Prologue : Curse of First Love

26 5 0
                                        

ALIVE Yoon sesaat berhenti berjalan, sibuk meniup-niup sambil menggesek kedua tangannya gusar seraya dijejalkan dalam saku mantel hangatnya. Malam musim dingin kali ini ekstrim sekali. Gila. Mengerikan membayangkan jika saja ia lupa tak membawa mantel, kali ini pasti sudah mati membeku mengenaskan dijalanan. Bahkan mungkin tewas. Gadis itu melangkah lagi, kali ini nyaris berlari, berharap bisa lebih cepat sampai di apartemennya. Ide bagus sebelum kedua kakinya ikut membeku seperti kedua tangannya. Hampir seluruh pertokoan yang dilewatinnya memutar instrumen musik klasik yang mau tak mau membuat kedua kakinya otomatis berjalan lambat. Musik klasik itu kelemahannya. Mendengarnya saja sudah membuat dirinya nyaman. Sedetik gadis itu melupakan dingin yang sejak tadi menjalar ditubuhnya. Alam bawah sadarnya lebih memilih pulang dengan ritme lambat sambil mendengarkan musik di sekitarnya. Sialan memang, mungkin tiba di apartemen dengan kaki nyaris beku bisa jadi pengalaman bagus.

Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Secara naluriah Alive merogoh mencari-cari ponsel dalam tas selempangnya langsung menekan tombol dial tanpa melihat siapa yang menelepon.

"Ada apa?" Tukasnya cepat.

Gadis itu mengernyit kecil kala menyadari bahwa bibirnya dirasa perih. Ku ulangi. Sangat perih. Well, apa tadi ia lupa memakai lipbalm? Bagus sekali. Bibirnya pasti akan berdarah-darah dramatis. Menyenangkan sekali.

"Kau dimana?" Suara boriton menusuk indra pendengarannya. Alive menghembuskan nafas berat seketika tahu siapa yang menelepon, asap dingin mengepul keluar dari dalam mulutnya. "I'm on my way."

"Cepat sampai, Cokelat panasnya sebentar lagi dingin." Suara berat itu lagi-lagi mendominasi telinganya. Sesaat membuatnya merinding. Kenapa bisa laki-laki yang dianugerahi suara seperti itu justru seseorang yang biasa saja?

"Sepuluh menit lagi, Tunggu aku." Alive buru-buru kembali berjalan cepat. Kali ini darurat. Lain waktu saja menikmati musik klasiknya. Oke, semua orang tahu dia ceroboh. Tapi kali ini jangan salahkan dirinya. Salahkan orang yang meletakkan tas ransel sembarangan di tengah trotoar hingga nyaris membuatnya jatuh terjungkal di aspal yang diselimuti es. "Awh!" Teriaknya tertahan.

"Kenapa berteriak? Jatuh ya? Kenapa ceroboh sekali sih, kau itu sudah tua tapi tetap saja seperti anak kecil!" Cecar seorang diseberang telepon. Sial. Ternyata ia belum mematikan panggilannya ya? Duh, bisa dikatai sampai mampus setibanya di apartemen nanti. "Bukan salahku! Salahkan orang tolol yang meletakkan tas sembarangan di tengah jalan!" Mencoba membela diri tak berefek banyak rupanya, Alive mendengar seseorang menghembuskan nafas panjang. Ia yakin pasti laki-laki itu sedang memijit batang hidungnya dan siap mengomel lagi, lihat saja. Satu.. dua..tig-

"Hati-hati," Katanya, Alive nyaris terjungkal betulan. Seseorang diseberang telepon yakin itu dia? Bukan orang lain? Duh, kepalanya terbentur meja ya? Biasanya pasti ia akan dihujani kata-kata kasar, mengatainya perusak benda, ceroboh, nenek lampir, trouble maker, atau-

"Dan aku merindukanmu."

Demi Tuhan, Apa lagi ini? Siapa saja tolong selamatkan jantungnya.

***

Author Note :

Gatau deh bakal suka apa enggak. But I hope you like it. Serius semoga suka, anyway yang mau ngasih masukan silahkan ^.^
Saya ngga akan maksa ngasih vote kok :)
See u soon!! #lambailambai

kaleidoscope.Stories to obsess over. Discover now