PROLOG

110 7 1
                                        

Jakarta, 24 Desember 2018

Rabu 08.30 WIB

"Kakaaaaakkkkkk!!!! Bangun ayooook sudah siang lupa kau kalau hari ini sudah janji mau datang?"

"Haduh bundaaa, aku masih ngantuk sumpah."

"Ada yah jejaka umur 27 tahun masih saja tidur jam segini astagaaaa!!! Ayok cepat bangun hari sudah siang nanti kita terlambat!"

"Iyaa iyaaa bundaaa."

"Kopimu sudah ada di meja, sarapanmu juga sudah. Baju semuanya sudah lengkap ayok sekarang lekas mandi bunda mau siap siapkan semuanya. Ingat ini hari penting."

Begitulah bunda, cerewet nian namun tetap saja sayang dan tetap perhatian kepada anaknya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Begitulah bunda, cerewet nian namun tetap saja sayang dan tetap perhatian kepada anaknya. Setelah nyawaku benar sudah terkumpul, segera ku bergegas mandi.

Dengan sigap segera aku santap roti sandwich serta kopi hitam Aceh khas buatan Bunda. Lagaknya memang aku selalu menikmati menu sarapan simple itu apaalagi kopi buatan bunda memang tak ada yang bisa mengalahkan, masalahnya adalah aku diburu waktu dan harus segera berdandan agar bunda tidak semakin meledak ledak.

Rabu 09.00 WIB

Tatkala aku sibuk dengan setelanku, bunda masuk ke kamarku dan berusaha membatuku berdandan agar terlihat makin keren dan makin cakep

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Tatkala aku sibuk dengan setelanku, bunda masuk ke kamarku dan berusaha membatuku berdandan agar terlihat makin keren dan makin cakep.

"Kak, kamu sudah dewasa ya."

"Sudah 27 tahun bunda."

"Bunda selalu bangga denganmu, ayah juga pasti bangga denganmu di surga sana."

"Pasti bunda, terima kasih sudah bimbing Reza sampai menjadi seperti ini."

"Sama sama kak."

"Bunda?"

"Iya?"

"Apa betul hari ini adalah hari bahagia kita?"

"Iyaaa kak ini hari bahagia untuk kita semua, ingat kata ayahmu tak? Semua pasti memiliki waktunya sendiri sendiri. Berjalanlah kedepan kak, bunda tidak pernah meninggalkanmu sendri. Ikhlaskan dan syukuri ya kak?"

Sebuah anggukan ku berikan. Entahlah, percakapan yang tergolong singkat tadi betul betul mampu menggetarkan hati dan jiwaku. Aku tak paham dan masih kacau dengan diriku namun aku tetap bisa tenang dan harus bahagia seperti yang bunda bilang.

Perang batin itu kembali dimulai! Tapi aku harus tenang karena aku sudah berusaha sejauh ini kan? Baiklah lupakan!

Akhirnya kami berangkat.......

Forget JakartaWhere stories live. Discover now