"Proloque"

78 1 17
                                        


"Tolong...!!"

Teriakan meminta tolong terdengar dari luar Kedai Rumah Makan. Kami yang berada ditempat itu pun berhamburan keluar, dan melihat apa yang sedang terjadi.

"Maaf, maaf...!!!. Bisa minggir sebentar?".

Aku menerobos kerumunan orang-orang. Aku merdengar suara pentungan keras seperti telah mendarat menghantam kepala. Penglihatanku tidak begitu jelas. Hanya saja firasatku yakin ada seseorang yang sedang dihantam habis-habisan di tengah riuh warga yang berkumpul. Banyak yang histeris, namun lebih banyak yang bersorak kesal mengeluh-eluh. Kata mereka "Bakar saja, dan bunuh orang itu". Saking kesalnya.

Saat itu juga sudah jelas batinku. Seorang ditengah kerumunan sedang bernasib sial dihajar warga.

"Permisi..., biarkan aku lewat sebentar".

Dengan sigap kuambil kamera pocket di saku celana. Lalu mengabadikan beberapa moment penting dari berbagai sudut. Sungguh malang orang itu. Meski ada rasa iba. Tapi, Aku tak bisa berbuat banyak meski korban amukan massa sudah bercucuran darah. Untunnya kejadian itu tidak berlangsung lama, dan hanya beberapa menit saja. Segera Kepolisian Britania datang mengamankan kejadian itu.

Dengan lihai para aparat Britania mengamankan korban -- yang sekaligus pelaku pencurian. Di popongnya korban itu. Sebagian juga terlihat sibuk membuat brikade pengamanan dari beringasnya para warga.

Setelah memotret beberapa kejadian, begitupun Aparat Britania yang tengah berhasil membawa kabur pelaku pencurian. Aku juga tak boleh hanyut. Demi tugas dari tempatku bekerja. Aku harus bertanya sedetail mungkin kepada warga untuk kelengkapan informasi.

"Maaf, Pak. Dari yang baru saja terjadi. Boleh beritahu kronologinya?. Kenapa sampai orang itu diamuk?".

"Pencuri !!. Pencuri itu kedapatan mengambil barang disalah satu rumah warga dekat sini. Itu rumahnya". Telunjuknya mengarah pada salah satu rumah yang tak jauh dari Kedai Rumah Makan. Gedungnya berwarnah hijau. Bertingkat dua, dan memiliki taman dengan berbagai varian bunga di dalamnya. Ia memberi beberapa kesaksian perihal itu hingga menceritakan kronologinya.

"Seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam tiba-tiba saja masuk pekarangan rumah hijau itu. Terdengar suara dobrakan pintu. Akhirnya warga disekitar sini kaget, dan mencari tahu asal suara gaduhnya. Belum sampai saya kesana, pemilik rumah berteriak meminta tolong. Yang lebih meyakinkan lagi karena sang pemilik rumah berteriak maling. Semua warga tentu berhaburan".

Berhubung berbagai data kejadian sudah kupegang. Aku bergegas mengunjungi Kantor Polisi demi mendapat penjelasan dari Kepala Staff Humas Kepolisian Britania terkait yang terjadi barusan.

"kita sudah amankan, dan kita akan memproses ini semua", kata Humas Kepolisian Britania.

"Apa mesti dilakukan perawatan terlebih dahulu, Pak?. Melihat kondisi tersangka yang sangat memprihatinkan". Tanyaku.

"Iya. Tepat dibagian kepalanya ada luka sobek, dan sebagian tulangnya ada yang patah. Bisa jadi ini karena benturan benda tumpul yang dilayangkan oleh beberapa massa barusan". Lanjutnya.

"Kalau begitu apa bolehkah Aku bertemu dengannya, Pak?". Tanpa basa-basi Polisi berpangkat Komisaris itu membawaku ke ruang tahanan tempat si pencuri itu ditahan. Nyaris tak ada udara di dalamnya hanya ada cahaya kecil yang masuk melalui celah dinding yang diberi kaca. Ia terduduk, dan meringis kesakitan memohon ampun. Sesekali iya menyebut nama anaknya, Aqila sampai tak terhitung jemariku.

"Tolong saya...!!!. Anak saya belum makan. Tolong maafkanlah saya. Saya benar-benar meminta pertolongan".

Air mataku seakan ingin berderai. Tapi karena pekerjaan, Aku harus profesional. Aku harus mengerjakan tugas saya sebaik mungkin.

The Another BodyStories to obsess over. Discover now