Prolog

82 9 2
                                        

"Na, Na, bisa dengerin gue gak sih?" Tanya Dean yang lebih terdengar seperti seruan pada Reina.

"Udahlah, Yan! Gue gak butuh orang kaya lo! Yang sengaja ngemanfaatin kematian pacar gue demi dapetin gue!" Seru Reina, setengah terisak. Ia terus melangkahkan kakinya di koridor sekolah yang sepi.

Hingga Dean berhasil menggapai pergelangan tangan gadis itu. Membuatnya harus menghentikan langkahnya. Lalu menangis sejadi jadinya.

Dean membalik tubuh Reina, dan menangkup wajah pucat gadis itu dengan telapak tangannya. Ia menatap sendu ke arah mata Reina yang masih terisak.

"Gue ngaku, gue udah lama suka sama lo, Na. Tapi semua yang lo bilang tadi, itu semua nggak bener. Niat gue beneran pengen bikin lo balik jadi Reina yang dulu. Gue cuma pengen ngehibur lo, Na. Kalaupun lo bisa balik kaya dulu dan bisa bales perasaan gue, itu bonus tersendiri dari Tuhan buat gue." Dean masih menatap manik mata indah Reina. Mencoba menenangkan gadis itu.

Reina mengusap telapak tangan Dean yang masih menangkup wajahnya. Menggenggamnya dengan erat lalu menghentakkannya dengan kasar.

Ia melangkahkan kakinya ke belakang, selangkah dari posisinya tiga detik yang lalu.

PLAK!

Sebuah tamparan hangat mendarat mulus di pipi Dean Revano. Membuatnya berubah menjadi kemerahan.

"Cowok brengsek! Manusia apa lo?! Lo pengen gue seneng seneng disaat kaya gini! Lo kira Juna sama sekali nggak berharga di hidup gue?! Hebat banget ya, lo pengen gue ketawa ketawa disaat gue kehilangan salah satu orang paling berharga di hidup gue. Cowok kaya lo lebih pantes disebut Anjing tau nggak!!!" Bentak Reina, amarahnya sudah benar benar di atas ambang batas.

"Bukan gi-"

"Gak usah ngelak deh, Yan! Mulai detik ini, stop ikut campur urusan dan hidup gue! Gue gak butuh dukungan atau nasehat dari lo! So, stop bothering my life!"

☁️☁️☁️

Reina benar benar kehilangan sosok Juna di hidupnya. Satu setengah tahun bersama bukanlah waktu yang sebentar. Terlalu banyak kenangan indah bersamanya yang tak dapat dilupakan begitu saja.

Disisi lain, ada Dean. Teman sekelas Reina yang diam diam selalu memperhatikan gadis itu. Dean telah jatuh hati pada Reina jauh sebelum gadis itu mengenal Juna. Niat baiknya untuk menghibur Reina selalu disalahartikan oleh gadis itu. Dean hanya merindukan sosok Reina yang ceria, apakah itu salah?






"Aku hanya tidak tega melihat wanita yang paling kucintai setelah ibuku terlalu larut dalam kesedihannya. Tolong hargai aku sedikit saja, Reina."
-Dean Revano




"Aku sangat kehilangan Juna. Apakah larut dalam kesedihan yang mendalam itu salah?"
-Reina Anindita






...

BlindedWhere stories live. Discover now