Ronde 1 :
..Kriinggg!!!
Alarm berbunyi. Makhluk itu menggeliat di balik selimutnya. Bergerak-gerak karena terganggu dengan keributan yang alarm itu lakukan. Sebuah tangan keluar dari selimut itu. Meraba-raba dan mencoba menggapai tempat alarm itu berjongkok.
Tuk! Suaranya berhenti. Hening. Tangannya ia masukkan lagi, makhluk itu bergerak sedikit.
5 menit berlalu dan makhluk itu tak juga bangun, bahkan bergerak sedikit pun tidak.
Ronde 2 :
...Krriiiinnnggg!!
Alarm biru itu berbunyi lagi. Berteriak karena suara pertama, kedua, ketiga, dan keempatnya tak digubris oleh makhluk dalam selimut itu. Gerakan terdeteksi dari dalam selimut, sebuah tangan keluar lagi. Disusul dengan gerakan makhluk itu yang mencoba duduk. Ia mengambil alarm biru kecil yang tadi malam ia pasang.
Makhluk itu mencoba melihat arah jarum alarmnya. Mengerjap-ngerjapkan mata abu-abunya yang sipit. Rambut panjangnya berantakan khas baru bangun dari hibernasinya. Alisnya mengerut setelah melihat ulang angka alarm yang tertera.
07.15...
Dia hendak meletakkan kembali alarm itu sebelum ia sadar bahwa jam itu tidak beres.
07.15..??? Matanya membulat.
"Sial!!" umpatnya sambil menyibakkan selimut biru tua yang ia pakai tadi. Ia berlari menuju kamar mandi single dalam kamar itu. Tak peduli dengan bola basket yang baru ia tendang karena terburu-buru.
10 menit berlalu dan ia telah siap dengan tas punggung navy-nya. Dengan cekatan ia mengikat tali sepatu hitam-birunya dengan simpul kupu-kupu yang dulu ayahnya ajari. Dan berlari secepat yang ia bisa menuju Hog's GloxXad School tempatnya bersekolah.
***
"Hi, Kinan.. Telat lagi?" sapaan itu membuat yang dipanggil menoleh.
"Apaan Rum..? Ini masih 4 menit sebelum bel bunyi. Aku belum telat..." jawab makhluk bernama Kinan itu sembari berjalan menuju bangku sebelah orang yang menyapanya tadi.
"Seperti biasa ya.. Diambang maut mulu lo!" ucap Arumi.
"Yah.. Alarmnya telat bunyi lagi." jawab Kinan dengan datar.
"Pfft! Bukan alarmnya yang telat bunyi, elo nya aja yang susah dibangunin..." Arumi menertawakan kebiasaan teman sebangkunya yang sudah 1 setengah tahun bersamanya itu.
"Ah... Yang penting aku tidur enak tadi malem." kata Kinan acuh. Ia menekan keyboard handphone touch-screennya. Mengetikkan password yang hanya ia dan Tuhan dan pengaturan hape nya yang tau.
Arumi hanya menahan tawa dengan jawaban itu. "Dasar kebo!"
Kinan mendengar itu. Dia auto menjitak kepala Arumi dari samping. "Enak aja ngomong sembarangan. Aku orang biasa gini dikatain kebo."
Arumi memegang kepalanya yang baru saja Kinan aniaya. Ia menoleh dan hendak membalas Kinan. Tapi Kinan menghindari serangan Arumi dengan santai. Dengan muka datar khas temboknya yang terkenal itu.
"Isshh.. Kapan-kapan gue bales lo!" kata Arumi mengancam.
Kinan tertawa melecehkan. "Gak takut... Gak takut... Gak bakal kena!! Hahaha.." goda Kinan sembari mengeluarkan setengah lidahnya ke arah Arumi.
Arumi yang merasa sebal dengan itu ingin mencakar wajah Kinan segera. Namun Kinan berhasil menghindar dengan memundurkan kepalanya sedikit. Arumi mengerucutkan bibirnya. Ia sebal sekali...
Kinan tertawa. Tawa yang Arumi tau bahwa tawa itu hanya untuknya. Untuknya yang sudah Kinan anggap sebagai orang dekat dan dipercaya. Karena Kinan hanya ramah pada teman terdekatnya saja. Selain itu ia datar. Sedatar tembok pembatas antara Titan dan manusia di serial Shingeki no Kyoujin, anime yang sering Kinan tonton.
"Ehh, itu lagu baru lagi?" Arumi bertanya pada Kinan yang baru saja memutar sebuah lagu asing dari hape nya.
"Iya.. Tadi malem aku download. Nemu sih,," jawab Kinan sekenanya.
"Bahasa mana lagi?" tanya Arumi.
