1. Pertemuan

211 16 37
                                        

"Yah... Kita nggak sekelas Del." senyum Reta seketika menghilang dari bibirnya.

Matanya membaca kembali daftar siswa kelas XI IPS 2. Tali hasilnya tetap nihil, namanya tidak ditemukan.

"Yaudah, ayo kita cari kelas lo dulu," ajak Adellan.

Adellan dan Reta berjalan bersama di koridor yang menuju ke kelas XI IPS 3. Sampai didepan kelas XI IPS 3, Reta langsung menghampiri jendela yang terpampang nama siswa kelas tersebut.

"Re--ta-- Se--fa--lopy," eja Reta.

"Masak gue cuma masuk kelas IPS 3," gerutu Reta.

"Gapapa kali Ret, yang penting lo naik kelas, makannya besok belajar yang lebih rajin lagi," hibur Adellan.

"Yaudah deh, gue ke dalam dulu, bentar lagi masuk." Reta memaksakan senyumnya lalu masuk kedalam kelasnya.

Didalam kelas Reta sudah tidak menemukan kursi yang kosong lagi, kecuali kursi kedua dari belakang didekat jendela kelas.

Reta menghempaskan bokongnya pada kursi kayu yang masih kosong tersebut. Ia menghela nafas berat, lalu mendaratkan kelalanya diatas meja.

Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Setelah guru mata pelajaran pertama sekaligus menjabat sebagai wali kelas XI IPS 3 masuk kedalam kelas, Reta langsung menegakkan tubuhnya.

"Selamat pagi anak-anak," sapa Bu Donna.

"Selamat pagi juga bu," jawab seluruh siswa serempak.

"Pada tahun ajaran baru kali ini, saya yang akan menjadi wali kelas kalian. Dan saya juga yang mengampu pelajaran Geografi pada kelas ini. Sebelum saya memulai pelajaran pada pagi hari ini, saya akan memberikan sedikit pembinaan pada kalian," tutur Bu Donna.

Tok... Tok... Tok... Seorang siswa laki-laki mengetuk pintu kelas IPS 3. Seragam yang dikenakannya tidak dimasukkan secara sempurna, dasi yang seharusnya bertengger di lehernya masih bergelantungan di genggamannya. Napasnya memburu seolah akan kehabisan oksigen.

"Genta, kenapa kamu terlambat?" tanya Bu Donna yang sepertinya telah mengenal cowok itu.

"Maaf bu... Saya tadi--nyuci mobil-- om dulu," jawab cowok bernama Genta tersebut dengan terputus-putus karena senggalan napasnya.

"Yasudah, kamu cari tempat yang kosong," titah Bu Donna.

Bu Donna memang bukan guru yang killer, beliau tipe orang yang ramah, dan pemaaf. Hal tersebut kemungkinan karena usia Bu Donna yang relatif muda, jadi dapat memaklumi persoalan anak muda.

Genta langsung berjalan tanpa menoleh, dia berjalan terus ke bagian belakang kelas hingga berhenti di sisi bangku yang ditempati Reta.

"Bu," panggil Genta.

"Ada apa lagi Genta?" tanya Bu Donna semakin geram.

"Ada penyusup disini bu, Genta belum pernah melihat dia sebelumnya. Dia pasti menyusup," jawab Genta dengan polosnya, yang disambut dengan tertawaan teman sekelasnya.

"Genta, kamu sudah kelas sebelas, jadi kamu punya beberapa teman baru. Dia teman baru kamu, bukan penyusup." Bu Donna menjelaskan dengan sabar, karena bakal panjang ceritanya kalau tidak sabar menghadapi Genta.

"Tapi bu, Genta sudah pesan bangku ini, tidak ada satupun yang boleh menempatinya."

"Genta, kamu duduk di samping Nicho saja," saran Bu Donna dengan kesabaran tingkat dewa.

"Tapi Genta pengennya disini bu."

"Yasudah, kamu duduk disampingnya saja."

"Genta beneran boleh duduk disamping anak perempuan bu?" tanya Genta memastikan.

Bukan Pacar BiasaStories to obsess over. Discover now