Hidup tanpa teman itu, seperti tidak ada kebahagiaan. Tanpa ada teman, kita tak bisa mengerti apa itu kasih sayang, saling mengahargai, dan saling membantu satu sama lain. Dan paling penting adalah setia. Itu yang membuat kita bisa menjadi teman yang benar-benar sejati. Salah satunya Aku. Aku mempunyai teman sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka sangat nenyenangkan menurutku. Mereka selalu memberi warna di setiap harinya. Aku tak hanya punya satu teman tapi, tiga. Mereka adalah Lisya, Sisil, dan Metta. Mereka sudah ku anggap sebagai sahabatku bahkan, saudara sendiri.
Sejak sd, kita selalu satu sekolah sampai sekarang pun masih. Kita sekarang sudah duduk di bangku kelas 12 SMA Jakarta. Bahkan, tidak hanya satu sekolah, tapi Satu kelas. Sebab itu, kita sulit untuk di pisahkan. Aku duduk sebangku dengan Lisya. Sedangkan Sisil, dengan Metta.
Pagi ini, mereka akan menyampar ke rumahku untuk berangkat sekolah bersama. Baru saja aku turun dari tangga, mereka sudah datang dan duduk di sofa ruang tamu. Mereka melihatku dan memberikan senyum padaku.
Lisya bangun sambil menghampiriku. "Pagi.., Cantik. Ayo, kita berangkat." Ajaknya. Aku hanya bisa menjawab dengan senyum. Aku langsung berjalan ke dapur, untuk pamit ke pada Mami.
Aku menupuk lembut pundak Mami yang sedang mencuci piring. Ia langsung menengok.
"Mih, Yessy berangkat dulu ya." Pamitku sambil mencium tangannya yang basah.
"Ya, sudah hati-hati."
"Assalamualaikum.." Pamit kami.
"Waalaikumsalam.."
Lisya, Sisil dan Metta mereka mengikutiku dari belakang untuk pamit kepada Mami sama sepertiku. Setelah pamit, kita pun langsung masuk mobil biruku yang terpakir di bagasi.
Dalam perjalanan, Metta mulai pembicaraan di dalam mobil. "Guys, lu udah pada kerjain Pr Mtk?" Tanya Metta yang sedang membuka buku tulisnya. Aku hanya bisa melihat ia yang di belakang lewat kaca spion dalam sekaligus fokus menyetir.
Sisil yang di samping Metta, melihat temannya itu sibuk dengan buku Pr-nya. "Kenapa? lu belum? Kebiasaan deh suka gak ngerjain."
Metta langsung mengerut alisnya. Dan sedikit mengekpresikan marah. "Bukan gak ngerkain, Sil. Tapi gw lupa. Gw tanya, emang lu udah ngerjain?" Serang balik.
"Udah, tapi belum selesai."
"Yee.. Gak beda jauh donk sama gw kalo gitu. Dasar!" Metta kesal sekaligus memukul Sisil dengan bukunya.
Sisil mengusap tangannya." Aww! Sakit tahu, Met. Ya udah si. Yang penting mengerjain. Weekk.." ia meledek Metta dengan memeletkan lidahnya kepada Metta.
Aku hanya bisa tersenyum melihatnya dari Spion.
Seperti biasa suasana kelas setiap pagi selalu ramai. Ada cewek yang dandan, selfi-selfi, bercanda, ada juga yang makan-makan. Bisa di bilang, kelas itu sebagai rumah ke dua. Jadi bebas mau ngapain ajah, kalau tak ada guru. Aku sih orang yang biasa-biasa saja. Aku hanya bisa ngombrol dan sedikit bercanda dengan teman ku yang di samping dan di serbang barisan meja. Mejaku berada di barisan ke dua kiri paling depan, dari pintu kelas sebelah kanan.
Aku sedang sibuk mengeluarkan alat-alat tulis dari tas, tapi Lisya yang ada di sampingku menepuk bahuku berkali-berkali. Tanganku kuhentikan yang sedang mencari pulpen. Aku sedikit kesal denganya. Aku langsung saja menoleh kepadanya.
"Kenapaa..?"
"Itu, si cewek Es." Tunjuk Lisya
Mataku mengikuti arah yang di tunjuknya. Ada seorang cewek bertubuh tinggi, memakai tas merah, dan digerai rambutnya yang sepunggung. Dan tanpa ekspersi. Lebih tepatnya bermuka datar. Aku kenal ia. Ia adalah Carine. Teman ku sejak Sd sampai sekarang. Tapi, aku tak begitu dekat denganya. Karna, ia suka menyendiri dan tak pernah senyum. Mungkin, ia hanya mengeluarkan 3 atau 5 kata saja dalam sehari. Tapi anehnya, dia itu sangat pintar. Dan suka mendapat tiga besar berturut-turut di sekolah.
Aku melirik Lisya. "Emangnya kenapa?" Tanyaku cepat.
"Haahh!.." Dia membuang nafas cepat dan melipatkan kedua tangan di dada sambil menatap ke arah depannya. "Bingung ajah. Tapi sih lebih tepatnya aneh. Sampai kapan dia terus-terusan bersikap kaya gitu. Itu dari Sd loh. Kita tuh tahu dia. Aneh gw sama sifatnya itu. Ih!" Ekspresi jijiknya.
"Gak boleh gitu. Setiap orang itu, punya kepribadian sendiri-sendiri. Gw tahu kok. Gw juga kan temannya dia dari sd. Mungkin ajah dia punya masalah pribadi. Jadi sikap dia tuh kaya gitu."
Lisya tak merespon. Ia hanya mendengarkan perkataanku saja. Jangankan merespon, melihatku berbicara saja tidak.
"Triiiiinngggg!!... Triiiinnggg!!.."
Bel berbunyi setelah percakapan kami barusan. Aku pun langsung siap-siap untuk belajar pagi ini.
ESTÁS LEYENDO
Aku Yang Salah
Novela JuvenilIni kisahku, aku adalah seorang anak gadis yang bernama Yessy Medita Sinto. Menurutku, Hidup tanpa teman itu gak asik. Untungnya aku punya teman yang bisa membuat hari-hari selalu berwarna. Tapi, Waktu terus berjalan. Banyak hal yang ternyata yang...
