i | semu

243 35 16
                                        

Orang bilang aku ini cacat.

Namun, ini bukan bawaan dari lahir. Alkisah, enam belas tahun silam, seorang perawat baru tidak sengaja memotong jari tengahku, sehingga ia langsung dipecat pada hari pertamanya bekerja. Hanya lewat dua hari dari tanggal lahirku. Orangtuaku tidak menuntutnya ke pengadilan. Mereka membesarkanku apa adanya.

Aku hanya merasa sedih karena teman-temanku kerap kali mengacungkan jari tengah ke arahku. Sialan. Kami sering tawuran, walau aku tidak memiliki jari tengah. Dan kami tawuran, karena aku sakit hati mereka memamerkan sesuatu yang tidak kumiliki.

Kalian pasti berpikir aku ini korban penindasan yang tepat, padahal akulah pelakunya.

Aku punya korban tetap. Namanya Dono. Pertama kali aku bertemu dengannya, ia menunjuk jari tengahku dengan jari tengahnya sendiri. Itu jauh lebih mengesalkan dibanding yang dilakukan teman-temanku, sehingga aku menindasnya.

Lima bulan kemudian, Dono bunuh diri. Aku menghadiri pemakamannya, menaruh sebuket bunga bakung di atas pusaranya, dan mengacungkan jari tengahku ke arah batu nisannya.

Mampus.

Sehari setelahnya, ayah datang kepadaku untuk menanyakan beberapa pertanyaan.

"Sehat?"

"Sehat."

"Habis rokok berapa bungkus?"

"Enam."

"Besok tawur sama sekolah favorit itu, ya?"

"Tidak tau. Anaknya manja-manja. Saya sentil sikit saja sudah lari terbirit-birit."

Ayah melemparkan puntung rokoknya ke arah lututku. "Banyak gaya kau, Par."

"Maaf. Nanti kalau menang, saya kasih jari tengahnya."

"Janganlah. Entar kau dipenjara sama polisi-polisi itu. Ayah benci polisi, mereka banyak cakap saja. Nanti kau tak bisa makan rendang buatan emak lagi."

"Baik, Ayah."

Maka, keesokan harinya, aku memenangkan tawuran itu meski harus kehilangan atasan seragamku. Ibu langsung menghukumku semalaman di luar rumah.

Sehabis kemenangan besar dalam catatan kehidupanku, aku dikeluarkan dari sekolah. Bertambahlah murka ibuku. Kakak perempuanku memukul punggungku berkali-kali dengan gulungan majalah, seolah-olah itu akan membuatku kapok. Padahal tidak. Padahal, kalau diterima lagi di sekolah lain, aku mau tawuran karena aku merasa rindu一mengacungkan jari tengahku kepada musuhku. Teman dekatku semuanya diusir ketika hendak menjengukku, jadilah aku sendirian一menghitung jumlah cecak merayap di dinding sambil merokok. Dimarahi dan dipukul lagi. Serbasalah diriku.

Lalu, pada hari ke-179 semenjak jadi pengangguran, seorang wanita cantik masuk ke rumahku.

Ayah bekerja, ibu arisan entah di rumah siapa, dan kakak sedang kuliah. Jadi, kuterima saja tamu itu. Benar-benar, cantik bukan main. Rambutnya panjang, hitam sangat一tidak seperti rambut kakakku yang kemerahan di ujungnya一juga kulit putih terawat dan bibir semerah ceri. Ia mengenakan pakaian khas pekerja kantoran, blus putih yang dimasukkan ke dalam rok hitam selutut.

"Namamu Fara. Fara Suhendra, kan?"

Aku mengangguk. Dari mana ia tahu namaku?

"Namaku Siti. Ada yang ingin kutunjukkan padamu."

Wanita itu一alias Siti一menarik napas dan menahannya beberapa detik sebelum mengembuskannya.

"Lihat ini."

Siti mengacungkan jari telunjuk imajinernya. Aku bisa melihat wajahnya tembus dari sela-sela jari telunjuk dan manisnya.

Oh, jadi ini 'toh orang yang sudah membuatku cacat? Ingin kutendang saja rasa-rasanya, tetapi janganlah. Mana tega, cantik begitu soalnya. []

LitigasiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang