1. Lies?

14.4K 679 2
                                        

Angin berhembus kencang menerpa keseluruhan sehingga membuat satu-satunya surai kecokelatan yang berada di singgasana menari indah menikmati semilir angin sore. Seorang gadis belia termenung seorang diri di rooftop sekolah. Ia menghembuskan napasnya pelan, lalu mengedarkan sepasang maniknya ke arah objek di depan. Entah apa yang membuat gadis ini betah menghabiskan waktu di rooftop sekolah seorang diri, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.

Sekolah sudah sepi tak berpenghuni. Bel pulang sekolah pun sudah tiga jam yang lalu berkumandang, seharusnya gadis berseragam sekolah menengah ini sudah berada di rumahnya dan beristirahat. Tetapi, ia masih betah berada di rooftop sekolah—juga tidak melakukan apapun, hanya menatap kosong yang ada di hadapannya, sama sekali tidak ada tanda-tanda untuk meninggalkan rooftop.

Kedua kakinya melayang bebas, ia duduk di bibir rooftop yang menampilkan langsung pemandangan kota di bawah sana. Sesekali netranya melirik ke bawah guna melihat keadaan. Tidak ingin mengambil resiko, akhirnya ia bangkit dan membersihkan roknya yang sedikit berdebu.

Gadis tersebut melangkahkan kaki keluar dari pintu rooftop untuk pulang ke rumah, karena hari sudah hampir gelap, apalagi sekarang ia sedang berada di sekolah yang tidak ada seorang pun selain dirinya.

Rasanya tidak lucu jika nanti makhluk tak kasat mata menampakkan wujud di hadapannya dengan organ-organ yang tidak dilapisi oleh kulit dan bagian tubuh yang tidak lengkap.

Ia bergidik ngeri dan dengan cepat memacu langkah kakinya menuju gerbang sekolah, untung saja pagarnya tidak dikunci jadi ia tidak perlu khawatir untuk pulang.

Gadis itu berjalan seorang diri menuju sebuah halte yang berada tidak jauh dari sekolahnya, menunggu transportasi umum yang rasanya tidak mungkin akan lewat. Mengingat sekarang hari sudah mulai gelap dan jalanan juga nampak sepi, sama sekali tidak ada yang melewati kawasan sekolah. Tidak ingin menunggu lama lagi, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon seseorang menjemputnya.

'Kak apa kau bisa menjemputku?'

'....'

'Baiklah, aku menunggumu di halte, kuharap Kakak cepat menjemputku, aku sendirian di sini'

'....'

'Aku matikan teleponnya'

Ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan memasukkan ponselnya ke dalam tas ransel merah, lalu menggerakkan kakinya secara tidak karuan.

Tidak lama kemudian ada sebuah mobil silver yang berhenti di hadapannya, ia pun bergegas menuju mobil tersebut dan masuk ke dalam.

"Kau ke rooftop lagi?" tanya seseorang yang berada di kursi pengemudi begitu gadis berseragam telah duduk di sampingnya.

"Eoh. Rooftop sudah menjadi tempat favoritku yang kedua setelah kamarku," sahutnya.

Gadis tersebut mengambil sebuah earphone yang ada di dashboard mobil dan memasangkannya di kedua lubang telinganya, lalu menyetel salah satu lagu favoritnya yang ada di ponsel.

"Tempat favorit macam apa itu? Sama sekali tidak menarik, tidak sekalian saja kandang babi menjadi tempat favoritmu juga."

Gadis yang bernama Park Hyun itu sama sekali tidak mengindahkan ocehan dari kakaknya, sepasang netranya terpejam lalu menyenderkan kepalanya di jendela mobil.

Terjadi keheningan beberapa saat sebelum lelaki yang mengemudi mengeluarkan kembali suaranya, "Tadi aku bertemu dengan Jungkook."

"Aku melihat dia bersama gadis lain, sepertinya mereka pacaran," imbuhnya. Tetapi perkataannya sama sekali tidak mendapat respons dari lawan.

[Completed] Premier AmourWhere stories live. Discover now