prolog

216 10 0
                                        

Teriakan dari lantai bawah rumahnya membuat Sabrina semakin terpojok. Yang sanggup ia lakukan hanya menangis memeluk kakinya di pojok kamarnya. Suara benda terlempar sangat memekakkan telinga. Suara ibunya yang merintih akibat tamparan yang suaranya juga terdengar hingga telinga Sabrina, ini sangat membuatnya muak.

Langkah gemetar Sabrina sedikit demi sedikit mencapai satu per satu anak tangga. Semakin memperjelas pemandangan yang mengharukan. "CUKUUUP!!" Ia berteriak meluapkan kemuakkannya. Ibunya terbelalak melihat anak semata wayangnya gemetar. Raut wajah penuh kerapuhan dan ketakutab yang tidak pernah Juli, Ibu Sabrina, pernah lihat.

Sabrina terduduk di salah satu anak tangga, lututnya lemas melihat luka lebam di sekujur tubuh ibunya, mesin penanak nasi yang sudah berada di lantai, sofa yang arahnya sudah tak beraturan, remot televisi yang hancur, handphone pecah yang tergeletak begitu saja di lantai. Ayahnya menatap tajam kepada Juli, kemudian kembali menghampiri Juli dan menyeretnya kasar kemudian dilempar kelantai, lalu menampar. "CUKUP, YAH!" teriak Sabrina sekali lagi yang membuat ayahnya menatap Sabrina lalu kembali menatap Juli. "Kalau bukan karena dia, anda tidak akan selamat hari ini!" Tutur Sarto-Ayah Sabrina-dengan penuh penekanan dan tangan yang menunjuk ke arah Sabrina berada. Dengan nafas yang ngos-ngosan, Sarto keluar dari rumah keluarganya diiringi dengan teriakan Juli, "saya minta cerai! Saya tidak kuat lagi!" Dan nampaknya tidak didengarkan oleh Sarto. Juli segera berlari ke tempat Sabrina berada, memeluknya dengan penuh perasaan dan ucapan-ucapan yang belum sempat terucapkan. "Kita ke kamarmu ya, nak?"

°°°

"Lo kenapa, Brin? Berantem lagi?" Tanya Farel ketika melihat kekasihnya terlihat kacau walau telah ditutupin sedikit riasan. "Temenin gue, ya?" Suaranya lirih sembari menunduk terasa sebulir air matanya jatuh. "Iya, lo naik dulu, nanti gue menyusul!" Ucap farel lembut.

Mereka berdua sedang di halaman belakang rumah Farel, dengan markas rahasia mereka sejak kecil yaitu rumah pohon buatan Ayah Farel.

Farel memanjat sedikit dan melihat mata yang dulunya terang menjadi meredup karena kesedihan sedang bergelantungan di sana. Farel ingin mengatakan sesuatu, namun ia tidak tega dengan keadaan Sabrina yang kacau. Farel tidak ingin membuat badai di dalam diri Sabrina semakin menjadi.

"Rel, lo nyembunyiin sesuatu?"

Deg.

"Enggak, mungkin perasaan lo aja. Mau cerita apa, Brin?"

"Mungkin ini bakal menjadi liburan terburuk gue, Rel. Maaf ya?" Pernyataan itu cukup membuat Farel bertanya-tanya. "Gue rasa, sejak lo meminta gue buat lebih dari sahabat, ada sesuatu dari dalam diri kita yang semakin jauh. Rel, ini bukan perasaan gue saja, gue yakin lo juga begitu." Kali ini Sabrina mencoba menatap lurus ke manik mata Farel, "Rel, lo sama gue semakin jauh walau jarak sebenarnya dekat. Ada yang membatasi gue buat membuka satu pintu yang tidak tahu itu pintu apa. Tapi yang jelas, setelah lo meminta gue pada saat itu juga gue semakin takut."

Farel tertegun. Bagaimana bisa Sabrina sadar pada sesuatu yang membuatnya tidak pernah terlelap kala tidur. "Rel, coba lo jujur ke gue tentang apa yang lo sembunyiin di balik pintu yang benar-benar lo kunci hingga gue putus asa buat mencari." Farel menelan ludahnya susah payah, mengatur kontrol emosi, dan degup di jantungnya. "Gue pacaran sama Alyssa."

Plak.

Tamparan itu adalah bukti nyata kekecewaan Sabrina. Dulu ada dua lelaki yang sangat berarti di hidupnya. Yaitu Ayahnya dan Farel. Sabrina kira mereka tidak akan berani menggoreskan luka pada hatinya.

SabrinaWhere stories live. Discover now