Cassieopeia

4 1 0
                                        


Cassiopeia , itulah nama ku. Kamu dapat memanggilku Cassie. Menurut cerita, Cassiopeia adalah rasi bintang yang bersinar paling terang. Itu kata ibuku, yah mau bagaimana pun aku harus suka dengan nama ku. Sejak di bangku sekolah dasar, aku sering di ledek dengan julukan " Dewi Bintang " ya, semua ledekan itu karena namaku yang cukup unik. Ntah lah mungkin ibu ku sangat menyukai mitologi Yunani.

Saat aku kecil, aku sering memanjat atap, duduk di atas atap di tengah malam. Ya, aku duduk sendirian. Memikirkan apakah para dewa itu benar-benar nyata ? Memikirkan apakah bintang akan jatuh dan aku dapat meminta sesuatu kepada bintang ? Hampir setiap malam aku memandang langit yang sama di hari yang berbeda, tanpa teman, hanya sendiri menunggu.

Pagi hari telah menyambut kehadiranku, aku punya cukup banyak waktu untuk bersiap berangkat ke sekolah. " Chase, ayo sarapan. " aku langsung berlari menuruni anak tangga menuju ruang makan. " Kau lamban Chase, aku telah mengalahkanmu selama dua minggu. Kau kalah telak. ". Ini adalah adikku, Asteria. Namanya juga berarti bintang, bukan bunga Ester. Aku selalu berkompetisi dengannya dalam berbagai bidang, bahkan lari menuruni anak tangga ketika sarapan.

" Lihat saja nanti, aku pasti akan mengalahkanmu. " jawab ku tak mau kalah. " Sudahlah, kalian makan saja dulu. " Ayahku tidak suka jika ada yang terlalu serius di ruang makan, Ia tidak suka jika suasananya terlalu tegang walau kami kadang hanya bercanda ria. " Chase, bagaimana ulangan akhir yang telah kau lalui dalam dua hari ini ? " Sendokku hampir terpelental ketika ayah menanyakan hasil ulangan akhir yang tidak serius aku isi dalam menjawabnya.

" Ya begitu lah Yah, soal yang di berikan cukup rumit, aku sedikit kesulitan menjawab.

" Oh begitu, yaudah tak apa. "

Aku sangat lega ketika Ayah menjawabku seperti itu. Aku melanjutkan sarapan dan di antar Ayah ke sekolah. " Kamu punya pacar ya Chase ? " Aku tersontak kaget ketika Ayah menanyakan hal itu.

" Em, ah enggak kok Yah. Emang kata siapa aku punya pacar ? " Jawab ku setegas mungkin.

" Ayah lihat kamu diluar rumah semalam, kamu bersama seorang pria. siapa dia ? kamu bisa bawa dia kerumah trus kenalin ke Ayah sama Ibu. "

" Ah, sudah jam segini Ayah harus segera berangkat ke kantor. "

" Dah Ayah, hati-hati di jalan ya. "

" Belajar yang benar Chase! " seru Ayah dari dalam mobil saat aku menutup pintu mobil.

Aku masih tidak percaya Ayah melihat kejadian semalam. Aku pikir tidak akan ada yang melihat ku di luar bersama Radit di luar sekalipun Ayah. Aku berharap Ayah tidak mengungkit hal ini ketika makan malam nanti.

Bel sekolah sudah berbunyi, aku segera menyiapkan buku-buku ku di jam pelajaran pertama ini. Pelajaran pertama adalah Bahasa Jerman. Aku sangat tidak fokus sekarang. Memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian.

Noel meredakan lamunan ku " Chase, di panggil dari tadi diem aja, kenapa sih ? Ada masalah apa ? Cerita aja lah. "

Noel adalah sahabat kecil ku yang sejakkecil satu sekolah dan kami beberapa kali satu kelas. Dia selalu main ke rumah ketika libur, sudah seperti saudaraku sendiri. Teman-teman dikelas juga suka menanyakan mengapa aku dan Noel tidak pacaran saja. Jawabannya adalah tidak bisa dan Noel sendiri juga sudah punya pacar.

" Gapapa elah, kenapa sih manggil ? " Jawab ku dengan sedikit ketus

" Jutek amat lu. Minjem PR dong ge belum ngerjain nih. "

" Yaelah, kebiasaan banget sih. Nih " sambil memberikan PR bahasa Jerman.

" Nul, menurut lu Radit gimana? "

" Mau gebet lu ? "

" Gak tau ya, lagi deket aja. "

" Dulu gw satu tim basket sama dia, tapi Pak Budi gak mau masukkin dia ke tim inti. "

" Lah terus kenapa ?"

" Ya gapapa, mana tau lu pengen tau. "

" Iya pengen tau tapi bukan itu. "

Frau Rita masuk lebih cepat dari biasanya dan pelajaran pun segera di mulai. Pelajaran pagi ini cukup menyenangkan karena kami tidak terlalu serius dalam belajar, ya maksudnya pelajarannya gak berat banget lah kayak Matematika atau Kimia.

Setelah mengikuti beberapa mata pelajaran, bel istirahatpun berbunyi. Aku tidak seperti yang lain yang langsung keluar kelas menuju kantin.

" Chase, lu deket sama Radit udah berapa lama ?"

Aku tersontak kaget mendengar Noel menanyakan hal itu. Biasanya dia tidak secepat itu peduli ketika aku mengagumi seseorang.

" Sebulan ada kayaknya. "

" Ajak dia nonton, mau lu yang ngajak duluan atau belakangan terserah, tapi ajak dia nonton. Kalo dia langsung jemput lu, gw setuju sama dia tapi kalo gak dan lu masih deket sama dia, jangan berharap lu bisa cerita ke gw tentang masalah lu sama dia. "

Aku terkejut dan tidak bisa berkata-kata, setelah Noel bilang hal itu aku langsung terdiam dan Ia pergi keluar kelas. Aku masih diam dan bingung apa yang dibicarakan Noel. Mengapa Ia sampai bisa bilang seperti itu kepada sahabatnya sendiri. Ia tidak pernah se-posesif ini terhadap ku.

Tak lama aku berpikir, HP ku bergetar terus menerus, ada pesan dari Radit.

Radit : Chase

Radit : Chase, where are you ? Katanya mau ke taman ?

Cassie : Oh yaampun Dit, aku lupa kita ada janji. tapi udah mau bel masuk, gimana dong ?

Radit : Kebiasaan kamu Chase, yaudah gapapa, malam minggu temenin aku makan ya, aku yang traktir.

Tanpa sempat aku membalas, bel tanda berakhir istirahat berbunyi, aku langsung memasukkan HP ku kedalam tas.

" Sarah, nanti sore lu ada di rumah gak ? Mau cerita nih. " Tanya ku pada salah satu sahabat kecilku juga, sama seperti Noel tapi dia perempuan.

" Radit ya ?"

" Iya. "

" Langsung aja ya ke kamar, ibu gw lagi ngurus kuliah bang Dika. "

" Wah bang Dik masuk mana ?"

" Pengen UGM dia, nanti kalo dia keterima, panggilannya bukan bang Dik lagi Ca, tapi Dokter Dika hahaha. "

" Hahaha, amin deh buat dia. "

Sarah punya nama panggilan sendiri untuk ku. Caca. Dia bilang aneh ketika memanggil namaku Chase atau Cassie. Yah maklum lah kita kan orang Indonesia yang memiliki nama yang jarang digunakan orang Indonesia.

Ketika pulang sekolah, aku kembali ke rumah dan berganti pakaian lalu menuju rumah Sarah. Biasanya aku pulang sekolah jalan kaki atau gak di jemput Ibu. Tapi hari ini aku pulang jalan kaki.

" Chase, nail gih cepetan, gw masih sibuk abis ini. "

Aku kaget mendengar suara Noel. Dia memang suka nganter aku pulang kalo ketemu dijalan. Aku langsung naik ke motornya dan menuju rumah. Ketika sampai rumah dan turun dari motor. Ia sempat bilang

" Jangan lupa sama kata-kata gw ya. Dahh. "

" Iya bawel, makasih ya. "

Looking at The StarsHistórias para pegar e não largar. Descubra agora