Aroma sedapnya roti panggang yang tak asing bagiku,telah menyebar ke setiap sudut ruang makan. Seperti hari-hari sebelumnya setiap pagi ibu selalu membuat roti panggang. Karena roti panggang sudah menjadi makanan favoritku jadi aku tak pernah bosan jika setiap pagi aku sarapan dengan roti panggang.
"Hari ini kamu pergi kemana clara?"tanya ibu yang sedang mengoleskan mentega ke roti panggang buatannya.
Ya namaku Clara dan aku punya adik bernama Clarisa. Sebenarnya kami saudara kembar tapi tak seiras, karna banyak orang yang mengatakan bahwa aku dan Clarisa tidak mirip. Hanya mata dan rambut kami saja yang sama.
"Kuliah bu, pulang kuliah latihan vokal" jawabku,Lalu kumakan roti panggang yang telah ibu hidangkan untukku. Dari kecil aku hobby sekali menyanyi dan saat ibu yakin bahwa aku berbakat dalam menyanyi ibupun mendaftarkan ku ke suatu tempat les vokal dan sampai saat ini aku masih latihan disana. Saat SD,SMP dan SMA aku selalu mengikuti ekskul paduan suara dan aku juga sudah banyak menjuarai lomba-lomba di berbagai tingkatan mewakili sekolah.
"Kamu Risa?"tanya ibu pada Clarisa
"Aku engga kemana-mana ko bu. Hari ini aku libur kuliah" jawabnya sambil menguyah roti panggangnya. Clarisa dan aku masuk di kampus yang berbeda,waktu dulu ibu ingin mendaftarkan kami di kampus yang sama tapi Clarisa menolak dan ntah apa penyebabnya dia tak ingin satu kampus dengan ku.
"Jadi bisa bantu-bantu ibu nih dirumah" ledek ibu pada Clarisa. Lalu kami sarapan bersama dan di selingi canda tawa.
Saat ini di keluargaku hanya ada ibu, aku dan Clarisa. Ibu sudah menjadi janda selama 5 tahun. Karena dulu ayah dan ibu bercerai. Saat orang tua ku bercerai dan ayah pun pergi meninggalkan rumah awalnya aku merasa sangat sedih hingga sampai 1 minggu aku tak sekolah dan 3 hari aku mengurung diri di kamar. Tapi aku sadar bahwa masih ada ibu dan Risa bersamaku, aku berfikir aku tidak boleh seperti ini terus. Lalu aku berusaha bangkit kembali dan menjalankan kegiatanku seperti biasa tapi tanpa adanya sosok ayah.
Ting...Tong...
Tiba-tiba bel rumah berbunyi menghentikan canda tawa kami sedari tadi, lalu ibu segera berdiri dari kursi dan berjalan untuk membukakan pintu. Dan beberapa saat kemudian ibu kembali keruang makan lalu menghampiriku.
"Di depan ada pacarmu lagi nungguin tuh" bisik ibu ku dengan nada meledek.
Dan aku memasang ekspresi bingung karena aku tidak merasa punya pacar."pacar?Reno yang ibu maksud?" Tanyaku bingung.
Lalu ibu hanya menaik turunkan alisnya sambil tersenyum meledek." Ibuuu dia itu sahabat ku tau" rengek ku, dan ibu hanya tertawa kecil. Lalu aku berdiri dari tempat duduk dan memakai tas ku," yaudah ya bu Clara berangkat" pamitku sambil mencium tangan dan pipi ibuku.
Dan sedari tadi Risa hanya diam dengan ekspresi bingung sambil tetap mengunyah rotinya.
"Hai" sapaku pada Reno yang sedang duduk dibangku teras rumah.
"Oh hai" sahutnya
"Sorry ya nunggu lama" ucapku
"Engga ko, udah yu berangkat entar telat lagi" ucap Reno sambil melihat jam tangannya.
Lalu Reno membukakan pintu mobilnya untukku,segera aku masuk kedalam mobilnya dan kamipun berangkat menuju kampus.
RENO ALVARO namanya aku dan dia sudah bersahabat sejak kecil. Dan saat ini kami satu kampus karena dulu ibuku dan mamahnya Reno mendaftarkan kami bersamaan dan kami juga diterima di kampus itu. Waktu dulu kami juga satu sekolahan hingga sekarang tapi anehnya aku dan dia tak pernah sekelas sama sekali.
Dulu sebenarnya kami tidak pernah berangkat bersama tapi saat masa-masa SMA dan Reno sudah di izinkan membawa kendaraan sendiri Renopun mengajakku berangkat bersama. Setiap hari pulang dan berangkat bersama,pada awalnya aku merasa senang saat dia selalu menjemput dan mengatarku tapi lama kelamaan aku merasa tidak enak karena aku tidak mau merepotkannya tapi Reno malah sebaliknya. Hingga sampai saat ini kami selalu pergi bersama.
"Pulang kuliah kamu kemana?" Tanyanya sambil keluar dari mobil dan bergegas membukakan pintu mobilnya untukku saat sudah tiba di kampus.
"Mm...aku ada latihan vokal ditempat biasa" jawabku
"Ok aku yang antar" ucapnya. Sambil berjalan bersamaku menuju kelas dengan membaling-balingkan kunci mobilnya keatas.
"Eng..."
