Hari senin yang cerah. Tak seperti hari senin biasanya. Hari ini adalah hari pertama MOS untuk para siswa siswi baru SMA Gerilya. Atau bisa dikatakan hari pertama Rani sekolah di sekolah barunya setelah kepindahannya saat setelah lulus SMP.
Meninggalkan sahabat-sahabatnya adalah hal yang sangat menyakitkan bagi Rani, pasalnya mereka sudah layaknya seperti saudara sedarah.
"Anak baru semuanya berkumpul di lapangan upacara! Gak pake lama! Dalam satu menit semuanya sudah ada!" Teriakan itu terdengar sangat jelas hingga menyusuri seluruh ruangan aula itu.
Mendengar teriakan itu, seluruh anak kelas X dengan sigap mengikuti perintah dari kakak kelas itu yang jabatannya adalah ketua panita lapangan.
Dia sangat ditakuti oleh anak kelas X, bagaimana tidak dengan tampangnya yang sangat dingin dan juga dengan tatapannya yang tajam.
Siswa siswi berkumpul sesuai dengan gugus mereka. Jumlah semua gugus adalah 13.
"Nama kamu siapa?" suara itu terdengar pelan namun jelas ditelinga Rani. "Oh, kamu bicara dengan saya?" jawabnya dengan senyum tipisnya,
"Iya, nama kamu siapa?" jawabnya dengan nada yang pelan agar tidak ketahuan oleh kakak kelas yang sedang mengamati satu per satu siswa siswi baru.
Rani tersenyum sesekali dia melihat keadaan sekitar sebelum menjawab pertanyaan dari siswi yang berada disampingnya itu. "Nama saya Rani, namu kamu siapa?" jawabnya dengan nada pelan.
"Nama saya Ahra. Semoga kita dapat berteman dengan baik" jawabnya dengan nada pelan sembari mengulurkan tangannya sebagai tanda awal dari pertemanan.
Rani membalas uluran tangan Ahra dan senyumnya mengambang dengan sangat jelas.
"Itu yang lagi salam-salaman senyum-senyuman lagi ngapain? Lagi maaf-maafan habis lebaran gitu? Atau lagi kenalan? Iya?"
Teriakan itu berdengung dan terdengar sangat jelas. Sontak dua orang itu kaget dan ketakutan.
"Iya nih kak, kita lagi kenalan. Oh maaf kak, kami gak dengerin apa yang kakak sampain diatas" seru seorang siswi yang arahnya dari belakang tak jauh dari tempat Rani dan Ahra.
Dia adalah Feby, ketua Cheerleader dan sekaligus sekretaris umum OSIS. Dia mendapatkan julukan ratu singa, karena sikapnya yang seenaknya yang hanya bermodalkan jabatannya dan ketenarannya.
Tatapan tajam mendarat tepat dihadapan Rani. Ya, siapalagi kalau bukan Kak Aldan, Ketua Panitia MOS sekaligus Ketua umum OSIS.
"Tau gak kalian ini lagi dimana? Dan ngapain? Kenalan ada waktunya, entar juga kalian dikasih waktu untuk istirahat sekaligus kalian disitu kenalan atau kenalannya disaat kalian udah masuk sekolah! Ngerti?" Aldan dengan tatapan tajamnya dan wajah yang datar
"Gak usah kalian jawab, malas gue denger alasan-alasan yang gak masuk akal" tambahnya dan kemudian pergi meninggalkan bekas tatapan yang tajam.
Rani dan Ahra memperhatikan punggung Aldan yang semakin menjauh.
Rani dan Ahra terdiam dan sadar siapa yang sedang mereka hadapi.
Rani menggigit bibirnya yang kering itu saat mendapati dirinya sedang diperhatikan oleh beberapa kakak kelas.
-----
Rani menghela napas. ia mengingat kembali kejadian tadi. Dia bingung, apa dia harus meminta maaf dengan Ahra atau tidak.
Dia menatap jam dinding dan tepat menunjukkan jam sepuluh malam. Dia sangat lelah dengan semua yang terjadi hari ini.
Tiba-tiba telponnya berdering. Dilayar ponselnya itu tertera dengan jelas
Ahra Meisya added you as friend by LINE ID
Matanya terbelalak mulutnya ternganga apa dia salah liat? Sepertinya tidak
Ahra Meisya: Ran
Ahra Meisya: Ini gue Ahra. Masa iya gak ingat.
Ahra Meisya: P
Dengan tanpa basa basi lagi Rani membalas pesan temannya itu
Rani Putri A: Iya Ra?
Rani Putri A: Ada apa?
Dalam waktu kurang semenit pesan kembali masuk
Ahra Meisya: Besok aja Ran udah malam juga. Pas pulang aja, entar kayak tadi hehe.
Dia tersenyum tipis saat dia kembali mengingat kejadian tadi pagi
Rani Putri A: Oh iya, ok.
Sebuah percakapan singkat itu menjadi penghantar tidurnya. Walaupun sesekali dia merasa cemas tentang apa lagi yang akan dia hadapi keesokan harinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feeling
Teen Fiction"Cinta tahu kapan dia harus berhenti dan kapan dia harus berjuang dan memperjuangkan. Kisah cinta ada yang simple ada yang rumit ada yang indah dan ada juga yang menyakitkan. Cinta tahu arah yang mana akan dia tuju dengan sebuah kepastian"
