Mengisahkan tentang seorang pemuda yang takut akan masa lalunya. Seorang pemuda yang takut akan pilihannya. Seorang pemuda yang takut akan kehilangan untuk kedua kalinya, dan seorang pemuda yang terlalu takut untuk mempercayai orang lain.
Di sisi la...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pemuda berhoodie hitam itu menatap gadis kecil yang terkulai lemah di atas brangkar rumah sakit dengan tatapan nanar. Tangannya terkepal sehingga buku tangannya memutih saat ia sadar bahwa ia sudah lalai menjaga gadis kesayangannya itu.
Ia tak pernah tau kalau ternyata selama ini gadisnya itu ternyata terluka karenanya.
Mengingat bagaimana kondisi gadis itu saat tergeletak di lantai kotor dengan lebam di sekujur tubuhnya membuat ia merasa geram setengah mati, dan itu berhasil membuat giginya saling bergesekan saking emosinya.
Pemuda itu meringis ngilu saat melihat sejumlah luka, dan lebam yang menghiasi wajah, serta tubuh gadisnya. Sejumlah pertanyaan yang bermain di benaknya kini adalah, bagaimana gadisnya itu bisa diam saja, tanpa melawan meski disiksa sedemikianrupa? Kenapa gadis itu malah menyembunyikan semua ini darinya? Dan sejak kapan gadisnya itu mulai mendapatkan perlakuan tidak manusiawi tersebut?
Seharusnya, ia bisa mengetahui permasalahan ini lebih awal, supaya bisa mencegah kejadian agar tidak terjadi. Tetapi sayang, ia terlambat, benar-benar terlambat mengetahui semuanya. Sehingga, tak ada yang berhasil ia cegah.
Ia kemudian meraih tangan ringkih gadis yang sedang terbaring lemah, lalu mengecup punggung tangan itu lembut sebelum akhirnya menghela napas berat.
"Maaf..."
Hanya sepatah kata itu yang mampu keluar dari bibirnya, tanpa ada imbuhan lain. Sisanya, airmatanya yang bekerja. Ya, pemuda itu benar-benar menumpahkan airmata beserta isakan pilu demi gadis kesayangannya.
Ia merasa tak berguna.
Ia telah lalai menjaga gadis kesayangannya.
Ia juga tanpa sadar telah meletak nyawa gadis kesayangannya dalam bahaya yang tak bertepian.
Jika ia tak ingin melihat gadis kecil itu terus-menerus tersiksa, maka ia harus berani mengambil tindakan tegas yang tentunya dirasa baik, dan menguntungkan untuknya, juga untuk gadis kesayangannya itu.
Ia harus benar-benar pergi, menjauh, dan meninggalkan gadis itu sendirian agar tak lagi tersentuh oleh bahaya yang tak berpenghujung. Seluruh perasaannya harus dikesampingkan, demi keselamatan orang yang ia sayangi.
"Kamu baik-baik di sini, ya? Maaf, aku harus pergi."
Tepat ia selesai berujar, pemuda itu langsung saja mendaratkan kecupan hangatnya di dahi gadis yang masih terpejam di atas brankar rumah sakit itu dengan lembut. Setelah itu, ia menegakkan punggungnya, menghela napas beratnya untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya beranjak meninggalkan ruang rawat inap gadisnya.
Bagaikan disentak dengan keras, remaja yang sedang berbaring di atas kasur empuknya itu langsung membuka matanya lebar-lebar dengan napas yang terengah-engah.
Tangan kanannya ia angkat untuk mengelap keringat sebesar biji jagung yang bercucuran di dahi, wajah, dan lehernya. Mimpi buruk itu terus menghantuinya selama beberapa tahun belakangan, membuatnya tak pernah lagi bisa merasakan bagaimana indahnya tidur dengan nyenyak.
Lantas, ia melirikkan matanya ke arah jam digital yang ia taruh di nakas samping tempat tidur.
01:30 a.m.
"Damn you, nightmare."
∞∞∞
Yo, yo~ Kali ini saya hadir dengan cerita yang auranya sedikit lebih dark dari cerita-cerita saya yang sebelumnya. Sebenarnya ini kado kecil dari saya untuk kalian. Terima kasih untuk 60K followers💙 Semoga kalian suka! Jangan lupa beri dukungan berupa Vote, dan Comments ya!! Danke!