Pagi kembali datang dengan terik cahayanya menyinari sebagian dari dunia yang sudah mendapatkan waktu pencahayaan dari sang matahari.
Toktoktoktok suara pintu
"Via bangun nak" suara dari luar kamar yang sudah sangat ku hafal 2 tahun belakangan ini suara bibi yanti yang sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri
"Iya bu udah bangun kok" teriakku belajalan membuka pintu dan mendapatkan bu yanti didepan pintu tersenyum hangat
"Selamat pagi bu yanti" sapaku membalas senyumnya
"Sudah siap nak ternyata kirain telat bangun, Ayo sarapan dulu nanti telat" Ajak bu yanti yang mebimbungku ku ke meja makan
"Ibu kebelakang dulu yah masih ada kerjaan" kata bu yanti sesampai di meja makan coklat yang panjang muat 8 orang yang ku jawab dengan angukan
Sama seperti 2 tahun terakhir hanya makan sendiri dan sangat membosankan biasa kalau lagi mau di temani aku minta bu yanti temani makan.
Flashback
Dua tahun lalu setiap pagi aku selalu di temani papah dan mama aku sarapan tapi semenjak kejadian itu dimana kedua orang tua ku merengut nyawa karena kecelakaan tragis. Mobil yang membawa orang tuaku kecelakaan bertabrakkan dengan mobil lain yang berlawanan arah. Tidak ada yang selamat dalam kecelakaan itu termasuk orang yang menabrak mobil orang tua ku. Saat itu aku masih semester terakhir kelas 10 SMA. Saat kecelakaan aku masih di sekolah dan tante desi kakak dari papa ku menjemputku pulang entah kemana dia tidak menjawab, aku ikut saja. Di dalam mobil tidak ada perasaan aneh apapun. Sampai mobil tanteku berhenti di sebuah rumah sakit.
"Tante kita ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanyaku keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Tante desi tidak menjawab hanya merangkul ku dengan erat, aku merasa aneh dengan cara tante desi merangkul ku dengan erat seakan ingin memberikan ku kekuatan tapi ku biarkan saja aku berjalan dengan banyak pertanyaan di sepanjang langkahku menuju sebuah ruangan. Perasaanku semakin tidak enak saat berada di depan ruangan yang baru kali ini aku akan memasukinya. Ini kamar mayat. Aku menoleh ke tante desi yang matanya mulai berair.
"Tante kenapa ke sini? Kenapa tante menangis? Siapa yang meninggal tante?" Tanyaku panik memegang lengan tante desi. Tante desi langsung memelukku, aku semakin tidak mengerti.
"Kamu harus sabar kamu harus kuat semua ini cobaan berat kamu harus kuat ya via" kata tante desi memelukku dengan erat. Aku mula mengeluarkan air mata tidak mengerti dengan ucapan tante desi hanya saja firasatku sangat tidak enak.
"Tante siapa yang meninggal tante? Aku ga ngerti" Tanyaku berlinang air mata. Tante desi membawaku kedalam kamar mayat itu. Baunya sangat menyengat. Aku tidak suka baunya. Bau obat-obatan yang pasti itu pasti bau formalin karna ini kamar mayat.
Tante desi berhenti di depan sebuah ranjang yang sudah ada mayat terbaring di bawah kain itu. Aku takut aku langsung memeluk tante desi.
"Nak kamu harus sabar, ini memang sangat sulit kamu terima tapi kamu harus kuat. Kecelakaan itu tidak ada orang yang bisa menghentikannya semua sudah kehendak Tuhan kamu harus tabah. Papa mama mu sudah tiada sayang" ucap tante desi yang sudah melepas peluknya dan menangis. Bak tersambar petir aku langsung lemas fikiran ku kemana-mana mencerna ucapakan tante desi.
Aku memberanikan diri membuka kain kafan yang menutupi mayat yang di depanku. Badanku lemas seperti tulang-tulangku hilang seketika. Aku langsung menangis sekencang-kencangnya tidak percaya dengan apa yang terjadi. Papaku, papaku yang ada di bawa kain kafan itu terbaring dengan wajah yang sangat pucat.
"Papahhh hiks pahh, tante kenapa ini terjadi? Kenapa papa ku meninggal? Kenapa tante hiks hiks" tante desi tidak menjawab. Aku hanya menangis memegang tangan papahku yang sudah dingin. Papah yang selalu mengusap kepalaku dengan lembut dan hangat sekarang sudah dingin. Ini sangat sulit ku percaya.
