin merasa bersalah dan.. hancur.
Setetes air jatuh dari pelupuk mataku hingga ke pipiku. Aku kembali teringat dengan kejadian itu, dimana satu satunya wanita yang paling berharga dalam hidupku kehilangan nyawanya. Dan bagian terburuknya, yaitu aku yang menyebabkan itu terjadi. Aku, menyebabkan Momku meninggal.
Aku mengusap air mataku lalu bangkit untuk duduk di ranjangku. Aku tidak mau kembali mengingat semua itu, tidak, aku tidak ingin menangis, setidaknya tidak untuk hari ini. Pagi ini pagi yang cerah, setidaknya pagiku harus berjalan dengan baik.
Aku menghela nafas. Baiklah. Aku turun dari ranjangku lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Sekitar 20 menit setelahnya, aku keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar dari sebelumnya.
Aku mengenakan seragam yang mana disitu terdapat logo sekolah dan 'Palvin Floretta Beldon' ya, namaku.
Aku berjalan menuju cermin, menyisir rambutku dan sedikit merias wajahku. Aku menatap pantulanku di cermin, memastikan bahwa aku sudah siap. Aku mengambil tasku yang terletak di meja belajar, memasukkan beberapa buku, lalu menggantungkannya di bahuku.
Aku kembali berjalan menuju cermin, aku sudah benar benar siap sekarang.
"Hari ini akan menjadi hari yang lebih baik dari sebelumnya" aku harap. Aku selalu mengatakan hal itu sambil menatap pantulan diriku di cermin setiap hari. Aku hanya berharap bahwa setiap harinya hariku semakin menjadi lebih baik. Tetapi ya, itu hanya sebuah harapan.
Aku keluar dari kamarku, turun ke bawah menuju ruang makan. Di ruang meja makan sudah ada Dad yang sedang menyantap sarapannya, dan Carolien -Ibu tiriku- yang sedang memasak di dapur.
Aku duduk di salah satu kursi meja makan yang berhadapan dengan Dad. Dad sempat melirik ke arahku namun dia langsung melanjutkan makannya tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"Pagi Dad."
Aku menghembuskan nafasku ketika Dad sama sekali tidak menghiraukanku.
Carolien berjalan kearahku dengan dua piring makanan di tangannya. "Hey, selamat pagi Palvin." sapanya sambil meletakan satu piring berisi makanan di depanku. "Pagi" ucapku datar. Aku berharap bahwa yang mengucapkan itu adalah Mom dan Dad. Tapi apa boleh buat, semuanya telah berubah dan aku sendirilah yang telah menyebabkan semua itu.
Dulu, keluargaku adalah keluarga kecil yang hangat dan bahagia. Kami saling menyayangi dan mencintai. Terlebih Dad, Dad sangat mencintai Mom lebih dari apapun. Dulu aku mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan cinta yang besar dari orang tuaku. Aku adalah anak ceria yang paling bahagia saat itu.
Namun sekarang, semuanya telah berubah. Tidak ada lagi kasih sayang dari Mom dan Dad, tidak ada lagi Dad yang lembut, tidak ada lagi aku yang ceria, apalagi bahagia. Semuanya telah sirna semenjak kematian Momku yang membuat Dad sangat terpukul.
