Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Smile

493 51 9
                                        

"Lihat dia datang!" Teriakan Fabian yang melengking mengagetkanku, ia tampak histeris akan sesuatu membuat seisi kelas menjadi riuh terkejut akan teriakan Fabian.

Fabian yang terkenal akan kekalemannya itu terlihat sangat berbeda pagi ini, ia yang biasanya diam dan anteng sekarang berubah menjadi seseorang yang pecicilan tidak seperti Fabian yang kulihat biasanya, dan mengucapkan kata kata yang sama berulang kali.
'ia, akan datang'

Didit yang melihat tingkah laku sahabatnya langsung mendekati Fabian dan merangkulnya dengan akrab

"Fab, ngapain sih lo pake acara jerit jerit segala lo sembuh apa sakit sih?" Tanya Didit sambari tangan kanannya mengelus lembut pucuk kepala Fabian. Tetapi Fabian tidak menghiraukan keberadaan telapak tangan Didit yang tengah bertengger ria dipucuk kepalanya.

Dapat dipandang tangan kanannya mulai terangkat menunjuk tepat kearah pintu kelas yang masih tertutup rapat sambari mulutnya menganga. Aku merasa heran kemudian kupalingkan wajahku menuju pintu.

"Hmm, elu nunjuk apaan Fab? pintu? orang pintunya gak kenapa napa. Tenang aja Gan pintunya gak bakalan lepas" Didit berucap sambil menarik tangan kanan Fabian yang terangkat menunjuk tepat kearah pintu.

"Ada, apa sih rame banget kamu Fab, tumben." Ucap Alfian berjalan mendekat kearah Fabian dan Didit

"Gatau nih si Fabi tiba tiba gini dari pagi" Didit menjawab pertanyaan Alfian sambil menelonyor kepala Fabian pelan.

"Hmm, Fabi... Elu kesambet apa?" Tanya Alfian pelan

"Yah dilihat dari sikapnya palingan juga tuyul" Jawab Didit dengan nada malas

"Tuyul, Tuyul bukan karena aku kecil kalian bisa panggil aku tuyul !" Fabian mulai tidak terima dengan perlakuan kedua sahabatnya

"Siapa yang panggil kamu tuyul?" Didit dan Alfian menjawab secara bersamaan, tetapi namanya juga Fabian ia malah ngambek dan tidak mau melihat kedua orang sahabat baiknya. Sementara Didit dan Alfian mereka saling menatap sambil mengendikkan bahu.

Fabian yang saat itu masih galau karena perlakuan kedua sahabatnya ia pergi menuju kearah pintu ruang kelas dan mengintip melalui lubang kunci.

"Aah!" Fabian berteriak kemudian berlari kencang kearah kedua sahabatnya dan langsung berkata bahwa ia sudah datang.

"Fabi... Siapa yang datang?" Alfian bertanya

"Loh, kak Fian belum tau? kan kelas kita akan kedatangan murid baru, masa nggak tau?" Fabian mulai bercerita dan tanpa sengaja didengar oleh Ansa siswa paling cerewet dikelasnya.

"Apaa!? Ada anak baru!?" Ansa berteriak keras sehingga menarik perhatianku dan kawan kawan yang lain.

"Iya"

"Memangnya kamu tau dari siapa?" Tanya Ansa

"Tadi nguping pembicaraan pak guru, nah tadi kan aku berangkat pagi jadi masih sempat keliling keliling dan saat aku duduk didepan ruang guru aku denger kalo Pak Ahmad ngomong dikelas kita bakalan ada murid baru"

"Oooh gitu" kemudian satu kelas ber 'oh' ria sementara Fabian manggut manggut karena bangga dengan dirinya.

"Oiya, tapi kenapa para guru nggak ngasih tau kalo kita bakalan kedatangan murid baru?" Billa membuka percakapan.

"Iya juga ya, kok kita murid sendiri nggak dikasih tau? jangan jangan"

"Stoop, positif thinking aja dulu, barangkali guru guru lupa" ungkap Didit memotong kalimat Ansa.

Grieeet

Suara pintu yang digeser menghentikan percakapan dan aktivitas didalam kelas.
Sekali lagi tangan Fabian terlihat menunjuk kearah sesuatu yap pintu.

SmileStories to obsess over. Discover now