"Tante mana mama ku tante, mamaku tidak kenapa-kenapa kan? Mana mamaku tante?" Tanyaku berteriak menguncang lengan tante desi, tante desi tidak menjawab hanya menagis melihat keranjang kasur di sampingnya. Aku langsung berlari ke keranjang kasur sampingnya. Aku berdiri dan membuka perlahan kain yang menutupi wajahnya berharap bukan wajah mama ku yang ada di baliknya. Tapi Tuhan tidak mengabulkan harapan ku. Aku langsung memeluk mama ku yang sudah pucat dan dingin. Mama ku yang selalu memelukku di keadaan senang maupun sedihku, mama yang selalu tersenyum dan memberiku semangat.
Baru tadi pagi aku mama dan papah berkumpul di meja makan bercerita dan sedikit bercanda. Dan papah mama pamit untuk mengurus perusahaan papa di luar kota selama 2 hari. Saat aku mengantar mama papa ke depan pintu mereka menciumku dan memelukku. Menasehatiku agar sekolah yang baik dan jadi anak yang ceria di sekolah. Aku menjawabnya dengan senyum gigiku dan memeluk mereka berdua. Aku masih tidak percaya itu adalah perpisahan terakhir ku dengan kedua orang tuaku yang sangat meyanyangiku dan aku sayangi.
Di pemakaman aku terus menangis sampai air mataku tidak lagi mengeluarkan air mata. Aku lelah menagis berjam-jam tidak berhenti dari rumah sakit tadi.
"Via" panggil seseorang di belakangku. Dia ami sahabatku yang langsung memeukku dari samping dan ikut menangis. Aku hanya diam dan mengeluarkan beberapa tetes air mata lagi.
"Kamu harus kuat dan sabar aku selalu ada di samping kamu" ucapnya menguatkanku aku hanya mengangukkan kepala dan tersenyum tipis.
Saat pemakaman telah selesai. Aku tinggal berdoa untuk kedua orang tuaku. Aku masih tidak tega melihat orang tuaku di bawah sana di alam terbuka tanpa atap. Tetapi tante desi dan ami membujukku pulang dengan mengatakan mama dan papaku akan sedih kalau aku sedih. Saat itu sudah tidak ada lagi keluarga teman-teman yang ada di pemakaman itu karena pemakaman sudah selesai sejak 46 menit yang lalu. Tapi saat aku berjalan aku melihat cowok yang tidak jauh dari makam orang tuaku dia melihatku sepanjang jalanku, sepertinya wajahnya tidak asing tapi aku tidak ingat siapa dia.
Sesampai di kamarku aku masih diam. Ami terus merangkulku. Aku mengingat seseorang yang seharian tidak mengabariku. Dia levin pacarku selama setahunan ini.
"Ami" panggilku membuyarkan lamunan ami yang berada di sampingku yang masih setia merangkulku
"Iya via?" Tanyanya lembut dengan sedikit mengkerutkan jidatnya
"Kamu lihat levin ga seharian? Atau kamu kabarin dia tentang kondisi aku? Soalnya aku belum kabarin dia?" Tanya ku dengan ami. Tetapi ami hanya menampakkan wajah tegang. Aku tidak mengerti. Tetapi tidak lama ami langsung tersenyum
"Aku tadi lihat. Tapi aku tidak tanya dia via. Kamu ga usah tanya dulu biar aku yang tanya kamu tenangin diri aja ya, kamu ga usah kabarin dia dulu pokoknya, nanti kamu nyesel. Tolong dengerin aku kali ini via" ucapnya serius tapi lembut
"Kenapa?" Tanyaku binggung
"Tolong kali ini dengerin aku yah nanti aku jelasin" katanya menyakinkan dengan memegang lenganku. Aku hanya mengangguk tidak mau tambah binggung lagi sudah cukup berat beban yang di dapatnya hari ini.
Akupun tertidur di temani ami yang nginap di rumahku dengan alasan ingin menemaniku agar sedih ku berkurang.
Masih permulaan cerita🙂
VOUS LISEZ
Time Of My Love
Roman pour AdolescentsSemua berubah semenjak kejadian itu dan dia datang.
