Tok... tok... tok...
"Yerra bangun, Yerra!" panggil seorang wanita dari luar kamar putrinya. Dinda merasa aneh, kenapa putrinya tak kunjung membuka pintu karena khawatir Dinda memanggil Dimas suaminya untuk membuka pintu.
Saat pintu berhasil terbuka, sepasang suami-istri itu kaget melihat anaknya terbaring lemas di lantai. Mereka melihat sebuah tali yang diikat menggantung di atas tubuh sang anak. Dimas segera memeriksa nadi putrinya. Menyadari bahwa masih ada kesempatan untuk menyelamatkan putrid tunggalnya itu, dia segera membopong anaknya ke rumah sakit.
Rumah sakit...
Terlihat seorang dokter keluar dari ruangan ICU
"Jadi bagaimana dengan anak saya," tanya Dimas tidak sabar
"Anak bapak baik-baik saja, tapi saya rasa kepalanya mengalami benturan yang cukup keras. Dan itu mengakibatkan kesadarannya hilang untuk waktu yang tidak bisa di tentukan. Kita akan tunggu tiga hari, bagaimana respon anak bapak ." jelas dokter tersebut.
***
Pov Yerra
Rasa sakit di kepala menjalar ketubuhku, perlahan aku membuka mata.
dimana ini? Batinku.
Aku melihat sebuah ruangan yang serba putih.
Apakah aku sudah Mati?
Aku berdiri perlahan, berusaha mengingat-ngingat hal terakhir yang aku lakukan, dan kabar buruknya aku tidak mengingat apapun. Hingga terlihat sebuah cahaya putih aku mendekat dan dengan berani menembus cahaya itu.
Tiba-tiba aku berada di sebuah ruangan yang penuh dengan rak dan buku, aku seperti pernah melihatnya tapi lupa dimana dan kapan. Pandanganku jatuh pada seseorang yang sedang duduk di kursi dengan buku ditangannya.
"Permisi, boleh beritahu aku dimana ini?" dengan sopan aku bertanya padanya berharap dia dapat membantu. Laki-laki itu hanya diam, seolah aku tidak ada disana. Aku menepuk pundaknya dan meneriaki telinganya tapi hasilnya sama saja.
aku membuang pandanganku kearah lain, dan jatuh pada laki-laki yang sedang berdiri melihatku dengan intens. Saat itu aku tersenyum senang, lalu menghampirinya. Tapi dia malah berlari menjauhinku, aku mengejarnya hingga masuk kedalam sebuah ruangan yang di penuhi dengan laki-laki dan perempuan berpakaian sama.
aku mengedarkan pandanganku dan sampai pada satu titik, tempat paling belakang dimana laki-laki itu duduk. Aku berjalan kearahnya tapi anehnya orang-orang disana tidak menyadari kehadiranku. Aku mencoba menanyai salah satu perempuan yang sedang duduk sendirian.
"Permisi, bisa beritahu aku dimana ini?" lagi lagi pertanyaanku di abaikan, aku menepuk pundak perempuan itu. Tapi tanganku tidak bisa menyentuhnya aku berusaha berkali-kali hasilnya tetap sama.
Apakah aku benar-benar sudah mati? Batinku. Aku melirik sekilas laki-laki tadi lalu segera pergi dari ruangan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hureasion (On Hold)
RomanceAku ilusi dan kamu manusia diantara mimpi dan ilusi.
