1

147 42 31
                                        

Terlambat.

Selalu saja.

Frey berlari sekuat tenaga di sepanjang koridor sekolah walaupun hal itu sia-sia karena kakinya yang pendek. Saat ini dia sangat mengharapkan dewi fortuna berpihak padanya.

Frey perlahan mendorong pintu yang sudah ia putar knopnya. Berharap cemas seiring pintu terbuka perlahan. Frey tau bahwa pagi ini yang mengajar di kelasnya adalah guru yang populer karena kekiller-annya. Frey berharap lelaki tua itu mendadak diare tadi pagi dan terlambat untuk mengajar.

Percuma saja.

Guru yang sedang dibicarakan oleh hatinya sekarang terpampang nyata sedang menatap sinis kearahnya. Frey saat ini benar-benar ingin menenggelamkan dirinya. Andai saja dia ingat hari ini adalah hari Rabu, andai saja dia tadi malam tidak terlalu asik dengan novelnya, andai saja dia bisa berlari secepat kilat. Huft, hanya 'andai' yang bisa direnungkan olehnya saat ini. Frey benar-benar tau apa yang akan terjadi beberapa menit kedepan.

"Nona Freyda Pristin, kau terlambat lagi dijam pelajaranku?" lelaki tua itu sekarang nampak bersungut-sungut. Frey sangat tau jika guru yang satu ini sangat tidak suka kata terlambat. Frey meneguk ludah gugup. Dia merasa malaikat maut berjalan mendekat kearahnya. Tapi malaikat maut rasanya lebih baik dibandingkan lelaki tua berkumis tebal itu.

"Maaf, Pak. Saya tadi anu.. Mm.. Anu.. Mm... Itu loh.."

"Ada apa Pristin? Terjebak macet? Menolong kucing menyebrang? Tersandung tanah merah? Atau mendadak amnesia?" lelaki tua itu benar-benar memojokkannya, bahkan lelaki tua itu hafal alasan-alasan yang selama ini diajukan Frey ketika terlambat. Frey mendadak pusing memikirkan alasan apalagi yang harus ia lontarkan.

"Itu pak.. Mm... Kucing tetangga saya melahirkan" wtf, alasan macam apa itu? Frey mengutuk mulut kecilnya yang sangat bodoh dalam merangkai kalimat. Teman-temannya sekarang tertawa mendengar alasan Frey. Malu, itu alasan terbodoh yang sangat konyol.

Bodoh sekali.

"Alasan apa itu Nona Pristin? Sekarang saya mau kamu keli..."

Tok tok tok

"Permisi, Pak. Saya mengantarkan murid baru yang akan menetap dikelas ini. Ayo masuk.."

Frey sungguh beruntung saat ini, ia menghela nafas lega. Dia akan berterima kasih kepada pahlawan yang mencakup jadi anak baru itu nanti. Tergesa-gesa, Frey berlari kecil menuju kursinya. Berharap guru killer yang akan menghukumnya tadi mendadak lupa akan dirinya.

Laki-laki berperawakan tinggi dan putih masuk kedalam kelas. Frey dan yang lainnya terpaku pada sosok itu. Sungguh indah, batin Frey.

Laki-laki itu membungkuk dan menyunggingkan senyuman tipis. Merasa bahwa kelas barunya ini sama saja seperti kelas disekolah lamanya. Sangat biasa.

"Perkenalkan saya Keylo Febrian. Panggil saja Key."

Terlalu singkat, rutuk Frey. Dia benar-benar ingin tau dengan sosok didepannya ini. Hm, love at first sight? Mungkin saja.

"Baiklah, kau bisa duduk sekarang" Ah, bapak tua itu tidak tau kondisi. Frey bertekad akan berkenalan dengan laki-laki itu nantinya. Siapa tau jodoh.

Diantara semua kesialan Frey hari ini, setidaknya ada dua keberuntungan. Yang pertama, anak baru itu duduk dibelakangnya dan yang kedua bapak tua itu melupakan dirinya yang akan diberi hukuman.

***

Bel kantin sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Harusnya kelas XI IPS 1 itu sudah kosong sekarang. Tapi karena anak baru yang mencuri hati Frey atau mungkin seluruh anak perempuan di kelasnya. Frey harus ikut terjebak juga disini. Frey sudah sedari tadi mencoba untuk melepaskan diri, tetapi dia terkurung oleh teman-temannya dan terjepit oleh dinding, Frey harus merelakan acara-mengobati-laparnya siang ini. Tidak masalah, setidaknya dari sini dia dapat leluasa memandang si pencuri hatinya.

Key For LoveWhere stories live. Discover now