01.3

102 6 0
                                        

Romania, 18 Maret 1975

Pukul 01:05 AM.

Pagi ini hujan turun sangat deras dan berangin, membuat orang-orang yang sedang tidur menjadi semakin terlelap dengan mimpi-mimpi mereka.

Seorang pria muda berusia dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus sedang duduk menonton televisi acara kesukaannya, ia melirik jam sekilas yang bertengger diatas meja, entah rencana apa yang sedang dibuatnya iapun beranjak dari kursi disertai senyum piciknya.

Pria tersebut mengeluarkan pistol dari saku celananya yang sudah ia simpan sejak sore tadi.

Ia berjalan perlahan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, menuju lantai atas.

Membuka pintu yang satu ke yang lain untuk membunuh mereka semua yang sedang tertidur lelap.

"AAAAAAAA!!!" jerit seorang gadis kecil.

Perugia, 9 Maret 1987

Marry terus bersih keras membujuk suaminya untuk pindah rumah ke Roma. Entah alasan apa yang membuatnya ingin pindah rumah, padahal mereka belum lama menempati rumah yang mereka huni sekarang ini.

"Ayolah, aku ingin mengganti suasana." bujuk Marry memeluk Argoz dari belakang.

Argoz melepas pelukan Marry ia berganti menghadap istri tersayangnya itu, "Bukankah kita baru saja pindah setahun yang lalu?"

"Kumohon." pinta Marry memasang wajah memelas.

Kening Argoz mengerut, wajahnya tampak berpikir sejenak, "Ok, kita akan pindah minggu depan. Aku akan mengurus surat-suratnya." Argoz mengalah, senyum mengembang di wajahnya.

"Benarkah Dad?, kita akan pindah?!" girang Missi anak bungsu dari Marry dan Argoz yang baru menginjak usia lima tahun.

"Aku rasa Luna akan sulit menemukan teman baru." olok Marcell yang sedang bermain video game pada adik keduanya yang sangat suka membaca novel.

Luna melirik Marcell galak, "Aku mendengarmu Marcell."

"Dasar kutu buku!" ledek Marcell.

Luna yang kesal beranjak dari duduknya, ia meninggalkan kakaknya sendirian di ruang tamu. Selalu seperti itu.

Romania, 17 Maret 1987

Pukul 05:00 PM.

Missi berdiri menempelkan tubuhnya kekursi kemudi didepannya, "Dad, rumah kita seperti apa?" tanyanya ingin tahu.

"Duduklah dengan benar sayang." titah Argoz mengintip putri kecilnya dari kaca spion.

Missi tidak menghiraukan nasehat dadynya, ia malah semakin memajukan tubuhnya hingga pipinya menempel dipipi Argoz, "Warna rumahnya seperti apa?" tanya Missi lagi, pipinya tampak berwarna pink dan terlihat lucu sekali.

Marcell yang kesal dengan tingkah adiknya yang mengganggu, menarik baju Missi untuk segera duduk, "Duduk!, pengganggu!"

Alis Missi tertaut, "Diam kau!, aku sedang berbicara dengan dady, bukan kau!" bentak Missi kesal.

The WerewolfOnde histórias criam vida. Descubra agora