Berdiri di depan sekolah menunggu hujan mereda.
Aku melihat seorang laki-laki di seberang sana, sedang menutup matanya dan kelihatannya sedang menikmati hujan yang jatuh.
Kata temanku, laki-laki di seberang sana adalah Gathan. Salah satu siswa dari sekolah yang berada tak jauh dari sekolahku.
Keasyikan melihat dirinya, aku sampai tertangkap basah olehnya.
Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain, tapi aku melihat dari sudut mataku, laki-laki itu berjalan menembus hujan menuju ke arahku.
Aku berharap pada Tuhan agar ia tak menghampiriku.
"Sedang apa?"
Ah, kini ia justru melihatku dan malah berdiri di sampingku.
Aku menggeleng pelan.
"Kenapa menggeleng? Aku kan tanya kamu sedang apa?"
"Ini, hm, nunggu, hujan reda."
Ia mengangguk.
Syukurlah! Aku berharap hujan segera reda agar aku bisa segera terlepas dari Gathan.
"Namaku Gathan." Ia mengulurkan tangannya dengan senyuman manisnya.
Aku bersumpah, Gathan sangat manis.
"Nggak nanya."
Perlahan, senyum Gathan memudar.
"Nggak nanya ya? Yaudah, kalau gitu, kamu harus tanya."
"Tanya apa?"
"Namaku."
"Namamu?"
Ia mengangguk.
"Kan kamu udah bilang kalau namamu Gathan."
"Kalau gitu, kamu tetap harus tanya."
"Kenapa?"
"Biar sah."
"Apanya?"
"Kenalannya."
"Harus?"
"Iya."
"Kalau nggak mau?"
"Aku yang nanya."
"Nanya apa?"
"Namamu."
"Namaku Na-"
"Nad, kan?"
"Tau dari mana?"
"Itu, nametag yang ada di seragammu."
Aku tersenyum tipis.
"Eh, udah reda, Nad! Ayo pulang!"
Ia menarik tanganku lalu menyebrang untuk mengambil motornya.
"Aku pulang sendiri aja."
"Tapi kamu harus naik Gace dulu."
Aku menaikkan alisku, "Gace?"
"Itu nama motorku, Gace. Gathan Kece."
"Sialan!"
Aku menyembunyikan tawaku.
Sialan, Gathan berhasil membuatku tertawa.
-Nad
YOU ARE READING
Gathan
Teen FictionSengaja kutulis lembaran-lembaran ini dengan tinta biru, kesukaanmu. Sengaja kusebut selalu namamu, agar kau tahu bahwa aku selalu merindukanmu. Sengaja kuciptakan cerita ini agar semua tahu bahwa sesederhana itu kisah cinta kita. Sesederhana kopi y...
