Satu - you got me from 'hei'

9 1 1
                                        


Ting Tong Its time to have break. Suara yang dinanti hampir seluruh siswapun berbunyi. Disambut dengan berbagai ekspresi siswa, mulai dari teriakan bahagia, wajah lusuh, perut keroncongan, sampai raut muka masam karna setelah melewati ulangan fisika tentang momentum. Begitu pun bagi kedua gadis cantik di sudut ruang kelas bertuliskan xii ips 3 pada papan diatas pintu, yang kini tengah sibuk dengan gawainya masing-masing.
“Olin, kantin yuk ? Ucap Emily memecah keheningan sembari matanya sesekali melirik layar gawainya. Namun seperti biasa, Olinda Azalea, sahabatnya sejak duduk dibangku sekolah dasar itu hanya diam, dengan muka datarnya.
Oin, aduh ini anak harus di bawa ke dokter THT kali ya. Gerutu Emily.
Sialan lo Ember bocor, rese banget deh Terdengar tawa mereka sedikit menggema, sambil berlari kecil menuju kantin sekolah.
“Green tea satu ya, Bu. Olinda selalu memesan yang sama setiap waktu istirahat. Sedangkan Emily, seperti hari-hari sebelumnya, hanya memesan jus tomat tanpa gula tanpa susu, takut gendut, begitu alasannya. Padahal Emily sudah cukup langsing bahkan bisa dibilang kurus. Berat badannya kurang dari 45kg dengan tinggi badan 160cm. Rambutnya yang tergerai ikal hingga ke punggung, juga wajah mulusnya. Bisa dibilang Emily adalah bintang di SMA ini.
Waktu istirahat memang selalu mereka gunakan untuk sekedar ngobrol di kursi dekat kolam ikan, best spot mereka saat suntuk menyerang. Tidak jarang anak lelaki yang mencoba mendekati mereka berdua. Emily selalu senang menjadi pusat perhatian dan dengan sengaja meladeni keisengan cowok kelas sebelah.
Em,Olin, maaf baru gabung, si Raina di toilet lama banget, mana gak mau ditinggal, udah kayak emak-emak nunggu anaknya deh gue. Ivy dengan bibir manyunnya mulai ngedumel. Tak berselang lama Raina muncul dengan cengiran kuda lalu menyeruput minuman milik Olin. Mereka berempat adalah geng siswi yang disegani oleh adik kelas bahkan teman seangkatannya. Karna dengan paras ayu yang mereka miliki, siswa satu sekolah bisa jadi tameng saat ada yang berani menggoda atau bahkan sampai melukai mereka.
Eh eh eh, ada gosiipp hot buanggeeet Raina dengan gaya hebohnya membuka obrolan.
Apaan sih heboh banget deh. Sahut Olin sambil bermain permainan digawainya.
Tadi gue lewat ruang Kepsek, ada guru baru loh. Katanya bakalan gantiin Pak Anton, Pak An pindah sekolah karna gak kuat sama kita.
Demi apa lo? Seriusan? Semoga gurunya cowok, masih muda, cakep, pinter, mirip Ashton Kutcher gitu,ah betah deh gue dikelas. Emily mulai ngelantur.
“Tadi guru barunya gak menghadap ke arah gue jalan, Cuma keliatan punggungnya doang. Kayaknya sih umur 30an lebih kalo keliatan dari badannya. Raina menjelaskan sembari matanya melirik kekanan membayangkan apa yang tadi dilihatnya dan jari telunjuk tangan kanannya yang mengetuk dagu.
Bukannya sesudah ini kita jadwalnya pelajaran Pak An, ya? Ivy langsung ikut nimbrung bergosip ria  setelah membeli sedikit cemilan yang dibawanya seperti batagor, siomay, tahu bulat, dan es teh.
“Pindah duduk paling depan ah tukeran sama si Gino. Emily bersemangat sambil merapikan rambut ikalnya.
Bel masuk kelas berbunyi. Siswa-siswi terlihat bergegas masuk kelas, dan tidak seperti biasanya, Emily sudah duduk manis di bangku tepat di depan meja guru. Sedangkan Ivy duduk di samping Raina di belakang Emily. Olin justru memilih duduk disamping Gino yang bertukar tempat dengan Emily. Murid-murid pun mulai masuk kedalam dunianya masing-masing. Rahandika si cowok gamers, Kafin murid culun yang hobi menggambar tokoh dalam komik jepang. Andhanu cowok kece pacar dari Malva yang selalu duduk berdua kayak paket lengkap di tempat makan siap saji.
