We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bang Bang

5 0 0
                                        

Ada saatnya kita mulai merasakan yang namanya jatuh hati. Ah,  menyenangkan sekali rasanya.  Terkadang sesuatu nya terasa begitu menggembirakan,  tapi disisi lain kita harus siap patah hati tanpa aba-aba.

Tapi segalanya itu berat, kawan. Jika hanya perasaan sepihak yang kau alami. Ada banyak pantangannya, kau tak akan kuat. Jadi biar aku saja yang merasakannya. Hehe

808

Hari ini entah kenapa terlihat begitu terik. Mataku yang masih berhias belek ini baru saja terbuka dan langsung diserang sinar keemasan mirip ayam goreng milik Eomma kemarin malam. Agggh, aku masih harus pergi kerja hari ini.

Segera kudengar ribut-ribut dari ruang keluarga, sedetik setelah kubuka pintu kamar sialan yang ternyata lumayan berat ini.

"Aku sudah bilang, dia itu milikku! Mana bisa jalang sepertimu itu terlihat dimatanya. Kau bahkan lebih murah dari sendal swallownya Oh Sehun!"

Ah sungguh, suara aktris mana lagi itu yang cemprengnya minta ampun. Btw, akhir-akhir ini drama 'suamiku bukan suamimu' seperti itu lagi trending. Kakak laki-lakiku itu bahkan sangat khidmat menontonnya.

"Oppa, tumben dirumah. Nggak ada kerjaan ya?" dia langsung memutar kepalanya 45° kekiri, melihatku.

"Oh, aku sedang meliburkan diri. Hah, untung saja kamu nggak mengikuti jejak oppamu yang sial ini. Pekerjaan ini terlalu menguras tenaga." Jawabnya lalu menenggelamkan punggungnya ke bantalan sofa.

"Volume TV mu itu terlalu keras tahu. Lagian, selera tontonanmu sudah tercemar Eomma, ya?!" Dia hanya tergelak dalam diam setelah itu, tak menjawab.

Kurasa pekerjaan yang diberikan appa kali ini benar-benar berat untuknya.

Kulirik sebentar isi kulkas, sekedar mengambil sebuah apel sebelum kudengar seseorang memanggil.

"Ah, sepertinya nona muda kita bangun terlambat hari ini."

"Ahjummoni, ini masih pagi. Jangan menggodaku, ok?" Balasku dengan nada slengean pada wanita paruh baya yang mungkin umurnya tak jauh beda dengan nenekku itu.

"Arraseo-arraseo. Jadi, apa nona ingin makan sesuatu?"

"Belum." Sebenarnya perutku hanya kosong, tapi bukan berarti aku kelaparan.

Setelah meneguk segelas lemonade aku baru teringat kalau ini hari rabu, ada jadwal trip menunggu. Kulirik sebentar ruang keluarga yang sebelumnya berisik, kini hening.

Authors pov

Mandi? Bukan, bukan itu yang dilakukan YN sekembalinya dari lantai bawah. Dia kembali berbaring di kasur, tapi matanya menatap kosong ke langit-langit kamar.

"Mungkin aku terserang penyakit malas yang mendunia itu. Akh, masabodoh." Gumamnya pelan lalu bergerak gusar di tempat, sesaat kemudian duduk bersila, lalu melirik ponsel yang belum disentuhnya sejak kemarin malam di atas nakas itu.

Drrrt drrr
Justin's calling

"Bagus sekali, aku bahkan baru saja memikirkannya dan kini dia meneleponku. Aku curiga dia bisa tahu pikiranku."

"Huun, ada dimana kamu sekarang?"

"Kau tahu pasti aku masih di rumah."

"Sayang sekali, padahal aku mengharapkan jawaban yang lain. Huh, jadi tunggu apalagi? Ini sudah cukup siang, bukan?" dan kini si Justin itu mulai mendengus-dengus.

"Aish, kau ini bawel banget sih. Tenang saja, mukaku ini akan sampai di depan matamu tepat pukul 9 nanti. Sudah ya, bubyee."

"Hehh.."

808

Hening.. Sudah beberapa menit sejak cewek itu sampai dan duduk di salah satu kursi di hadapan cowok berwajah masam itu.

