"Mommy!" seru Aidan.
"Astaga, kamu sangat tampan sayang," puji Alea atas penampilan Aidan yang begitu tampan malam itu.
Aidan terlihat sangat tampan dengan suit berwarna biru dongker yang cocok dipadukan dengan gaun yang Alea kenakan. Rambut Aidan ditata sedemikian rapi dengan sedikit jambul di atas dahinya.
Alea menghampiri Aidan kemudian merendahkan dirinya untuk mengecup pipi Aidan.
"Sini, kita berfoto dulu sebelum berangkat."
Alea menarik Aidan ke sofa lalu mendudukkan Aidan di pangkuannya. Alea mengangkat ponselnya yang sudah dalam mode kamera depan untuk ber-selfie dengan putra tampannya itu. Pose biasa, pose konyol, pose Aidan yang mencium pipinya dan pose dia yang mencium Aidan, dan satu pose dimana Alea mengecup bibir Aidan. Semua itu tidak luput sedikit pun dari tatapan mata biru milik pria tampan yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Alea dan Aidan.
"Mommy tidak ingin berfoto dengan Daddy?" tanya Aidan.
Pertanyaan Aidan membuat Alea yang sedang melihat hasil foto tadi mengangkat wajahnya. Dia menoleh dan menemukan seorang pria tampan yang mengenakan suit sama persis dengan yang dikenakan Aidan, yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.
Pria itu tersenyum, menatap Alea dengan mata birunya yang berkilat penuh kerinduan.
"Hai Alea, akhirnya kita bisa bertemu." Raihan menyapa dengan ramah. Akhirnya dia bisa bertemu dengan wanita yang dipanggil Mommy oleh putranya.
Alea menegang saat menyadari siapa pria yang berdiri di hadapannya. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mengalir dari pelipisnya ketika sebuah ingatan buruk merasuki kepalanya.
"Katakan pada Mommy jika pria itu bukanlah Daddymu." Alea berbisik pelan seolah takut Raihan akan mendengar ucapannya.
"Alea."
Raihan menyadari jika ada yang aneh saat Alea menatap wajahnya. Dia bisa melihat pancaran ketakutan dari mata Alea.
Raihan hampir saja melangkah menghampiri Alea, namun bentakan Alea menghentikan gerakannya.
"Berhenti disitu!" sentak Alea tajam sembari mengarahkan telunjuknya kepada Raihan.
Alea kembali menatap Aidan, memastikan sekali lagi jika pria di hadapannya bukanlah Raihan.
"Jawab dengan jujur pertanyaan Mommy. Dia, pria itu bukanlah Daddy-mu kan? Hemmm." Alea bertanya sembari menunjuk Raihan sekali lagi.
"Jawab bukan. Jawab bukan atau Mommy akan membencimu setelah ini." Alea bergumam dalam hati.
Aidan menatap Alea dengan bingung kemudian menjawab, "Dia Daddy, Mom. Daddy Raihan Hajaya."
Hancur sudah.
Air mata mengalir di pipi Alea tanpa bisa dikendalikan. Alea merangkum wajah Aidan, menatap wajah anak lelaki yang sudah membawa kebahagiaan untuknya dengan teliti seolah sedang menyimpan gambaran wajah Aidan dalam memori di otaknya. Dia mengecup kedua pipi Aidan kemudian pelipis Aidan sembari menghirup aroma Aidan dalam-dalam selama beberapa detik sebelum menurunkan Aidan dari pangkuannya.
"Keluar!" usir Alea dengan nada datar.
"Alea ...." "Mommy ...." Raihan dan Aidan memanggil bersamaan.
"Keluar!" usir Alea lagi, kali ini dengan nada tajam.
"Aku bilang keluar!" Alea berteriak lantang sambil menunjuk pintu ketika tidak ada respon dari Raihan.
Aidan terkejut mendengar teriakan Alea. Baru kali ini dia melihat wanita yang selama ini selalu berlaku lembut dan menyayanginya berteriak lantang penuh kemarahan seperti itu.
Raihan mengira jika Alea akan menghampirinya, namun dugaannya keliru saat Alea melangkah melewatinya begitu saja menuju pintu kemudian membukanya dengan lebar.
"Silahkan keluar sebelum aku memanggil security untuk mengusir kalian berdua." Alea berucap datar sembari menatap Raihan tajam.
Raihan menggendong putranya kemudian melangkah menuju pintu keluar sembari membisikan sesuatu yang membuat Aidan sedikit tenang.
"Mommy." Panggil Aidan dengan berurai air mata saat melewati Alea. Namun Alea meresponsnya dengan menolehkan wajahnya ke arah yang lain.
"Mommy ...."
Panggilan terakhir Aidan yang terdengar memilukan mengiringi pintu yang tertutup. Alea menyandarkan tubuhnya pada pintu, menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan meremas kencang kedua lengannya.
"Hancur sudah."
Alea bergumam pelan seiring air mata yang semakin deras mengalir di pipinya. Perlahan tangan kanannya bergerak turun menuju perutnya, mengelusnya perlahan sebelum pertahanan dirinya akhirnya runtuh. Tubuhnya meluruh, bersimpuh, kemudian dia menangis meraung meruntuki takdir yang begitu kejam mempermainkan hidupnya.
====================================
Aku menyayangi putramu, namun itu tidak bisa menghentikanku untuk membencimu
-Alea Faezya Wibisana-
Benci dan cinta hanya dibatasi oleh benang yang sangat tipis. Aku hanya perlu menunggu sebentar lagi hingga aku bisa masuk dalam hidupmu.
-Raihan Hanjaya-
YOU ARE READING
Alea
RomanceAlea Faezya Wibisana hanya menginginkan hidupnya kembali seperti semula setelah dirinya melewati satu malam terburuk dalam hidupnya. Satu tahun telah berlalu sejak malam itu, kenangan dan mimpi buruk yang selalu menghantui tidurnya perlahan mulai te...
