pertemuan

32 4 1
                                        

Sore hari kala itu cukup cerah, kupandangi indahnya langit senja yang mulai memerah seolah membangunkanku dari lamunan panjang yang tak terarah. Ku sandarkan kepalaku di sudut jendela yang masih basah sisa hujan pagi tadi.
Masih saja namamu yang ada di benakku, sambil kuingat-ingat kembali perkenalan kita waktu itu ketika Khanza memintaku untuk menemaninya mengerjakan tugas. Kau menyodorkan tanganmu kepadaku,
"Hai. Kenalin aku Ardani, temennya Khanza. Panggil aja Ardan" katamu penuh senyum.
"Oh iya, aku Tata. Salam kenal ya", sambil ku balas juluran tanganmu sebagai tanda perkenalan itu.

Aku, Khanza, dan Ardan semakin larut dalam candaan kami malam itu. Aku pun merasa semakin akrab dengan Ardan meski baru satu jam yang lalu kami berkenalan.

Di parkiran sebelum kami berpisah karena jalan rumah yang berbeda, Ardan meminta nomorku dengan alasan polosnya "ah ya biasa lah, tambah-tambah temen ini".

Ku rasa memang tak ada salahnya jika kuberikan nomorku padanya, jika memang hanya untuk komunikasi.

Bukan KamuWhere stories live. Discover now