Prologue+Bagian 1

556 232 393
                                        

[EDITED]

my girl, I'm the idiot
Your unforgettable love, final tears
Rip my whole heart apart, rip it apart
I'm really sorry

•••

PROLOGUE

'Malam ini di cafe biasa ya, Bi'

Pesan itu segera ia kirimkan kepadanya.

'Mau ngapain? Dinner? Bukannya besok mau ke Prancis?'

Tak sampai satu menit, balasan darinya muncul di layar ponsel laki-laki tersebut.

'Iya, dan jangan dandan terlalu cantik seperti biasanya'

'Kenapa? Takut makin jatuh cinta kan kamu! Gak apa-apa biar di Prancis kamu gak selingkuh!'

Sudut bibir laki-laki itu berkedut, menahan senyum getir kala membaca balasan pesannya.

'Aku tidak bisa jika malam ini melihat make up di wajahmu terhapus oleh air mata'

Tidak, Hapus!

'Kamu tampil natural pun aku sudah sangat cinta'

'Gombal!'

'Serius'

'Baiklah, jam tujuh malam ya di cafe biasa. Kamu jangan telat! Aku tidak akan dandan berlebihan'

'Hahaha, iya sayang'

BAGIAN 1

Para pengendara roda dua ataupun empat yang berhenti  di lampu  merah mungkin mengira jika kedua remaja yang mengenakan seragam putih abu adalah pasangan yang begitu romantis.

Bagaimana tidak, Bintang menaruh dagunya di pundak Langit sambil saling memandang satu sama lain dari kaca spion kiri motor Langit. Terkadang Langit juga mengusap lutut Bintang lembut.

"Bi, hari ini lo boleh pulang telat ke rumah gak?" Tanya Langit tiba-tiba ketika ia kembali melajukan motornya karena lampu lalulintas yang berganti warna menjadi hijau.

"Boleh deh kayaknya, emang kenapa?" Bintang sedikit menaikkan volume suaranya, takut jika Langit tidak dapat dengan jelas mendengar perkataannya karena suara kendaraan yang mendominasi di sisi kiri dan kanan.

"Langit laper, Bintang mau kan nemenin Langit makan di warung soto yang deket kampus itu?" Pintanya sambil sedikit merajuk pada wanita berwajah manis itu.

"Gue nemenin lo makan doang, nih?"

"Kalau Lo juga laper kita makan bareng aja." Ujarnya tanpa melepaskan pandangannya pada Bintang di kaca spion.

"Lo yang traktir, tah?"

"Ogah ah, gue lagi gak ada duit." Tolaknya membuat Bintang memanyunkan bibirnya kesal.

"Yaudah, Lo makan sendiri aja sana. Gue juga ogah kalau cuman liatin Lo makan yang kayak kuda baru keluar dari kandangnya." Ejeknya pada laki-laki bermata hazel itu.

"Duh, malah ngehina gue." Langit berdecak kesal, "Sekali ini aja Bi, temenin gue makan, deal ya?" Langit mencoba memaksanya.

"Deal apaan? Gak mau." Tolaknya lagi.

Romantic (Langit&Bintang Book.1)Stories to obsess over. Discover now