"Sssstt.. Ana."
Aku menoleh pada suara pelan itu. Tepat dibelakang bangkuku, Christy gadis dengan bando di rambut mengkilatnya menunjuk-nunjuk lembar jawabannya yang masih kosong -benar-benar kosong.
"Contekin gue!"
Aku mengabaikannya dan kembali menekuni rumus-rumus fisika. Pura-pura tuli ketika Christy terus-menerus memanggil bahkan menendang-nendang kursiku.
"Heh Culun, gak usah sok budeg, ya."
Duk...
Duk...
"Cepet kasih jawaban elo, Tolol."
Aku tidak tahu harus tertawa atau mendengus. Tolol katanya? Seharusnya dia berkaca.
Duk...
Duk...
Kursiku terus terdorong.
"Setelah ini gue bakan membunuh elo," desis Christy.
"Kamu, jangan berisik! Selesaikan jawabanmu," Bu Farah memelototinya dari meja guru. "Dan hapus lipstik norakmu itu sebelum saya membawamu ke ruang BK."
Semua murid tertawa. Tanpa melihatpun aku tahu Christy sedang menggerutu kesal ditempatnya.
Sedetik kemudian aku berdiri bersamaan dengan seorang anak laki-laki yang juga berdiri. Kami maju untuk mengumpulkan lembar jawaban.
Mata Bu Farah mengernyit dibalik kacamata. "Kalian sunggih sudah selesai? Ini baru tiga puluh menit."
Aku mengangguk sedangkan anak laki- laki itu langsung pergi tanpa repot-repot merespon.
Sambil melangkah keluar kelas, aku memikirkan anak laki-laki itu. Namanya Elang. Sudah satu semester ini aku sekelas dengannya. Diantara anak kelas sepuluh lainnya, dia yang paling menonjol. Bermula ketika Elang menolak mengikuti aturan MOS dengan dalih tak sesuai dengan pemikirannya, lalu menyebabkannya berkelahi dengan Arul, salah satu anggota OSIS saat itu. Seakan-akan itu belum cukup, hari -hari selanjutnya bersekolah diisi dengan berbagai pelanggaran. Merokok di kantin, berkelahi sengan murid lain, berseragam semrawut, sama sekali tidak mengikuti pelajaran meaki tasnya ada dikelas. Dan yang paling parah adalah berkelahi dengan Kepala Sekolah.
Ketika itu Elang tidak mengenakan topi sehingga saat upacara dia berdiri di depan, di belakang Kepala Sekolah.
Saat Pak Rama, Kepala Sekolah itu selesai memipin upacara dia berjalan ke belakang. Mengucap sesuatu pada Elang.
Tidak ada yang tahu apa yang diucapkan Pak Rama. Yang pasti, setelah itu wajah Elang mengeras dan langsung menonjok Pak Rama tanpa sungkan.
Semua murid memekik. Para guru langsung menghampiri Elang, beberapa menahannya seolah anak itu akan mengamuk berkepanjangan. Aku dapat melihat ekspresi Pak Rama yang saat itu tampak ingin membalas namun tertahan oleh sesuatu. Mungkin statusnya sebagai pengajar, apalagi Kepala Sekolah.
Heranku, kenapa setelah kejadian itu Elang tidak dikeluarkan dari sekolah? Jawabannya kutemukan darigosip-gosip yang berhembus di seantero sekolah.
"Elang itu... anaknya Arya Bramantyo."
"Yang punya stasiun TV itu?"
"Iya, punya bank juga."
"Katanya juga punya bisnis bidang properti, orang tajirlah pokoknya."
"Oh... pantes nggak dikeluarin dari sekolah, punya duit."
"Keluarganya punya nama juga."
Bukankah kekuasaan seperti itu tidak boleh disembarang gunakan. Nama keluarga seharusnya tidak boleh membuat Si Elang itu bersikap semaunya. Sama sepertiku.
VOCÊ ESTÁ LENDO
SEGRETO
Ficção AdolescenteNamaku Liyana Zahira Hadikusuma. Biasa dipanggil Ana. Tapi aku tak menyalahkan bila ada yang menyebutku Shopia Allera. Karena disatu waktu aku adalah Upik Abu dan diwaktu lain aku adalah Cinderella. Aku suka menjadi Shopia, seorang Idol yang digemar...
