Sontoloyo

76 2 0
                                        

Hari ini aku duduk di kursi segi empat dengan kakinya yang kokoh menyanggaku. Semakin nyaman aku menikmati waktu santaiku di atas kursi ini ditemani HP favoritku. Layar biru yang selalu menjadi teman setiaku di atas kursiku ini, ku geser-geser, ku sentuh, "Tik-tik. Tik-tik." Begitu suara sentuhnya. Ah. Aku kadang bingung juga dengan teknologi aneh ini.

Kaki kananku mulai ku tarik lurus ke depan, dengan kaki kiri ku tekuk buat penyangga layar biru ini. Iya. Gerakanku ini sudah seperti model Korea terkenal. Narsis abis. Dengan sedikit senyum yang eksis. Ditambah sapaan manis. Beeee...h.

"Hei! Mbok ya inget umur. Udah 21. Nikah sono!." Kata Om Kumis memasang wajah sinis kepadaku.

Maklumlah. Ini bukan masalah apa. Tapi ini masalah persaingan teknologi. HP-ku bisa dibilang lebih canggih ketimbang punya Om Kumis. Secara begitu, HP-ku memiliki kamera Selfie.

"Eh. Lek. Aku iki masih muda, yo. Iman iseh kuat. Apa dikira aku orang gampangan?" Sanggahku.

"Tarae iyo. Kamu itu memang gampangan. Gampang ngiler. Gampang baper. Gampang kentut. Gampang lapar. Ngutangan. Njaluk'an. Pinjam gak pamit. Nylo.."

"Oke. Oke." Aku menyelanya. "Dari sekian keburukanku di matamu, adakah aku ini pernah mempermainkan hati wanita seperti yang telah engkau lakukan pada Winda?"

"Widiiih. Bahasamu." Ekspresi Om Kumis memonyongkan mulutnya melawan gaya bahasaku yang puitis. "Daku memang pernah menuai cinta bersama Winda. Tetapi tahukah engkau, Wahai Anak Muda! Ketika cintaku terasa seperti embun sore..."

"Sebentar!!! Embun sore? Kapan sejak ada embun sore?"

"Sejak kapan!!!" Dia membenahi kataku.

"Nah iya itu!"

"Sejak barusan itu tadi. Kan aku sing ngomong."

Dasar Om Kumis. Ku akui dia memiliki diksi yang tinggi masalah puisi. Tidak heran jika mantannya tercecer di berbagai sudut kampung. Bahkan hampir semua gadis di setiap RW kampungku ini sudah memiliki lebel "Mantannya Danil." Bukankah ini rekor luar biasa?

Kau sudah dengarkan tadi? Begitu indah diksinya. Dia sangat cocok menyandang predikat Kumis. Kurang Optimis. Soalnya, cuma modal rayuan tanpa adanya tindakan nyata. Kalau cuma rayuan, aku mah bisa. Apalagi bikin istilah baru. Seperti 'Embun Sore'.

"Udah lanjutken!"

"Teko ngendi sek tas?"

"Embun soreeee..."

"Oh iya." Lanjutnya. "Seperti embun sore yang hanyut ditelan senja. Aku ini masih basah. Masih hangat. Dengan cinta merpati yang kita rajut bersama..."

"Sudah. Sudah. Sing penting aku gak tahu PA - CA - RAN!!! Masih cling. Mantan aja gak punya." Sanggahku.

"Hallah.. Yuni kae sopo? Ha? Wingi iku senyam-senyum."

"Ora-ora. Yuni anu.. cuma temen..."

******
Siapakah Yuni?
Selanjutnya di THE TEH

THE TEHStories to obsess over. Discover now