"Jepun lah.. Korea belum ada lagu baru, masih lagu lama" jawab Kinan dengan masih memainkan handphone-nya.
"Oh.. Masih Jepun ya?" ujar Arumi. Nadanya melemah, harapannya akan lagu Korea gugur. "Kinan....-"
"Iya,, nanti aku kabari kalo Korean Song update." kata Kina memotong. Arumi sumringah.
"Belum juga selesai ngomong malah dipotong. Kebiasaan lo!" kata Arumi kepada Kinan. Sembari terus tersenyum ganjen karena niatnya terbaca.
"Tapi aku bener kan? Emang itu juga yang biasanya kamu mau..." kata Kinan menegaskan.
"Iyah bener. Udah kayak paranormal aja lo,," Arumi tertawa.
"Hmm..." Kinan hanya membalas dengan gumaman andalannya.
Teng! Teng! Teng!! ---
Kinan mengangkat wajahnya. Rupanya ia terganggu dengan suara bel itu. Tapi ia menunduk lagi setelah suara berisik itu berhenti.
"Jaman udah abad 21 tapi bel sekolah bunyinya tetep aja gitu.. Nggak keren." kata Kinan tanpa memalingkan muka dari hape putih peliharaannya.
"Hahaha.. Request sana sama kepala sekolah suara belnya ganti aja, Pak. Gitu.." jawab Arumi. Ia tertawa lagi. Memang selalu begitu andaikan orang lain dekat dengan Kinan. Arumi masih ingat betapa dingin sikap Kinan padanya saat pertama bertemu. Tapi lama kelamaan anak itu makin kocak dirasa.
"Arumi.. Kepala sekolah kita perempuan." jawab Kinan santai sambil meletakkan handphone-nya. Tapi sebelah tangannya menyentil jidat Arumi.
"Kinan! Sempet-sempetnya yah nyentil jidat cantik gue!!" kata Arumi hampir berteriak. Tangannya menutupi jidatnya yang tersakiti.
"Hahaa.." Kinan hanya tertawa. Dan Arumi memonyongkan bibirnya. "Udah ah, jangan monyong mulu. Nanti jadi kayak bibir buaya itu mulut, kebangetan monyongnya..."
"Ihh.. Kenapa buaya sih, Nan? Gak mau gue. Jijik" keluh Arumi pada Kinan yang sedang tersenyum miring.
"Nah, bagus deh kalo gitu. Buaya itu cocoknya cuma buat cowok. Hehe.." kata Kinan, ia nyengir.
"Bener juga bicara lo.." Arumi mengiyakan. Dan ia melupakan kesakitannya akan sentilan Kinan yang tadi.
Tuk! tuk! tuk!
Ruang kelas mendadak sunyi setelah mendengar suara itu. Suara horor sepatu guru milik The Biggest and Killer Teacher yang akan mengajar mereka hari ini.
"Selamat pagi semuanya..." suaranya menggema seantero kelas. Bu Ema terlambat 7 menit hari ini. Guru paling killer di jagat Hog's GloxXad School itu. Juga kepala asrama putri yang paling ganas kepemimpinannya.
"Selamat pagi, bu.. " serempak semuanya menjawab. Tapi tidak dengan Kinan. Ia datar melihat guru itu, sedangkan Arumi sudah takut-takut seperti ingin keluar dari kelas.
"Oke, kita mulai dari Bab III hari ini. Keluarkan buku paket, modul dan buku tulis. Selain itu letakkan di dalam loker atau saya ambil." ucap Bu Ema memerintah.
Kinan bingung. Bukankah hari ini jam pertama adalah pelajaran bahasa inggris?
"Rumi.. Sekarang hari apa sih?" tanya Kinan pada Arumi, ia berbisik.
"Kenapa, Nan?" Arumi tak mendengar suara Kinan. Ia juga ikut-ikut berbisik seperti Kinan.
"Hari ini hari apa?" tanya Kinan mengulangi.
"Hari Kamis kok.. Kenapa?" jawab Arumi polos. Ia menatap wajah Kinan. Arumi tidak habis pikir mengapa Kinan sampai bertanya hari ini hari apa. Padahal yang biasanya lupa waktu, bahkan lupa hari itu adalah dirinya.
Demi mendengar itu, Kinan mematung. Ia terkejut, Shock juga. Rasa-rasanya ia akan mati membeku di tempat itu juga.
"Mati aku!!" umpatnya dalam hati.
YOU ARE READING
"Bake A-Love!"
RomanceKinan tertawa. Tawa yang Arumi tau bahwa tawa itu hanya untuknya. Untuknya yang sudah Kinan anggap sebagai orang dekat dan dipercaya. Karena Kinan hanya ramah pada teman terdekatnya saja. Selain itu ia datar. Sedatar tembok pembatas antara Titan dan...
