Citra berulang kali mengangkat tangannya menatap detik dalam arloji nya yang terus berputar, dan matahari yang semakin terik. Ia bangkit dari sofa panjang dalam ruangan terbuka dengan raut penuh emosi. Langkahnya setengah berlari menuju tempat tujuan.
Tangan Citra berubah sangat kuat untuk menggedor pintu, sampai pemilik rumah membukanya.
Hampir saja Citra memukul wajah Bisma, untungnya Bisma membuat tameng dengan telapak tangannya.
“Sabar-sabar...” Bisma mengelus rambut Citra lembut. Lalu menjinjing kunci ke hadapan Citra.
“ini kunci motornya neng. .. Aa mau lewat minggir dulu dong” pinta Bisma sambil tersenyum.
Citra menepis tangan Bisma “udah lagi gak usah becanda, ini udah siang bege!” bentak citra, lalu ia berjalan menuju halaman.
“oma, Bisma berangkat” teriak Bisma.
Diperjalanan Citra mendiamkan Bisma, begitu juga sebaliknya. Namun otak Bisma tidak akan bekerja seperti itu dalam waktu yang lama, ia menarik gas motornya lalu menginjak rem secara mendadak membuat kepala Citra terbentur helmnya. Citra menghempas nafas kesal.
“lo mandinya berapa jam sih Bisma? Kalo mau berendem di kolam, bukan dikamar mandi!” teriak Citra disisi telinga Bisma, Bisma hendak menjawab namun mulut Citra kembali menyerocos.
“gue capek ngadepin elo yang kayak gini bentuknya Bisma, gue capek! Terserah pokoknya gue mau balik bareng Batara! Inget ya Bis kalo sampe gue dihukum gara-gara telat, gue gak mau ngomong sama lo lagi!!!”
Bisma menoleh kebelakang dan menjulurkan lidahnya ke hadapan Citra lalu Citra memukul pundaknya.
“dengerin geh” Ketus Bisma santai, Citra tak menjawab.
“mau didengerin gak?”
“alah palingan mau ngeles!” Jawab Citra sinis.
“tadi malem gue mimpi” Curhat Bisma dengan nada melemah. Sesaat Citra langsung merasa bersalah, ia memeluk tubuh Bisma.
“lo mimpi Bunda lagi?” Balas Citra.
“gue mimpi basah”
Citra langsung melepas pelukannya dan menjerit menyebut nama Bisma.
“makanya gue mandinya lama, badan gue harus bener-bener bersih Cit”
“Otak lo dimana Bis” rengek Citra.
Sampai disekolah gerbang hampir di tutup, untungnya ada Batara yang mengalihkan perhatian Satpam untuk meloloskan dua sahabatnya itu.
Ketiga nya berlari menuju kelas untuk meletakan tas dan kembali ke lapangan untuk upacara bendera.
“topi mana topi?” Tanya Bisma sambil mencari dalam tas gendongnya.
“lah, topi gua mana? Gak ada di tas” Tanya Batara gugup.
“itu dikepala lo apa namanya bloon!” bentak Citra kesal.
“udah cepet lemparin aja tas nya” pinta Bisma.
Batara meraih tas Citra dan melempar tas mereka bersamaan kedalam kelas. Kemudian ketiganya berbalik badan dan hendak berlari.
Pyarr!!
Semuanya menoleh kembali.
“parfum gue” rengek Citra.
“tar gue beliin” balas Batara sambil menarik lengan Citra untuk berlari.
Berhubungan Batara, Bisma dan Citra sekelas jadi mereka dalam barisan yang sama. Barisan kelas dua belas IPA dua.
Saat upacara berlangsung sampai upacara inti semua nya tenang hampir tak ada suara dari setiap barisan, sayangnya setelah mencapai bagian amanah, mulai lah mulut-mulut bebek itu menimbulkan keramaian.
YOU ARE READING
Taksa
Teen FictionON GOING!! [Update Sabtu-Selasa] "karena Bisma sama Batara beda Cit" Bisma menatap Citra lemah. "maaf Bis" Citra menarik tangan Bisma, namun tidak lama karena Bisma menghempasnya. "gue emang suka godain cewe sana sini, tapi gue gak pernah pacaran ci...
