"Mengenal dirinya membuka hati dan mulutku untuk pertama kali mengatakan, aku mencintainya."
-Arsy Adelianti
"Perempuan itu aneh. Sudah disakitin berkali-kali, tapi hatinya masih aja percaya sama orang yang nyakitinnya. Cinta? Serius? Cinta makan hati?"
-Rivan Ardhan Asetya.
***
Palembang, 2017
Usai sudah masa putih biru. Masa di mana menemukan teman-teman terbaik, dikenal guru dan menjadi juara umum, serta menjadi kebanggaan orangtua tentunya. Bulan depan, gadis itu memasuki kelas sepuluh dan resmi memakai seragam putih abu-abu. Ini masa sekolah yang diidam-idamkannya, yakni bertemu siklus pangeran tampan layaknya buku novel teenlit yang sedang ia baca.
Gadis itu sedang melipat baju seragam SMP-nya dan menyimpan ke dalam lemari pakaian. Kemudian ia beranjak ke luar kamar, berdiri tepat di depan kamar dan mata cokelatnya mengamati sekeliling. Terlihat Anna, ibunya sedang sibuk di dapur membuatkan mereka makan malam, sedangkan Ari, ayahnya sedang serius dengan acara pertandingan bola di ruang keluarga.
Keluarga yang dibilang cukup 'harmonis' ini hanya memiliki seorang putri cantik bernama Arsy Adelianti, seorang gadis yang berat badannya tidak sepadan dengan tinggi badannya. Ia bersikap bodoamat soal berat badannya yang tidak ideal. Yang terpenting, perutnya tidak akan mengalami masalah lambung. Kalau bisa makan hari ini, ya makan.
Arsy juga adalah anak satu-satunya Ari, maka tak jarang gadis ini menjadi anak yang cerewet dan egois, susah diatur. Terlebih untuk urusan sekolah, Arsy ingin satu sekolah lagi dengan teman SMP yang selalu berada di dekatnya hingga sekarang, yaitu Rivan. Tapi, itu tidak mungkin terjadi, karena ayah Rivan ingin anaknya ke SMK, sedangkan ayah Arsy ingin anaknya SMA.
Dulu SMP, di sekolah mereka Rivan dikenal hampir seluruh kelas. Baik adik kelas, kakak kelas, dan seangkatan. Walaupun begitu, Rivan hanya dekat dengan satu orang, yaitu Arsy. Alasannya simpel, Arsy itu orangnya tidak mulut ember dan tidak banyak basa-basi. Dijamin deh, kalau sahabatan sama Arsy, rahasianya aman. Salah satu rahasia Rivan yang tersimpan rapi dengan Arsy: sampai detik perpisahan SMP, Rivan belum kunjung untuk menyatakan perasaannya pada Della, yang katanya cinta pertamanya.
Rivan selalu mencoba menyatakan aku cinta kamu, tapi bukan dengan Della, melainkan pada Arsy. Hanya sekedar menguji kemantapan hatinya menembak Della, sang pujaan hati tapi nyatanya selalu gagal untuk diucapkan Rivan.
Selain hal rahasia, Rivan dan keluarganya Arsy pun saling mengenal. Mereka bertetangga sudah lebih dari lima tahun yang lalu, dan Rivan sudah menjadi bagian dari keluarga Arsy begitupun sebaliknya.
***
Malam ini, Arsy membawa sepiring pisang goreng hangat buatannya sendiri lalu duduk di sofa empuk, menemani Ayahnya dengan nonton bola bersama. Ia sedang men-scroll layar ponsel dan melihat grup kelasnya yakni 9-C sedang ramai mengucapkan terima kasih, maaf, semoga dan sampai jumpa. Banyak harapan untuk mereka di masa SMA yang akan segera dimulai.
Arsy tersenyum lalu mengetik. Dalam pesan tersebut ia mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang mengajarkannya arti solidaritas dalam berteman. Ada yang terpenting dari sebuah waktu, yaitu pengalaman. Seberapa mahalnya pengalaman itu menjadikannya lebih baik dari sebelumnya. Ia sangat berterima kasih telah menjadi wakil ketua kelas selama kurang lebih satu tahun, bersama teman-temannya yang mengasyikkan dan mudah sekali diatur.
