1. Tawaran

23 5 0
                                        

Kehidupan seseorang tidak akan bisa diukur dari harta dan kekuasaan. Kesempurnaan tidak dapat didapatkan oleh manusia. Kelas sosial menjadi pembeda di antara masyarakat.

Kaum borjuis yang di anggap paling enak dan nyaman hidupnya, tak selamanya yang mereka tunjukkan itu semua kebenaran. Ada sisi negatif dari kehidupan mewah mereka. Bergelimang harta membuat mereka buta akan kemanusiaan dan persaingan di dunia kotor seperti bisnis ilegal membuat mereka rela mengabiskan uangnya untuk menghabisi nyawa rivalnya dengan membayar pembunuh bayaran.

"Kejar dan bunuh dia. Dia sudah berkhianat denganku jangan sampai semua bisnisku hancur gara-gara dia. SEKA SIALAN!" Ucap Alfonso, ketua geng mafia tersohor, Dollar$ dari sebuah ruangan.

"As you wish, Sir" jawab Wick anak buah Alfonso.

Wick segera pergi menuju tempat keberadaan Seka saat ini. Sudah 2 tahun sejak 'resign'-nya Seka dari Dollar$. Seka pergi saat dalam misi pembunuhan rival Alfonso. Seka enggan mebunuh musuh bebuyutan Alfonso, karena musuh Alfonso tidak lain adalah ayahnya sendiri walaupun diketahui hubungan Seka dan ayahnya tidak baik. Bhima Shakti Kamma. Pemilik KAMMA CORPORATION.

Seka adalah nama samaran selama ia menjadi anggota Dollar$. Nama aslinya adalah Rajendra Abiseka Kamma. Sekarang Seka a.k.a Rajendra menjabat sebagai CEO di cabang perusahaan keluarganya yang bertempat di Seattle.

Wick sudah berada di depan gedung KAMMA CO. Ia mendekati mobil Audi hitam yang memang mobil Rajendra dan menempelkan bom rakitan pada kolong mobilnya.

"Seka, Kau harus mati." Wick pergi meninggalkan TKP.

Tidak lama kemudian Rajendra keluar dari gedung tersebut dan masuk ke mobil Audi hitam tersebut.

"Sean, Segera matikan bom yang ada di kolong mobil ini"

"Bom?! Tuan"

"Anak buah Alfonso, Wick yang melakukannya. Cepat"

"Baik tuan"

Rajendra segera mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menelepon seseorang.

"Wick is always be weak"

"Siala..."

Rajendra menutup telepon genggamnya sebelum penerima di sebrang sana selesai menjawab.

'kau tidak akan pernah bisa memaksaku untuk kembali, Alfonso.' Ucap Rajendra dalam hati.
_

______________________________________

"Apa dokter?, Adik saya sakit Kanker kelenjar getah bening stadium akhir?. Tidak...tidak mungkin dokter" Kahiyang masih tidak percaya dengan vonis dokter yang menyatakan bahwa adik satu-satunya sakit kanker stadium akhir.

"Pengobatan satu-satunya adalah operasi pengangkatan sel kanker tersebut. Saya harap Adik anda bisa cepat di operasi, saya cemas jika lama-lama sel kanker tersebut semakin menyebar dan mengakibatkan pada nyawa adik anda."

"Mmm, kalau begitu terimakasih dokter. Selamat siang."

Kahiyang keluar dari ruangan dokter dengan tatapan kosong. Keadaan ekonomi keluarganya yang kurang baik membuat Kahiyang kebingungan dalam membiayai operasi Zara,adiknya. Ditengah lamunannya Kahiyang menabrak seseorang.

Brukk...

"Maaf tuan". Kahiyang menelisik wajah orang tersebut. Sepertinya orang tersebut bukan orang biasa, terlihat dari dua pengawal yang ada dibelakangnya.

"Bukan salahmu" Orang tersebut langsung pergi. Kahiyang menemukan kartu nama yang tergeletak di lantai mungkin jatuh dari saku orang yang tadi.

 Kahiyang menemukan kartu nama yang tergeletak di lantai mungkin jatuh dari saku orang yang tadi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"KAMMA CORPORATION, seperti tidak asing. Ah, sudahlah lebih baik aku segera ke ruangan rawat Zara kasihan ibuku menjaga Zara sendirian."

Kahiyang segera pergi menuju bangsal tempat adiknya di rawat. Ruang nomor 310. Sepanjang jalan Kahiyang masih tetap memikirkan biaya yang harus di keluarkan untuk operasi itu. Uang darimana akan ia dapatkan untuk biaya adiknya tersebut.

"Maaf ya aku lama" saat kahiyang masuk kedalam ruangan terlihat adiknya sedang di suapi buah oleh ibunya.

"Tidak apa-apa,Yang. Tadi kata dokter apa?"

"Tidak apa-apa bu, nggak ada yang perlu dikahwatirkan. Zara gimana keadaannya sekarang, sudah enakan belum?" Zara mengangguk sambil tersenyum. Ibu menarik aku pelan menuju keluar ruangan.

"Kamu jujur sama Ibu sekarang. Ibu tau, ada yang kamu sembunyikan dari ibu."

"Zara terkena kanker kelenjar getah bening stadium akhir. Zara harus segera di Operasi kalau tidak Zara bisa meninggal" Sartika, ibu Kahiyang hampir tumbang mendengar ucapan anak sulungnya itu.

"Kan...kanker, Yang. Operasi? Bagaimana caranya kita mendapatkan uang,Yang. Dari gaji ayahmu dan gaji-mu saja tidak dapat menutupi kebutuhan kita sehari-hari apalagi untuk membyar operasi yang pasti sangat mahal itu?"

"Kahiyang akan coba kasbon di kantor."

Sartika hanya menganggukkan kepala dam berlalu kembali masuk ke bangsal tempat Zara dirawat. Kahiyang cemas ia akan mendapatkan uang kasbon itu atau tidak. Kahiyang meremas rambutnya frustasi.

"Kau bisa mendapatkan uang itu. Dengan syarat kau bekerjasama denganku"

Kahiyang menatap laki-laki berkacamata hitam itu. Bukan, pria ini bukan yang ditabraknya tadi.

"Apa maksud anda Tuan?"

"Kau butuh uang untuk adikmu operasi bukan?. Kalau kau berminat datang ke gedung dua blok dari sini"

Pria berkacamata hitam itu langsung pergi meninggalkan Kahiyang. Kahiyang masih menimbang-nimbang tawaran pria tersebut.

Keesokan harinya Kahiyang pergi ke gedung yang disebutkan pria itu. Sekarang Kahiyang berada di ruangan pria yang ditemuinya kemarin.

'Alfonso Gregory'

Ucap Kahiyang dalam hati. Kahiyang berdoa, Semoga ia bisa mendapatkan uang itu.


-------------

Bam!. Welcome to my 2nd story yeay. Jadi aku akan mecoba menulis cerita CEO gemes yang sebenarnya sudah tersebar banyak di dunia wattpad ini. Maafin aja kalo ada typo. Kritik dan saran sangat diterima. Kalau kalau kalian kepo dengan Author amatir macam aku, kalian bisa follow Akun instagramku di @rhapsodyx, jangan lupa VOTE,SHARE dan COMMENT😘

-SPREAD LOVE, NOT HATE-
@hildaofff

Konsiliasi [ON HOLD]Stories to obsess over. Discover now