Seorang gadis tengah sibuk memilah buku-buku yang berserakan di ranjangnya. Arazya Stefani Miller, hanya menatap kesal dan melempar asal salah satu buku tebal yang kini nasibnya tengah berada di lantai.
Ia sudah telat lebih dari sepuluh menit. Sudah dapat dipastikan bahwa Ara akan mendapatkan hukuman karena terlambat datang ke sekolah.
Selang beberapa menit kemudian Ara pun menemukan buku yang ia cari daritadi dan lekas memasukkannya ke dalam tas sekolah dan bergegas memakai sepatu lalu berlari keluar rumah mencari taksi.
"Astaga aku telat 30 menit!" decak kesal Ara sembari melambaikan tangannya yang mungil ke arah taksi tidak jauh dari tempat ia berdiri.
Ara masuk ke dalam taksi dan perlahan taksi mulai melaju menembus jalanan.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Ara tidak lupa membayar dan langsung turun dari taksi, berlari menuju gerbang yang di dapatinya sekuriti yang menjaga di sana.
"Sudah telat berapa jam nona?"
"Maaf saya tadi kesiangan, tolong bukakan gerbangnya pak saya mohon,"
"Tapi kamu sudah telat lebih dari waktu toleransi aturan sekolah!" ucap sekuriti itu dengan tegas.
"Saya minta maaf pak, saya janji tidak akan telat lagi."
"Maaf aturan tetap aturan, lebih baik sekarang kamu pulang!"
"Tapi pak--"
"Maaf nona, peraturan tetaplah peraturan!" tegas sekuriti tersebut sekali lagi.
Bagaimanapun juga Ara telah berjuang demi sampai ke sekolahnya dan sekuriti tersebut dengan enteng menyuruhnya balik ke rumah? Padahal ia ada tes matematika hari ini.
Tentu saja Ara tidak terima. Ia bersusah payah datang dengan niat bersungguh-sungguh ingin menimba ilmu tetapi malah diusir. Dan ya, pada akhirnya ia melewatkan pelajaran-pelajaran yang baginya sangatlah penting itu.
Tidak dapat dipungkiri Ara benar-benar kecewa saat ini. Ia tidak mampu menahan rasa panas di pelupuk matanya. Sebulir air mata pun menetes ke pipi dan mulai membanjiri wajah cantik Ara.
Silahkan sebut dia cengeng, lemah atau apalah. Memang pada kenyataannya ia memang lah gadis yang seperti itu.
Dengan berat hati Ara berjalan menjauhi gerbang sekolahnya dan berniat balik ke rumahnya yang terhitung lumayan jauh jaraknya dari sekolahan.
Ara tidak memiliki uang lebih untuk balik ke rumahnya, karena ia biasanya akan menumpang dengan temannya ketika sepulang sekolah.
Sepanjang jalan Ara tidak henti-hentinya menangis sesenggukan dan terus-terusan mengusap air matanya yang berjatuhan.
Dalam hati Ara menerka-nerka apa yang akan dipikirkan orang tuanya nanti jika mereka mengetahui anaknya bolos sekolah. Memang tidak bisa dibilang ia bolos, tetapi apa bedanya?
Baginya, ia telah membolos dan hal itu tentu saja tidak akan diterima begitu saja oleh orang tuanya terutama oleh ayahnya.
Ayahnya sangatlah keras dalam mendidik anaknya. Terlebih lagi Ara merupakan satu-satunya anak di keluarganya. Ia tidak memiliki saudara maupun saudari kandung lainnya. Ya, hanya ia sendiri.
Wajar orang tuanya hanya terfokus kepadanya, karena ia anak satu-satunya pewaris dari keluarganya. Keluarga Ara tidaklah disini, di Amerika. Ara hanya sendirian disini. Keluarganya berada di Belanda dan menetap disana.
Ara bisa berada disini karena dikirim langsung oleh kedua orang tuanya untuk menimba ilmu. Karena ayahnya tidak ingin kelak Ara menjadi anak yang manja ke depannya yang tidak mampu belajar mandiri.
YOU ARE READING
Bad Things
FanfictionDapatkah Alex Martino Dale menemukan seorang perempuan yang cukup sabar menghadapi dan menerima segala hal buruk yang dilakukannya yang membuat siapapun tidak akan tahan berlama-lama berdekatan ataupun memiliki hubungan dengannya???
