Ada kalanya kita seperti mati suri. Menjalani aneka kehidupan tanpa jiwa yang bebas. Seakan hidup hanya dipenuhi tujuan semu: yang tak jelas di mana letak kepuasannya. Entah siapa yang mengajari bahwa hidup adalah sebuah usaha mengejar prestise semata dan hanya untuk mendulang segala pujian duniawi.
Nikmat rasanya memiliki kebabasan. Sebebas burung yang hinggap di ranting pohon lalu terbang tinggi menyusul awan atau seleluasa singa "si raja hutan" merayu mangsanya untuk diburu. Mereka hidup sesukanya tanpa kepura-puraan. Sedangkan manusia, seringkali menyembunyikan dirinya yang sebenarnya sampai ia sendiri lupa mana sebenarnya ia yang asli.
Di lain tempat, aku merasakan hal yang sama. Menyongsong fajar yang terbit dengan keluh kesah, menyambut mentari terik dengan umpatan, menyilakan rembulan bergantung di langit tanpa keramahan. Pagi dan malam silih berganti. Urutan hari satu per satu tersinggahi. Keduabelas nama bulan sudah semua terlewati. Target demi target pencapaian yang terukir dalam selembar kertas dicoret satu demi satu. Bukan karena tercapai, justru karena target itu mesti diganti dengan yang lebih realistis.
Berjalan di rute hidup yang seperti ini sangat melelahkan. Nyaris tiada satu hal pun yang bisa menjadi penawar lelah. Aku terlalu didikte oleh standirasi hidup ideal manusia yang lupa, bahwa hidup bukan menyoal tentang masa depan semata, namun ada yang namanya masa lalu dan masa kini. Masa lalu adalah stimulan untuk masa kini. Masa kini adalah tentang rasa dan kenyamanan untuk masa depan yang ideal. Bukan ideal dari kacamata manusia, tapi dari penilaian Tuhan pencipta semesta.
Aku selama ini dibutakan. Dibutakan dari rembulan yang bukan hanya saja sebagai penanda malam tapi ia juga sebagai pengingat jika disepanjang hari, aku lupa untuk tersenyum. Aku juga bisa menemui fajar lalu berharap sambil berbisik kepadanya agar seharian penuh nanti akan ada sayap-sayap malaikat yang menyertai. Aku pun nanti bisa bertukar kisah dengan senja agar kita saling mengetahui cerita sepanjang hari. Ia memang tak cukup lama singgah, tapi jika cerita belum usai, kawannya yang satu langit dengannya yaitu bintang dapat juga memberikan nasihat yang bijak dari setiap cerita.
Hal itu semua yang bertahun-tahun luput dariku. Kesadaran ini memang sangat lambat datangnya. Tapi harusku syukuri agar mereka semua kelak tidak memusuhiku. Ku akan ingat hari ini sebagai awal langkah dari berjalan di rute hidup yang berbeda. Yang ada bahagia dari setiap harinya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Kisah Lama yang Tak Menua
RomanceAda hela dari napas-napas yang ku hembus. Alam yang memberi udara tuk dihirup, kau yang menampung aliran oksigen tuk dialirkan sampai ke otak. Hingga secepat kerjapan mata, hadirmu berganti dengan senduku. Sampai jumpa di bab baru sebuah kisah. Cuku...
