Mungkin benar kata mereka. Aku lupa pada apa yang pernah aku miliki. Disaat kau menggenggamku erat, aku ingin melepasnya begitu saja. Kesannya egois. Aku bodoh. Aku rembulan yang membanggakan diri dengan sombongnya. Aku merasa bahwa aku terbaik dari semuanya. Tapi, aku lupa bahwa sinarku dari bintang-bintang yang berdiri di sampingku. Aku lupa semuanya. Aku diam bukan berarti aku tidak peduli. Mengertilah, ada rasa yang tidak bisa ku tunjukkan padamu. Ada rasa yang menyedihkan dan aku tidak mau kau turut merasakan. Sudah.
Silahkan salahkan aku. Karena memang hanya manusia bodoh yang dengan mudahnya melupakan orang-orang yang berdiri untuknya. Ada sedih yang ingin ku nikmati sendiri. Ada sedih yang ingin ku lebur sendiri. Karena senyum mu terlalu indah bila hancur karena ku. Mungkin caraku pun salah. Tapi, ku mohon. Ada rasa yang tidak bisa dipahami orang lain. Hanya aku dan Tuhan yang tahu itu. Meski begitu, aku selalu membagikan bahagiaku denganmu. Apa saja. Asal kau bahagia, aku pun demikian.
Mungkin di hadapanmu, kau melihatku tertawa dengan kerasnya. Menertawakan arus kehidupan yang berjalan di sekitar kita. Kau melihatku seakan tidak ada beban hidup yang ku tanggung. Iya, kau melihatnya. Hanya bersamamu aku merasa hidupku ringan. Aku tertawa tanpa ada dinding yang membatasiku. Aku bebas. Meski terkadang aku selalu menyamarkan semuanya dengan senyum lebarku.
Tapi, aku bahagia milikimu~
KAMU SEDANG MEMBACA
Alur
PuisiHanya sekumpulan sajak atau mungkin bukan. Sebatas tulisan yang gak tau harus diapakan, yang seharusnya tersampaikan tapi tidak bisa. Atau mungkin tulisan tak berarti yang ingin dituliskan tapi tak bisa dihapuskan. Ini alur. Alur dari roda kehidupan...