Selamat siang semuanya. Suara rendah sedikit gemetar menghentikan kegaduhan kelas.
Sialan, duduk paling depan malah si botak yang nongol Gerutu emily sambil menunduk karna dia mengenakan sedikit riasan bibir dan pasti kena razia si botak (Pak Anton).
Mulai hari ini akan ada yang menggantikan tugas Bapak, karna bapak harus dipindah tugaskan ke SMA lain. Silahkan Pak, masuk. Dari arah pintu, masuklah sosok tampan seperti malaikat tak bersayap, dengan cahaya berbinar di sekelilingnya, lalu.. bugh buku yang ia bawa jatuh. Sontak tawa dari sebagian siswa tergelak dengan lantang.
Aih ganteng-ganteng tapi grogian gitu. Goda Emily. Ivy dan Raina saling melirik sambil menahan tawanya. Sedangkan Olin sempat sedikit membelalakkan mata lalu kemudian membuang pandangan ke arah luar jendela menampakkan lapangan hijau yang lengang.
Maaf. Ucapnya dengan senyuman ramah.
“Perkenalkan saya Alinggana Agni Arkarna. Kalian bisa panggil saya dengan nama bagian manapun yg membuat kalian nyaman. Pak Alingga, Anggana, Agni, Arka, atau apapun itu. Jelasnya dengan nada yang terdengar sangat tenang.
Kalo panggil Sayang boleh juga dong, Pak? serang Emily dengan gencarnya.
Boleh asalkan nilaimu bagus di UN, lulus dari perguruan tinggi dengan predikat sangat baik, menjadi guru atau dokter, lalu temui saya. Bagaimana, hmm  siapa namamu? Senyuman dan nada tenang tak pernah hilang dari wajahnya setiap kali ia menjawab pertanyaan iseng dari muridnya. Jawaban telak dari guruny membuat Emily terdiam dan memajukan sedikit bibirnya.
Emily Lathisha, Pak. Celetuk Rahandika.
Disudut lain, Olin merasa serangan dewa kantuk mulai merasuki dirinya yang membuatnya perlahan menyandarkan kepalanya ke dekat jendela, melipat lengannya diatas meja, merebahkan kepalanya diatas lengannya, menikmati semilir angin, lalu sedikit demi sedikit kesadarannya pergi berkelana menyusuri dunia mimpi. Suasana kelas  sedikit mencair, Pak Anton sudah beranjak dari  kelas sekitar 10 menit yang lalu.
Ketua kelasnya siapa? Tanya Lingga sembari membenarkan letak kacamata yang bertengger manis di hidungnya.
Giano Adrian, panggil saja saya Gino, Pak. Jelasnya dengan raut wajah malas-malasan.
“Oke, Gino. Lalu sekretaris dan bendaharanya siapa
Bendaharanya saya pak, kalau sekretarisnya Olin. Jawab Emily sambil menunjuk kearah belakang tanpa menolehkan badannya, masih merasa gondok dengan jawaban yang tadi dilontarkan guru tampannya ini.
Olin itu yang mana ya? pandangannya melihat ke seluruh penjuru kelas. Gino terlihat menyenggol seseorang yang tertunduk diatas mejanya.
Hmm Hanya gumaman kecil yang Gino dapat dari si putri tidur di sebelahnya. Olin merasa matanya masih digelantungi dewa kantuk dan enggan membuka, hingga sebuah usapan pada sikutnya membuatnya terganggu, lagi.
Apaan sih, Gin. Ganggu aja. Gerutu Olin seraya membuka mata perlahan, dan terbelalak seketika saat melihat yang membangunkannya bukanlah tangan Gino, melainkan tangan Pak Lingga.
Hai, namamu Olin, Ya? Sapanya dengan senyuman yang menular.
Glek terdengar Olin meneguk liurnya, terdiam untuk sepersekian detik, terpukau oleh senyuman manis dihadapannya yang begitu dekat,  lalu menjawab Iya. Dan  kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela.

Retrouvailles Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang