[Gambar dari commons.wikimedia.org]
Pemandangan di kota ini sangat mengenaskan. Seluruh benda yang masih ada disini telah lama ditinggalkan dengan keadaan rusak berat. Mobil-mobil bobrok tesebar di sepanjang jalanan, bis-bis besar terlantar di pinggir jalan dan sepeda-sepeda tergeletak tak terjamah di beberapa tempat. Rumah dan pabrik-pabrik disini tidak kalah mengenaskan keadaannya. Beberapa rumah bahkan sudah tak berbentuk lagi. Tumbuhan yang dulunya hijau di depan rumah-rumah tersebut ikut memperlihatkan warna kepunahan. Semua benda-benda ini telah menjadi saksi bisu saat bencana itu terjadi.
Di tahun 1986, sebuah bencana menerjang kota ini. Semua orang mengungsi ke kota terdekat, kota Pripyat. Saat itu juga turun perintah pengosongan kota dari pemerintah. Hingga sekarang, kota ini hanya menjadi sejarah kelam yang tak terlupakan oleh anak cucu korban bencana Chernobyl 1986.
Lalu, mengapa kami datang kesini? Dua Bulan terakhir, angka peningkatan radiasi di area Chernobyl meningkat secara bertahap. Anomali ini sangatlah tidak masuk akal, sudah puluhan tahun di sini tidak ada aktifitas nuklir yang dijalankan manusia. Sehingga tidak mungkin angka radiasi bisa bertambah dengan sendirinya.
Setelah pemerintah tau akan anomali ini, Kami langsung dikirim ke TKP. Kami beranggotakan tiga ilmuwan ahli nuklir, dua ilmuwan fisika, dua orang pemerhati lingkungan dan tiga orang relawan dari komunitas peduli lingkungan. Semuanya anggota dari RNSF (Russian Nuclear Supervisor Federation) yang langsung di bawahi oleh World Nuclear Federation dan Pemerintah Rusia sendiri. Secara langsung lembaga ini mengawasi seluruh aktifitas nuklir di Rusia dan juga ikut mengawasi aktifitas di belahan dunia lain. Karena Dirut RNSF menjabat sebagai penasihat senior di Federasi Nuklir Dunia, maka secara otomatis RNSF juga menduduki tempat penting diantara sekian lembaga nuklir yang ada.
Saat kabar aku akan ikut ekspedisi berbahaya ini, Sahabatku kaget akan keputusanku.
"Anna, apa kau yakin dengan ini?" Kata Maria, sahabatku.
"Iya, aku sudah memikirkannya matang-matang, Maria. Sudahlah kau tak perlu panik seperti ini."
"Bukan... Bukan aku tidak suka. tapi... menurutku ini akan berbahaya bagimu. Coba kau bayangkan, kau akan memasuki zona merah. Zona terlarang. Apa kau tak takut menjadi monster setelah masuk kesana?"
Sontak aku menepuk jidatku sembari menahan tawa karena mendengar Maria menyebutkan "monster". Dia memang sedikit paranoid soal hal-hal fiksi seperti itu.
"Ayolah, Maria. Itu hanya ada di komik-komik anak kecil saja. Aku tidak akan menjadi monster berkepala tiga yang mengeluarkan laser dari matanya dan menghembuskan napas api. Tenang saja." jawabku masih sambil menahan tawa.
"Aku hanya khawatir sesuatu akan terjadi denganmu, Anna. Kaulah satu-satunya sahabatku. Aku tidak mau sahabatku kenapa-kenapa hanya karena zat-zat sialan itu." dengan nada sewot Maria menjawab.
Perdebatan kami berlangsung hingga beberapa menit kemudian dan berakhir canggung. Dengan berat hati Maria mengalah dan menyetujui keputusanku. Saat Maria akan keluar dari apartemenku, dia berkata, "Anna, aku akan menelponmu setiap pagi. Hanya untuk memastikan kau tak apa-apa." Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya.
Saat suara mobil Maria tak terdengar lagi, aku membanting tubuhku ke atas kasur. Aku menghela napas dengan berat. Apakah Ibu akan merestui keputusanku ini? Kenangan bersama ibu kembali datang. Aku telah kehilangannya sejak masih duduk di sekolah dasar. Saat itu dia sedang meneliti Kebudayaan Masyarakat Kaukasia di Rusia.
"Ibu, kenapa kau pergi begitu cepat?"
Setelah ibu tiada, Ayah pergi dan mencari keluarga baru. Meninggalkan kami di rumah Bibi di Moscow. Walau Bibi juga enggan mendapat lebih banyak beban, rasa iba tak bisa Bibi tolak ketika melihat tak ada yang bersedia mengambil hak asuh kami. Bibi dengan berani mengambil hak asuh kami dari pengadilan kota Moscow setelah dia dengan susah payah memantapkan diri untuk melakukannya.
YOU ARE READING
Red Forest
Science FictionAnna, seorang relawan lingkungan hidup kebetulan dipilih untuk mengikuti penelitian lapangan menyelidiki anomali radioaktif yang sudah beberapa hari muncul kembali di daerah bekas bencana nuklir Chernobyl, Kota Pripyat. Tapi jalan cerita tak semulus...
