"Eh eh.. kamu yang namanya Soraya Ayu ya? ". Tanya seorang gadis manis berhidung mancung.
Seseorang yang di tanya menoleh dengan tatapan bingung. Sesaat ia celingak celinguk ke belakang, barangkali bukan dirinya yang dipanggil gadis di depannya ini. Tetapi nihil, hanya ia dan gadis di depannya yang ada di dalam kelas ini. Oh tidak, tiga orang gadis-dirinya, gadis didepannya, dan gadis di belakangnya saat ini yang tengah memakai earphone di telinganya-.
" Hei, kamu dipanggil tuh sama--". Gadis ini berinisiatif memanggil gadis dibelakangnya yang sedang memakai earphone, barangkali gadis di depannya tadi memanggil gadis dibelakanganya saat ini. Ia tidak ingin ge'er karena gadis didepannya tadi menyebut namanya, 'ya mungkin saja nama Soraya Ayu tidak hanya namanya saja' pikirnya dalam hati.
" Bukan! Aku manggil kamu." Oh, ternyata benar feelingnya jika gadis di depannya ini memang memanggil dirinya.
Ia tersenyum kikuk karena tak kunjung mendapat respon dari gadis yang ia ketahui bernama Soraya Ayu.
" Duduk sama aku yuk! " Ucapnya pada akhirnya untuk memecahkan keheningan diantara keduanya.
Tanpa banyak kata, si gadis yang diajak bicara langsung mendudukkan dirinya dikursi samping gadis yang berhidung mancung itu.
***
"Hahahaha..... " tawa ringan dua remaja terdengar diseluruh penjuru kelas.
" Gila, jijik banget gue inget kata-kata lo yang sok alim itu." "Hahahaha... "
"Asli gue kangen banget sama wajah si Ana yang sok polos itu!! Hahahaha.. " Sahut gadis manis yang berhidung mancung.
"Gak usah pada ngomongin gue,,, gue tau gue emang masih polos. " ucap gadis yang baru datang bersama 2 gadis lainnya.
"Alah.. Polos apanya! Inget umur mbak, lo paling tua diantara kita semua." tukas salah satu gadis lainnya. Sedangakan dua sejoli yang tertawa tadi hanya terkikik mendengar kata-kata pedas temannya yang satu ini.
"Lo pada lagi flashback waktu kita kelas sepuluh ya?! Ngaku lo!! Iyakan?! Udah iya-in aja biar cepet. " tanya gadis bernama Ana yang bukannya terdengar seperti pertanyaan melainkan pernyataan.
"Lo lagi mengenang masa-masa lo sama doi ya?!" lanjutnya.
"Eh siapa? " tanya Soraya bingung karena merasa dia memang tidak mempunyai doi.
"Itu tuh, si ketua kelas kelas sebelah yang ganjen itu! " .
Yang ditanya hanya diam, berpura-pura sibuk memakan jajanan hasil merampoknya dari teman-temannya.
"Eh kalian udah selesai tugas B. Inggris belum sih? " tanya gadis lain yang sejak tadi hanya diam dan menyimak percakapan teman-temannya.
"Gue mah udah! Ana gituloh!." ucapnya dengan penuh percaya diri.
Disisi lain Soraya merasa lega, dengan pengalihan topik ini. Setidaknya ia selamat dari lambe turah si Ana untuk kali ini. Ingat, hanya untuk kali ini.
***
Soraya's POV
"Eh gila ya! Kenapa gue jadi gak konsen gini sih. Ah, ini semua pasti gara-gara si lambe turah tadi siang. "
Flashback
Dari arah pintu, masuklah tiga orang pemuda tinggi, hitam, serta wajahnya yang nampak berkeringat seperti seorang kuli bangunan yang selesai bekerja.
"Hai teman-teman! Perkenalkan nama saya Devano Anugrah. Senang bertemu kalian semua! " ucap salah satu pemuda yang paling tinggi.
"Udahlah langsung salam perkenalan ke satu kelas aja! " usul pemuda lain yang agak lebih pendek dari Devano.
Kemudian ketiga pemuda yang memperkenalkan diri tadi mulai menjabat satu persatu tangan milik teman barunya.
"Salam kenal ya! Hei!! Halloo!! " ucap Devano sembari mengkibas-kibas kan kedua tangannya didepan wajah seorang gadis yang menghiraukan ajakan berkenalan nya.
1 detik
2 detik
Dengan gemas, ia mencubit pipi chubby gadis didepannya ini. Dan usahanya tidak sia sia. Akhirnya gadis yang memakai earphone itu membuka matanya seolah bertanya 'kenapa?' tetapi dengan wajah yang datar.
Devano mengulurkan tangannya bermaksud mengajak gadis di depannya untuk berkenalan. Tetapi berbeda dengan si gadis, ia hanya menatap uluran tangan Devano dengan ekspresi yang sama namun kali ini nampak kebingungan.
"Salam kenal ya! " ucap Devano pada akhirnya setelah dengan gemas ia meraih tangan si gadis yang ada diatas meja untuk menjabat tangannya. Si gadis tetap menampilkan ekspresi yang sama. Datar. Namun ia mengangguk untuk menjawab ucapan Devano,setelah itu ia menggunakan earphonenya kembali. Hanya satu kata yang ada difikiran Devano untuk gadis didepannya ini, 'Aneh' gumamnya dalam hati.
Tak lama usai acara berkenalan ketiga pemuda tadi guru pun datang untuk menyapa murid-murid barunya.
Melihat guru sudah datang, Devano celingak-celinguk mencari bangku kosong yang bisa ditempatinya. Ya, walaupun sementara tak apalah. Toh katanya kelasnya masih sementara juga, pikirnya.
"Eh gue duduk sini ya? Udah nggak ada tempat lain soalnya. " ucap Devano sambil menampilkan senyum manisnya yang memperlihatkan kedua lesung pipitnya yang menambah kesan senyuman manisnya.
"Selamat pagi anak-anak! " sapa guru muda nan cantik pada murid-murid barunya.
"Selamat pagi buu! " jawaban kompak dari seluruh penghuni kelas.
"Perkenalkan nama saya ibu Tutik Rahayu. Kalian bisa memanggil saya Bu Tutik. Mulai saat ini saya adalah wali kelas baru kalian. Jadi jika kalian memiliki suatu masalah, kalian bisa cerita kepada ibu. Anggap saja ibu seperti ibu kalian sensiri. "
"Oke berhubung hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, maka hari ini kita isi dengan perkenalan anggota kelas. Kita mulai dari yang terdepan." ujar bu Tut.
Perkenalan dimulai dari meja depan pojok bagian selatan. Meja itu dihuni seorang anak dengan postur tubuh yang gembul.
"Perkenalkan nama saya Febia Helena. ...... "
Perkenalan berlanjut hingga bel berbunyi tanda istirahat.
***
Cerita baruku guys!
Baru pertama kali nulis, jadi mohon maklum sama bahasanya yang acak-acakan juga typo-typo yang berhamburan.
Jangan lupa baca part selanjutnya!! 😁😁
Walaupun entah kapan part selanjutnya up. Hehe 😂😂
YOU ARE READING
ACCISMUS
Teen FictionACCISMUS, keadaan dimana seseorang berpura-pura tidak tertarik pada seseorang atau sesuatu walaupun sebenarnya ia tertarik. "Kenapa kita nggak bisa?" -Devan "Kita beda. Aku dan kamu beda. Kita nggak bisa sama-sama." -Soraya Ia berbalik. Menghindari...