Keduanya saling tatap dengan perbedaan mimik yang sangat kontras. "Mau sampai kapan kau akan diam Justin sayong, hn?"

"Jangan gunakan embel-embel sayong lagi mulai detik ini. Aku tak akan luluh lagi. Kamu ini benar-benar." si cowok tampan yang ternyata Justin itu membalas dengan kedua gigi yang berhimpit rapat, tak bercelah.

"Hahah, sudah cukup ngambeknya, Ntin. Jadi.. Mana berkas yang kuminta?" pintanya sambil menengadahkan kedua tangannya kedepan muka Justin.

"Ah, sepertinya kertas-kertas itu sudah sampai usus halusku sekarang. Karena rasanya perutku sudah mulai mulas." kata-katanya itu membuat YN mengernyitkan wajahnya, kerutan-kerutan sampai muncul disana.

"Apa-apaan kau ini Justin. Gaya bercandamu sudah mulai keterlaluan ternyata. Aku pulang nih."

Benar saja, Justin melihat YN yang sudah menggenggam tasnya langsung bergerak gusar, meletakkan beberapa map transparan keatas meja.

"Wosh, kamu ini kenapa sensitif sekali sih. Lagian kan juga pemborosan bahan bakar nantinya."

"Yee, salah siapa juga."

Selanjutnya hening. Justin sesekali menengok ponselnya yang sedari tadi bergetar tak sabaran. Sepertinya dia benar-benar sibuk. Sedangkan YN yang dengan khusyuk membaca kata demi kata diatas lembaran kertas itu.

"Yang satu ini kayaknya lumayan banget deh Hun, karena lokasinya ada di Kalimantan. Sponsornya juga nggak kalah meriah, kan mayan tuh bikin namamu melesat." jelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.

"Mayan sih mayan, tapi waktunya engga tepat, sih." Jawaban tak terduga itu sempat membuat Justin mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

"Apalagi ini ya Tuhan.. Kemarin kamu ribut masalah partner, adalagi masalah tempat, sponsor. SEKARANG WAKTU!" Desahnya frustasi sambil membanting lembut ponsel itu.
*kalo banting mah sekalian yang keras bang Ntin😑

"Udah deh ya Justin sayong. Kalo bulan segitu aku beneran nggak bisa, kayaknya kamu ngga tahu aku ada tour mulai bulan 8 besok." Penjelasan tak diminta itu makin membuat Justin syok, mengingat perjuangannya mendapat seberkas kontrak kerja itu.

Kim YN, putri bungsu keluarga Widjaya yang sangat awam di telinga masyarakat Indonesia ini lahir dengan bakat bawaan yang luar biasa.

Lahir ditengah-tengah keluarga yang hanya punya anak-anak laki-laki membuatnya dilimpahi kasih sayang sejak masih berbentuk zigot.

Sampai tahun lalu, ketika dia genap berumur 20 tahun. Pilihan berat disuguhkan di depan matanya. Pilihan yang menentukan masa depannya. Antara menjadi penerus perusahaan orang tuanya seperti para kakaknya atau mengikuti mimpinya, dan kau tahu pasti apa jawabannya. Mimpi.

"Oke, sepertinya aku sudah banyak merepotkanmu akhir-akhir ini Just. Jadi hari ini aku akan menraktirmu, Yeaaay!" melihat bocah dihadapannya yang sedang bersorak karena ucapannya sendiri itu membuat Justin mendengus.

"Aku tak yakin kali ini kau akan membawaku kemana, tapi yeah sure, why not? Perutku sudah pemanasan tadi." jawaban nyeleneh Justin itu membuat keduanya nyengir kuda.

****
Holla-holla,
Aku penulis baru disini. Ah enggak baru juga sih, aku udah nulis beberapa book yang enggak pernah usai sampai detik ini😅. Dan ini cerita pertama yang aku publish.

Abal-abal? Yup, nggak salah kalau kalian berpikir seperti itu saat baca ini. Btw kalian bener banget😂

Don't forget to comment ya, no need to vote, aku cuma mau tahu aja gimana penapat kalian tentang cerita ini.

Pun kalau ada yang baca kwkw

-Csmop

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 01, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TearsStories to obsess over. Discover now