"Putriiii, ini buku lo ketinggalan,"
Suara teriakan itu teredam di antara kerumunan murid yang saat ini berjalan keluar sekolah. Sang pemanggil pun sepertinya menyadari itu. Ia kemudian berlari mengejar temannya sambil terus meneriaki namanya.
Gadis dengan nama lengkap Arletta Fiolina Sechan itu terus berlari. Rambutnya yang tidak terikat ikut bergoyang sesuai ritme larinya. Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan dari dahinya. Gadis itu menjadi perhatian di antara kerumunan siswa.
"Putri, tungguu," Arletta terus meneriaki nama temannya. Ia kini sudah berada di lapangan upacara. Arletta berhenti sejenak. Gadis itu menarik nafas, sepertinya ia sudah kelelahan. Matanya meneliti ke seluruh koridor. Saat matanya melihat koridor menuju gerbang, ia kembali berlari.
"Putrii,"
Nama itu kembali diucapkan oleh Arletta. Kakinya sudah sangat kelelahan. Seragam yang dikenakannya pun sudah basah oleh keringat.
"Teraloka Putri Prameswaraa," Dengan sisa tenaga yang ia punya, Arletta meneriaki nama lengkap temannya. Beberapa murid yang lewat menjadi menatapnya. Mereka merasa ini sangat berlebihan, padahal hanya mengembalikan buku saja.
Wanita yang saat ini mengenakan blazer berwarna maroon berhenti berjalan. Ia merasa namanya dipanggil oleh seseorang. Kemudian, wanita itu membalikkan badannya dan menemukan temannya dalam keadaan memalukan.
"Ya ampun, Ar, lo habis ngapain?" Ternyata wanita itu adalah Putri, teman Arletta. Wanita itu kemudian berjalan mendekati temannya. Ia membawa Arletta untuk duduk di halte.
Putri kemudian mengeluarkan beberapa lembar tisu dari tasnya. Selain itu, ia juga memberikan Arletta minum. Sungguh malang nasib sahabatnya ini, berlari dari lantai tiga hanya untuk mengembalikkan buku.
Sebenarnya, mereka menduduki tahun terakhir di SMA dan kelasnya berada di lantai satu. Namun, karena ujian semester satu, mereka jadi menempati kelas di lantai tiga.
"Lo susah banget sih dipanggilnya," sambil meminum air yang diberikan Putri, Arletta berbicara. "Gue lari dari lantai tiga sampe bawah sambil teriak-teriak nama lo," gerutu Arletta.
Putri yang mendengar keluhan sahabatnya malah terkekeh. Ia kemudian membantu Arletta mengusap keringat yang bercucuran di dahi temannya itu. "Maaf, kan sekolahnya ramai banget. Jadi, suara lo gak kedengeran, lagipula kenapa gak telepon aja?"
Arletta langsung mengacungkan jarinya membentuk tanda peace. Ia tersadar bahwa baru saja melakukan hal bodoh. "Oiya, ya, gue bego banget sih," ucapnya sambil menepuk-nepuk kepalanya yang tidak bersalah.
"Makanya kalau mau ngelakuin sesuatu dipikir dulu. Makasih ya bukunya, gue jadi ngerepotin lo banget," Putri mengambil buku yang diberikan oleh Arletta lalu memasukannya ke dalam tas.
Mereka masih duduk di halte yang berada di depan sekolahnya. Keadaan sekolah sudah sepi. Hal ini dikarenakan tidak ada kegiatan ekskul yang dilakukan di minggu ujian semester sehingga para murid langsung berhamburan pulang ketika bel berbunyi.
"Ar, gue pulang ya,"
Putri merapihkan barang-barang yang tadi sempat dikeluarkan. Gadis dengan rambut hitam itu juga menggendong tasnya dan berdiri. Namun, karena tidak ada jawaban dari temannya, ia berkata lagi.
"Ar, gue pulang duluan ya. Gapapa, kan?" ucap Putri sekali lagi sambil memegang bahu Arletta.
Arletta baru tersadar saat Putri memegang bahunya. Sekalipun begitu, matanya tidak lepas dari seorang lelaki yang saat ini berjalan keluar dari sekolah. Pandangannya terus mengikuti sampai lelaki itu menyeberangi jalan dan melangkah menuju suatu tempat yang tidak diketahuinya.
YOU ARE READING
Arletta
Teen FictionArletta suka menyendiri. Gadis itu tidak mempunyai banyak teman. Hanya beberapa orang yang mengenalnya. Jika ada yang bertanya siapa pemain futsal paling ganteng di SMA Nusantara, sudah pasti jawabannya Arka. Namun, karena Ia lebih sering menghabisk...
