Kamu percaya,
Takdirmu adalah dia.
Aduh
Perempuan kecil dengan susunan rambut diikat dua, tersandung batu lumayan besar di depanmu. Tubuh mungilmu terhempas ke tanah. Baju biru bergaris putih di bagian lenganmu tampak kotor. Kedua lutut kamu mengeluarkan sedikit darah dan terbesit goresan tanah.
Matamu terpejam, mungkin menahan sakit. Mengulum bibir mungilnya dengan posisi tubuh belum berubah. Berbeda posisi, di kejauhan terlihat sosok anak laki-laki yang memperhatikannya. Mungkin merasa iba. Sontak anak laki-laki tersebut memarkirkan sepedanya tepat di pinggir jalan. Dengan santai berjalan, dirinya mendekat ke arah kamu.
"Kamu baik-baik saja?" Perlahan matamu terbuka. Menerjap-nerjapkan mata ketika melihat uluran tangan persis di depan wajahmu.
"Nggak usah banyak mikir," Anggra menarik lenganmu cepat.
"Sssttt, aww," desismu pelan. Tangan kananmu segera memeriksa lengan kirimu yang luka. Terkelupas, tepat di bagian sikut.
Anggra memerhatikanmu dari atas hingga ke bawah. Tangannya dengan sigap membenahi debu-debu yang menempel di sekitar bajumu.
Beranjak di bagian lutut, kamu mulai terkesima. Terlihat menatapnya dengan tatapan intens. Mungkin terkejut, melihat anak laki-laki yang tidak kamu kenali berlaku seperti itu. Seperti apa? Entahlah. Dari gerak-gerikmu, kamu tidak dapat mendeskripsikan hatimu berbicara melalui kata-kata.
"Udah lumayan bersih, kamu mau pulang?" kata Anggra, terlihat fokus membersihkan bagian lukamu di sekeliling lutut.
Mulutmu masih bungkam. Entah apa yang memenuhi isi kepalamu, kamu terus memerhatikannya. "Hey! Apakah kamu mau pulang sekarang?"
"Hah?" Senyumnya menyungging melihat tingkahmu yang gelagapan seperti mencari alasan di awang-awang. Basah kuyup. Mungkin itu yang kamu alami ketika memerhatikan seseorang. Alhasil ketahuan pemiliknya.
November, 2014
Waktu menunjukan pukul 16:30 WIB. Para wisatawan berhamburan meninggalkan sekeliling pantai. Berbeda dengan pasangan kekasih yang ini. Nampaknya mereka berdua tertarik untuk melihat aksi alam ketika siang menutup harinya berganti dengan malam.
Desiran angin pantai berhasil menusuk kulit telanjang mereka berdua. Ombak terombang ambing berjalan ke arahnya, membasahi jari jemari kedua kakinya. Mereka menikmati kala itu. Menatap jauh langit-langit di sertai cahaya jingga yang mewarnai awan.
Felicya Andreanata, menghirup udara begitu menyeruak memenuhi rongga-rongga di dalamnya. 'Aku hanya berharap kepada jinggaku saat ini, dimana jingga ku akan menjadi saksi betapa bahagia nya aku disini, bersamanya' batinnya sambil memejamkan mata.
"Gimana?" Suara berat miliknya memulai pembicaraan dikeheningan senja. Fely perlahan membuka pejamannya, menoleh ke arah sumber suara yang begitu di kenali. Fely mengerutkan keningnya, Ia tidak mengetahui hal apa yang akan di perbincangan di ujung waktu ini.
"Gimana? A-apanya?" Tanya Fely sedikit ragu.
"Aku mau fokus sama sekolah ku," Sahut Kevin menatap kedua bola mata Fely, mencari sesuatu dan berharap gadis itu tidak merasakan kecewa.
Alasan klasik!
"Maksud kamu?"
"Fel, jujur aku sayang banget sama kamu. Aku nggak pengin ninggalin kamu. Tapi aku juga nggak pengin nilai sekolah ku turun,"
'Deg'
Kalimat barusan mampu menyeruak isi hati Fely. Matanya mulai berkaca-kaca. Suhu tubuhnya menurun jauh ketika tadi. Fely menatapnya lekat-lekat, merasakan tidak ada garis merah di matanya. Lantas mengapa dirinya berbicara seperti itu?
"Gimana bisa kamu memikirkan hal itu, vin?" Tanya Fely dengan suara paraunya menahan tangis.
"Aku pengin masa depan ku cerah, Fel. Untuk kamu,"
"Trus kamu mau apa? Putus?" Kevin terdiam. Sementara air mata Fely telah meluncur dari bendungan yang tidak dapat tertahan lagi.
"Aku nggak mau kita pisah," Sahut Kevin, memegang erat kedua tangan Felicya. Menatap kedua bola mata dengan penuh kenanaran.
"Gimana kamu menjalankannya?"
"Aku kenal kamu, vin. Kamu nggak akan mampu kalau menjalankan sesuatu secara bersamaan." Lanjutnya.
"Aku usahain untuk kamu, Fel."
"Enggak vin. Kamu bakalan kalah disalahsatunya." Kevin terdiam. Mengolah pikirannya yang berkalut kusut di dalamnya. Fely ikut terdiam, menunggu keputusan yang dipilih Kevin.
Fely termasuk cewek populer di sekolahnya. Cewek yang memiliki cahaya terang di berbagai macam prestasi. Fely juga tergolong siswi yang tinggi soal pendirian. Bagaimana dan seberapa kuat rintangan hidup yang menimpanya, itu tidak menjadi persoalan baginya. Justru akan membuat dirinya semakin kuat.
"Status tidak menjamin segalanya kan?" Felicya hanya mengangguk kecil.
"Kita udahan ya, Fel. Tapi kamu janji jangan pergi dari kehidupan aku."
'Kamu boleh meminta hal semacam itu. Tapi tidak dengan janji yang mengikat aku. Sedangkan kamu? '
Rasanya Fely ingin marah, tidak setuju dengan keputusannya. Tetapi suaranya tidak keluar. Seperti tercekat di tenggorokan.
"Aku sayang banget sama kamu," Gumam Kevin, merangkul Fely dan mendekapnya di bawah sinar orange.
Sang jingga benar menjadi saksi. Saksi perubahan status di antara mereka berdua. Tidak masalah, setidaknya kalimat yang di ucapkan Kevin menjadi obat bagi Fely. Tidak mengerti, apakah hal itu tulus untuknya? atau hanya sekadar bualan-bualan indah yang dilontarkan?
xxxxx
Haaii.. Ini awalan untukku😊
Amatir bangeet,- mohon saran dan kritikan nya poro-poro😁 itu sangat berharga untukku..
Semoga kalian sukaa..
Trimakasih..
YOU ARE READING
Wrong Time
Teen FictionAku yakin, tidak ada pertemuan antara seseorang yang disengaja. Antara aku dan kamu. Banyak perbedaan garis hidup. Siapa tahu, justru itu yang akan mempereratkan aku dan kamu. Bukan kemauan kita. Garis bawahilah, bukan kita. . . . . . . Simaklah kar...