Memotong ucapanku " AKU GAK TERIMA PENOLAKAN" tegasnya sambil menatapku tajam dengan bola matanya yang berwarna coklat pekat lalu ku balas tatap tapi aku tak berani menatapnya lama.
"B baiklah" ucapku gugup dengan kepala tertunduk.
Lalu kami meneruskan langkah kami dengan canda tawa, lalu kamipun berpisah karena kelas ku dengannya tak searah.
***
Beberapa jam berlalu dan waktu pulang pun tiba, segera ku rapihkan buku-buku dan alat tulis yang ada dimeja ke dalam tas. Saat aku keluar kelas aku terkejut karena melihat Reno yang berdiri di samping pintu kelasku dan sepertinya sudah menungguku dari tadi.
"Ko kamu udah disini?" Tanyaku.
"Iya soalnya tadi dosennya keluar lebih cepet" jawabnya dengan sikap dingin karena dia merasa cewe-cewe dari kelas ku selalu memperhatikannya."ayo berangkat" sambil menggandeng tanganku.
"Emangnya kamu gak ada acara?" Tanyaku lagi
"Mm..adasi bareng anak-anak basket, tapi biarinlah paling cuma kumpul-kumpul kaya biasa. Lebih baik aku nemenin kamu" jawabnya dengan senyumannya yang manis dan sikap dinginnya sudah hilang karena dia merasa sudah tidak ada cewe-cewe tadi.
Reno adalah salah satu tim basket di kampus, sudah terlihat dari badannya yang tinggi hingga saat aku ingin menatapnya aku harus mendongakkan kepalaku dulu sedikit karena tinggiku dan tingginya cukup berbeda jauh dan tak heran jika banyak wanita yang memperhatikannya karena memang aku akui bahwa sahabatku ini tampan dan memiliki mata dengan tatapan yang tajam tapi dia juga memiliki sikap dingin.
"Kenapa kamu nganggep kaya gitu?"
" ya terus mau gimana?" Dia malah balik bertanya dan aku hanya bisa diam sambil tertunduk.
Saat sampai di parkiran kami langsung masuk ke mobil dan bergegas berangkat ke tempat latihan vokalku.
***
"Ok kita sudah sampai" katanya sambil memarkirkan mobil putihnya,lalu ia segera keluar dan membukakan pintu mobilnya untukku.
"Aku bisa sendiri no" keluhku sambil keluar dari mobil.
"Usstt..." sambil meletakkan jari telunjuknya ke depan mulutku.
Lalu aku hanya diam dan memutar bola mataku malas.
"Ayo masuk" ajakku.
Saat sampai didalam tanpa berkutik Reno langsung duduk di salah satu sofa yang ada tepat di depan ruang latihanku. Ntah kenapa setiap dia menemaniku kesini dia pasti duduk di sofa itu. Aku pernah tanya kenapa dan katanya si biar dia bisa liat aku saat latihan. Karena pintu ruang latihanku ada kacanya di setengah bagiannya jadi dia bisa liat ke dalam dan aku bisa liat keluar juga.
"Hai kak Andi" sapaku pada pengajarku.
"Hai Clara, hai Reno" balasnya sambil melambaikan tangannya ke arah aku dan Reno.
"Hai kak" balas Reno sambil tersenyum, lalu Reno mengeluarkan sketch book dan pensil dari tasnya.
"Aku masuk ke dalam dulu ya" ucapku pada Reno yang kini tengah sibuk dengan sketch book dan pensil.
"Ok semangat ya My Golden Voice" katanya.
Saat aku ingin masuk keruangan aku mendengar sesuatu yang aneh dari ucapan Reno tadi yang membuatku menghentikan langkahku."mm..tadi kamu ngomong apa?" Tanyaku ragu.
"Semangat latihannya my golden voice" jawabnya santai dengan ekspresi datar. Dan kata-kata itu membuatku terkejut kedua kalinya.
"D dari mana kamu dapat kata-kata itu?"tanyaku gugup. Lalu Reno mengarahkan jari telunjuknya ke depan dada bidangnya.
"Dari sini" ucap Reno sambil tersenyum. Dan tiba-tiba aku merasa pipiku panas dan jantungku berdetak lebih cepat saat aku mendengar kalimat yang Reno ucapkan.
"Claraa ayo jadi latihan gak?"teriak kak andi dari dalam ruangan yang sudah menunggu cukup lama.
"Oh i iya ka" sahutku. Lalu ku teruskan langkahku kedalam ruangan.
Maaf ya kalau critanya rada maksud ini crita pertama aku soalnya:b. Makasih yang udah sempet baca crita aku:) baca terus ya critanya sampai selesai.
Oh ya, crita ini tuh cuma mengambil tokohnya beberapa gak banyak jadi kalau di dalam critanya seringnya keluar nama itu lagi maklum ya:v.
Kalau ada kesalahan maaf dan jangan lupa vote and comentnya. "Makasih"
HAPPY READING(:
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Yang Mungkin Akan Usang
RomanceTerima kasih telah datang dan buat hari-hariku menjadi bahagia,walau itu tak selamanya. Tapi aku akan buat kamu selalu bahagia dengan semampuku. Hingga ajal yang akan memisahkan kita. Setidaknya kita pernah bahagia bersama walau tak bersatu. "Aku mi...
