SAAT itu suasana malam yang dingin sangat berbanding terbalik dengan rasa panas yang membara di dalam hati Seol. Mengabaikan tatapan banyak orang, ia terus berjalan dengan sedikit sempoyongan. Matanya bengkak, pipinya basah, rambutnya berantakan.
Hari ini adalah hari terburuk yang pernah ada. Bagaimana tidak, siang tadi dia baru saja kehilangan pekerjaannya dan barusan dia bertengkar karena pacarnya ketahuan selingkuh. Bisa dipastikan hubungan mereka berakhir.
Dia tidak minum. Tapi tingkahnya terlihat seperti mabuk yang kehilangan seluruh harta benda miliknya. Ah ya aku memang kehilangan milikku yang berharga. Pekerjaan, pasangan, nanti apa lagi?
Seol tidak ingat sekarang sudah jam berapa, tapi bisa dipastikan sekarang sudah lewat dari tengah malam. Meletakkan heelsnya, tangannya beralih mengambil kunci rumah yang ia simpan di balik kantung celananya. Kakinya lecet, dan badannya terasa hampir remuk. Rasanya ia ingin segera berbaring dan tidur selama mungkin di kasur empuknya.
Dengan sedikit tergesa-gesah, Seol membuka pintu rumahnya, membawa heels yang sudah tidak ia gunakan sejak kakinya lecet, dan meletakannya ke sembarang arah. Tak bisa melihat apapun karena belum menghidupkan lampu, Seol pun segera bergerak mencari tombol untuk menghidupkan lampu.
klik.
"ARGHHH!"
Seol berteriak kaget. Bagaimana tidak, ia mendapati seorang pria yang mengenakan kaos putih polos plus celana pendek tertidur pulas di lantai ruang tamunya. Adrenalin menelusuk naik ke permukaan, jantung Seol begitu berdebar, merasakan ketakutan yang memuncak. Seol yang tadinya merasa sangat lelah dan pusing akibat alkohol yang ia teguk langsung hilang tergantikan oleh ketegangan dan rasa kantuknya seketika mengilang.
Tak jauh berbeda dengan Seol, pria yang tadinya terlelap tersebut seketika membelalakan matanya, namun seperkian detik kemudian menatap sang lawan dengan bingung. "Kamu siapa?"
Seol menatap dengan ganas. "Aku yang seharusnya bertanya, kamu siapa!?"
"Aku? Aku siapa?" tanyanya pria itu balik. Lebih seperti kepada dirinya sendiri. "Aku, ah, aku siapa ya?"
Heol.
"Keluar kau dari sini!" pekik Seol, energinya mulai terkumpul, dia berteriak sebisanya untuk menutupi perasaan takut dan terkejut mendapati orang asing ada di rumahnya. Seol memijat kepalanya sekilas, kepalanya mulai terasa berat . "Atau aku akan berteriak!"
Pria tersebut hanya diam. Lalu matanya berkeliling memerhatikan pemandangan yang berada di belakang Seol. Pria tersebut jelas terlihat linglung. Dia bahkan sesekali memiringkan kepalanya.
Lain halnya dengan pria tersebut, Seol merasa aneh, pria itu hanya diam tanpa menjawabnya. Huh pria ini mau cari mati!? Seol terdiam sejenak menyadari sesuatu.
Bukannya rumah sudah kukunci tadi!?
"Hei, jawab aku!"
Berbeda dengan Seol yang menatapnya seakan dia adalah hewan buas, yang ditatap justru menunjuk dirinya sendiri dengan polos. Ia baru saja bangun, dan semua ini terasa asing, butuh waktu baginya untuk memahami situasi dan mengumpulkan nyawa.
"Aku tidak ingat tinggal di mana. Apa kau tak tahu siapa aku?"
Orang gila ini amnesia!?
"Hei cepat katakan kau butuh uang berapa," Seol akhirnya menyerah, ia pun segera mengeluarkan dompetnya. Namun, uang yang tedapat di dalam dompetnya tidaklah seberapa. Tentu, setelah baru dipecat ia tidak akan sudi mengeluarkan semua uang yang ia punya untuk orang sinting ini. Apa jika dia macam-macam atau bahkan mengancam akan membunuhku, lebih baik aku mati saja di tangan orang ini?
"Ah sial, uangku tidak cukup untuk membayar maumu." Ia mendecih pada akhirnya. "Apa maumu? Kau tidak bisa mengancamku, bunuh saja aku!"
Pria itu tidak menjawab. Dia sedari tadi hanya diam dan melihat Seol seperti beruang besar yang mengamuk karena kelaparan. Pria itu terlihat seperti anak bayi yang tidak mengerti apapun. Dan kepala Seol semakin terasa berat melihatnya.
"Pergilah, aku sedang lelah dengan hidupku." Bisik Seol pelan. Tak mengerti apa mau pria itu, jika dia bukan datang untuk mencuri atau pun membunuhnya, tidak bisakah dia pergi? Dia ingin sekali menendang orang ini, sungguh. Tapi dia tidak bisa. Tenaganya tadi sudah menghilang, energinya sudah cukup terkuras sejak dia mengawali hari ini.
"Tunggu, apa kau gelandangan?"
"Aku tidak tahu harus kemana," Pria itu menjawab pelan, cara berbicaranya seperti anak kecil, lalu ia mengetuk kepalanya dengan tangan. "Aku lupa apa yang terjadi, tapi aku tiba-tiba terbangun di sini. Sungguh." Dia diam sejenak, seperti ada sebuah suara yang mengitari kepalanya.
Seol memandangnya lelah. Sekarang ia bahkan tidak memiliki kekuatan lagi hanya untuk memberi tatapan kebencian. Rasa was was masih menyelimutinya, tapi dia tidak bisa membuang tenaganya secara cuma-cuma. Aku akan menendang masa depannya hanya jika dia mulai menyentuhku. Hanya itu rencana terakhirnya saat ini.
"Jadi ap--"
"Kookie!" Seru pria itu kegirangan, sembari beranjak berdiri, mensejajarkan diri dengan Seol. "Kookie!"
"Koo- apa?"
"Kookie, namaku Kookie."
Nama kekanakan macam apa itu!?
—//—
an.
halo semuanya!! akhirnya setelah sekian lama cerita ini kembali dipublish huhu *senang*
ceritanya agak berbeda ya dgn jimin, cerita ini (setelah prolog) sekitar 1000++ words, semoga ga bosen ya bacanya!^^
dan jalan ceritanya sangat berbeda dengan jimin!!
maaf, ya, kalau slow update, kasi aku semangat dengan vomments ya <3 love you guys💜
YOU ARE READING
Kookie (discontinued)
FanfictionSingkatnya begini; orang yang mengaku sebagai Kookie ini, tinggal di rumahku. Dan anehnya lagi, dia seperti anak kecil namun dengan fisik pria dewasa! Tapi apa kalian tahu, sebenarnya kisah kami tidak seringan itu? Kookie terlalu misterius, dan ked...
