"Apa hal yang paling kamu takutin didunia ini?" tanya seorang anak laki-laki yang baru masuk sekolah menengah atas kepada gadis yang lebih muda darinya.
Gadis itu tampak diam beberapa saat. "Ada dua hal yang paling aku takuti didunia ini" gadis itu mengambil nafas panjang sebelum berkata lagi.
"Aku takut jika nilai ulangan mata pelajaran ipa ku turun, dan aku takut kehilangan kesempatan untuk melihat kakak tersenyum" ucap gadis itu seraya menampilkan senyum terbaik miliknya.
Anak laki-laki itu terkekeh gemas. Tangannya terulur mengacak asal rambut gadis itu yang terbang karena hembusan angin malam kota Semarang.
Laki-laki itu menarik tangannya "Kenapa kamu takut nilai ulangan ipa kamu turun?"
Gadis itu kembali menoleh "Aku takut ngecewain mama" Gadis itu menghela nafas "Mama dulu pernah cerita kalau ia ingin salah satu anaknya menjadi dokter, dan biar aku ingin mewujudkannya, karna aku tahu kakak enggak bakal mau untuk menjadi dokter mewujudkan cita-cita mama dulu"
Anak laki-laki itu tertegun. Ia berdeham sejenak "Lantas kenapa kamu takut kehilangan kesempatan buat lihat kakak tersenyum?"
Gadis itu meraih tangan kakaknya "Karna cuma kakak yang aku punya sekarang. Aku berharap kakak selalu tersenyum. Karena dengan melihat kakak tersenyum, aku seperti punya semangat baru untuk terus maju menjalani hidupku kedepan"
Untuk kedua kalinya laki-laki itu kembali tertegun atas jawaban yang baru diucapkan adiknya. Ia menatap manik mata gadis itu yang akan selalu dia rindukan.
"Boleh kakak minta sesuatu?" Ucapnya memecah keheningan malam.
Gadis itu mengangguk tanpa berfikir panjang. "Aku akan menuruti apa yang kakak minta"
Anak laki-laki itu menarik gadis itu kepelukannya "Kakak minta kamu jangan pernah tinggalin kakak, cuma kamu yang kakak punya"
Gadis itu tersentak kaget, ia membalas pelukan kakaknya "Iya aku janji, apapun yang terjadi aku enggak bakal ninggalin kakak"
Anak laki-laki itu tersenyum dan mengecup puncak kepala adik kesayangannya.
***
YOU ARE READING
Rafacha
Teen FictionDatang dan pergi. Itulah yang kita alami selama ini. Namun sejak ia datang, duniaku seakan berputar 180 derajat. Dia mengingatkanku kepada seseorang yang kepergiannya beberapa tahun lalu masih meninggalkan jejak luka baru dibenaku. Manik mata itu...
