1. Ardya

2.3K 108 60
                                        

Tak pernah ku kira cinta seperti ini, cinta membuat diriku menjadi pengkhianat, dan cinta membuat ku gundah memilih mana yang pantas untuk dihormati.

Sedari dulu aku tidak pernah menyimpan rasa untuknya, namun tak pernah kuduga ia mampu merobohkan dinding hati yang telah lama ku kunci untuk pria manapun. Bagiku ia hanya teman baik yang senantiasa bersedia mendengar keluh kesah walau telah berjuta kata yang telah ku keluarkan. Mungkin telinganya sudah penuh dengan berjuta kata klise dariku.
Anehnya, dia tak pernah menganggapi atau sekedar memberi isyarat bahwa dia paham apa yang kumaksud. Terkadang, kukesal dengan sifat acuh tak acuhnya. Andai saja ia sedikit menghilangkan sifat buruknya itu, mungkin aku merasa lebih nyaman saat bercengkrama bersamanya.

Di sisi lain, dia seorang yang lembut, penyayang, dan pekerja keras. Maklum, sejak kecil ia sudah harus bisa mengemban kerasnya hidup, membantu sang bunda memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berdagang kue kering buatan tangan sang bunda karena ayahnya telah meninggal.

Amuknya menjadi jika ia tahu jika keluarganya dihina, terutama ibu. Ia bersedia melakukan apa saja asal orang yang dikasihinya itu bahagia. Itulah salah satu sifatnya yang kusukai. Ya, dialah Ardya. Laki-laki perawakan tegap, tegas, tambun itu harus memperjuangkan hidupnya.

Dari segi material, memang dia tidak punya apa-apa. Untuk makan saja dia bersusah payah mendapatkan lauk. Bahkan Ardya serta sang bunda juga pernah tidak makan selama 2 hari. Begitu berat beban yang harus dipikul seorang anak berumur 9 tahun. Dan kini, Ardya dan aku berumur 16 tahun, banyak kisah yang telah kita lalui baik itu suka maupun duka.

Singkat cerita, aku dan Ardya mempunyai kegemaran yang sama, yaitu menghabiskan waktu untuk melihat senja di pinggir pantai. Ditemani gempuran ombak dan angin sepoi, kami terlarut dalam keheningan sejenak.


Kucoba mengajak Ardya bermain pasir putih yang menghampar luas.

Dengan langkah gontai, Ardya menghampiriku yang sedari tadi menikmati halusnya pasir dengan tanganku. Berniat melempar pasir ke tubuh Ardya, namun lemparanku salah sasaran. Butiran pasir yang ku lempar malah mengenai mata Ardya. Seketika Ardya menundukkan badan sekaligus mengusap-usap matanya. Aku langsung berlari lalu membantu Ardya membersihkan sisa-sisa pasir dimatanya.

Saat ku lihat wajah tampan hampir tidak ada cela, dadaku berdegup cukup kencang tak seperti biasanya. Bersamaan dengan itu Ardya menatap mataku begitu lembut. Kami berdua terhanyut dalam rasa yang tidak bisa dimengerti.

Minta maaf, hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengakui kesalahanku. Ardya lantas mengangguk lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan aku. Tanpa berpikir panjang, ku susul Ardya menggunakan sepeda tua milik bapak. Jalan berkelok ku lalui, sampai akhirnya aku bertemu Ardya berjalan pulang ke rumahnya.

"Em... Ardya sekali lagi aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku gak bermaksud melukaimu."

"Ya gak apa." jawabnya singkat

"Bagaimana kalau sekarang aku antar kamu sampai ke depan rumah?" tawarku

"Rumah siapa dulu? Rumahmu atau rumahku? Haha..."

"Ihh Ardya. Ya rumah kamulah, masa rumahku."

"Ya mungkin aja tho kan kamu lagi sendirian gak ada orangtuamu ntar bisa tak temenin gitu sekali-kali rum..."

"Modusnya kumat udah ah ayo pulang mau maghrib nih," rengekku pada Ardya

"Iya adek cantik. Kamu lucu deh kalau lagi ngambek jadi gemes. Ayo kakak anter," ujar Ardya sambil mencubit pipiku

Ardya mengambil alih kemudi sepeda dan kami pun melanjutkan perjalanan. Hamparan kebun teh menyejukkan mata siapapun yang melihatnya, begitu juga dengan kami.

"Hati-hati rum... Pegangan pinggangku gih biar gak jatuh. Ntar kalau kamu jatuh siapa yang mau angkat. Kamu kan berat,"

Mendengar ejekan itu, hatiku tak terima tapi di sisi lain aku menyadari ada benarnya juga. Hihi...

"Tuh kan mulai lagi. Ardya bisa gak sih sehari aja kamu gak ngeselin?" jawabku ketus

"Hmmm bisa gak ya? Hahaha,"

"Malah ketawa."

Obrolan itu berlanjut sampai kami tiba di depan rumah kontrakan sederhana, rumah Ardya. Aku pun berpamitan dengan ibu Ardya dan pulang ke rumah.

Percakapanku dengan Ardya masih terngiang, dan jika mengingatnya cukup membuat ku salah tingkah.






























Hai... Ini cerita pertamaku... Hmm maaf sebelumnya kalau ada kata-kata yang kurang tepat tolong dimaafkan. Enaknya dilanjutin apa gak? Mohon saran dan vote nya ya teman-teman.
Makasih.

Cinta Terakhir Sang Pengabdi Negara Stories to obsess over. Discover now