Pada saat iklan TV, Ayah Arsy tiba-tiba merangkul dan mengelus rambutnya. "Dek, nanti sewaktu SMA ya, jangan libatin perasaan. Ayah tau, nanti kamu pasti terlibat dalam hal cinta monyet. Tapi jangan buat ayah kecewa ya? nanti nilainya bakalan turun, ayah ga mau anak ayah disakiti oleh laki-laki selain ayah, yang berani-beraninya ngatur anak kesayangan ayah. Terus, Jangan terlalu bermalasan. karena kita tidak pernah tau, apa yang orang lain sedang lakukan saat kita sedang bermalasan. Janji ya?"
Arsy diam mendengar nasihat sembari menekan tombol on/off pada layar ponselnya. Mata Arsy melihat ke arah TV, tapi pikirannya entah kemana.
Tiba-tiba pintu utama diketuk. Ayah pun bergegas untuk membuka pintu. Rivan datang kerumah membawakan sebuah kotak titipan dari Ayahnya pada Ayah Arsy.
"Ngga masuk dulu, Van? Itu Arsy lagi makan pisang goreng buatannya sendiri."
"Oh, ngga Om, langsung pulang. Mau nge-pack barang-barang." ucap Rivan tersenyum lebar, sebenarnya ia tak enak hati menolak ajakan ayah Arsy.
"Oalaah udah mau liburan ya ternyata. Iya-iya Om tau besok kalian sudah mau perpisahan, dan nanti bakal libur panjang," Ari menepuk bahu Rivan, "jadi kamu lanjut ke mana?"
"SMK Trisakti jurusan Teknik Listrik, Om." Terang Rivan.
Ari terkejut, "loh, jauh sekali? Perginya naik apa?"
"Besok setelah perpisahan, rencananya udah mulai pindahin barang-barang. Kami mau pindah rumah dekat dengan sekolah, Om."
"Wah bakal jauh sekali ya, kalau butuh Om, bisa hubungin ke nomor biasanya. Jangan sungkan-sungkan," ucap Ari yang sekaligus seorang pengacara handal, "tetep komunikasi sama Arsy walaupun jarak kalian jauh. Sekarang, ada smartphone yang lebih smart dari manusia."
"Oke siap-siap, Om. Om mah, kaya Rivan tuh mau ke luar kota aja. Kan masih di Palembang, Om. Yaudah, Rivan pamit pulang dulu, Om! Assalamualaikum." Rivan dari jauh melihat pipi Arsy yang gemas melahap pisang goreng. Pipinya Arsy seperti bakpao. Mengembang.
"Waalaikumussalam, hati-hati bocah." jawab Ari.
Di dalam, Arsy melambaikan tangannya, tak tau apa yang diucapkan Ayahnya dan Rivan. Setelah itu Rivan segera pergi dan Ayah langsung menutup kembali pintunya.
"Yah, kok Rivannya malah pulang sih?"
Ayah Arsy hanya menggerdikkan bahunya, saatnya kisah ini dimulai. Pikir ayahnya.
--
HALLOOOO! ini cerita pertama yang dibuat di wattpad ku. Cerita ini dikemas dari segelintir permasalahan anak SMA yang dikumpul menjadi satu menjadi sebuah cerita. Bantu vote ya, semoga ceritanya bisa lanjut sampai akhir.😊
Nanti lama-kelamaan ceritanya panjang kok. Maaf ya untuk awal-awal part pendek dulu. Lagi usaha buat jadi panjang lagi. Salam kenal, dari Lia.
STAI LEGGENDO
Trust
Teen FictionPersahabatan antara lelaki dan perempuan, tidak hanya sekedar persahabatan. Pasti, salah satu diantaranya mempunyai perasaan. Jika salah satu mengatakan perasaannya, apakah itu akan berbalas? Ataukah mereka malah berjaga jarak dan saling melupakan...
