Dear gummy-bear,
Selayang pandang, rupamu mencuri perhatianku seketika. Rambut, mata, hidung, semuanya milikmu; torehan Tuhan yang sempurna. Sebuah Mahakarya. Kau hadir bagai tetes embun pagi. Seakan-akan aku dahaga di gelap malam, dan kau kesejukan peretas temaram. Sayang, jarak tak inginkan kita bersua. Apa kau tahu? Aku melebur dalam penasaran tak berkesudahan, berusaha mengingat wajah dan namamu. Samar bayangmu mendadak nyata, ketika Facebook meruntuhkan gerbang tanda tanya.
Kini telah lahir pahlawan baru. Tanpa basa-basi menangkan hatiku. Pelipur lara, ksatria cinta. Menjadi pemenang tanpa harus berusaha. Gummy-bear, kau hadir bagai riak di lautan. Merengkuh asa akan mencinta. Sekejap bersamamu leburkan tanda tanya dan kau jawabnya. Angin yang mendayu, sampaikanlah salamku. Izinkan berpeluk dengan cintaku. Karena aku hanya mampu merengkuh kau dalam mimpi. Selapis jurang di depan kita takkan jadi rintangan karena kita bangun jembatan. Hubungkan aku sebagai awal, dan kamu sebagai akhir.
Apa kau masih ingat lentera di malam minggu yang kukira cahaya matahari? Rasanya jantungku ingin melompat dari tempatnya. Kamu tak tahu betapa sulitnya aku bernapas saat itu. Bulu kudukku meremang,aku menahan gemetar. Tapi semua luntur ketika melihat senyum itu lagi. Senyum yang bisa bangkitkan kupu-kupu yang menari dalam perutku. Mendengar suaramu, seperti oase di gurun pasir. Kau tahu, kan, betapa sulitnya aku berbicara bila dekat ragamu? Aku hanya bungkam. Sampai-sampai aku bisa mendengar detak jantungku yang berdetak liar. Setiap usai kuliah, aku menanti satu pesan di Facebook. Setiap malam, aku menunggu sms 'selamat tidur' darimu. Sampai-sampai, ayah gusar. Kata ayah, tagihan telepon membengkak gara-gara kupakai untuk internet. Tapi bukan salahmu, gummy-bear. Ini semua obsesiku.
Aku nggak akan pernah lupa akan kencan pertama kita. Khususnya untukku. Kamu traktir aku satu cup matcha tea latte. Lucunya uang kamu kurang. Selembar duit lima ribu kuberikan. Kita habiskan waktu di atas bianglala. Kau pakaikan jaketmu padaku dan aku masih ingat aroma maskulin itu. Lima menit pertama serasa setahun lamanya. Tapi aku tak peduli. Karena senyummu dan kerlingan matamu bertahan selamanya di memoriku.
Dari permen-kapas yang merindukanmu
YOU ARE READING
My Darkest Sunshine
RomanceSejak kepergian ibunda, Ambalika Flo menderita fobia terhadap cahaya matahari. Pertemuannya dengan Panji Basudewa, teman abangnya, membuka mata Flo akan indahnya jatuh cinta. Ketika cinta makin terjalin, sosok psikopat menghantui kehidupan Flo dan P...
