Pagi yang tenang di ibu kota. Beberapa kegiatan baru saja dimulai, tapi tidak dengan sebuah rumah megah yang sudah terjadi keributan.
BRAK
Di Sana, Di ruang makan, tengah meringkuk seorang anak tampan berusia 10 tahun. Kulitnya putih pucat, raut wajahnya meringis kesakitan, dan ketakutan. Ia berusaha menyeret tubuhnya saat ayahnya menghampirinya dengan wajah seekor predator.
BUAK
"Akh!"
Mulutnya spontan merintih saat sang ayah menendangnya keras. Sakit. Ia ingin lari. Sangat ingin melarikan diri dari pria yang di panggilnya ayah. Tapi apa dayanya? Kaki nya tak bisa bergerak secepat itu. Ya, Ren Crawd. Anak bungsu dari pasangan Frank Crawd dan Christie Crawd, yang juga merupakan adik dari Harry Crawd adalah anak yang terlahir cacat. Kedua kakinya tak sama panjang, sehingga membuatnya berjalan terpincang.
BUAGH
Ren merintih. Sakit..perutnya sakit. Ayahnya selalu menendangnya. Tubuhnya sudah meringkuk seperti bayi.
"BERANINYA KAU MENAMPAKKAN DIRI DI DEPANKU SIALAN!"
"Agh! Maaf..ampun ayah..."
Anak itu hanya bisa merintih, memohon ampun pada ayahnya.
"REN! AYAH! APA YANG AYAH LAKUKAN!"
Ren menoleh ke sumber suara. Di lihatnya kakaknya,Harry, berdiri di sana. Dengan rambut yang masih meneteskan air, bertelanjang dada dan pinggang terbalut handuk. Sang ayah hanya mendengus, lalu meninggalkan Ren, sengaja menginjak tangan anak itu dan sedikit memutarnya, membuat Ren menahan jeritannya. Harry menuruni anak tangga secepat yang ia bisa, dan segera setelah kakinya menapak lantai dasar ia berlari menghampiri adik yang sangat disayanginya, yang kini berusaha bangun dengan kekuatannya sendiri.
"Ren...gapapa? Tadi ayah pukul kan? Luka gak?" Ujarnya cemas sambil membolak balikkan badan adiknya.
Ren tersenyum kecil, hatinya menghangat, tapi segera berubah menjadi ringis kesakitan saat merasa perih di ujung bibirnya.
"Kamu luka"
"Ren ga apa-apa kak...ini cuma luka kecil" ujarnya sambil tersenyum menenangkan.
Harry mendecak, lalu segera membawa adiknya itu dalam gendongannya. Alisnya berkerut saat merasa bobot tubuh adiknya seringan kapas. Sejak kapan adiknya menjadi kurus begini? Seingatnya adiknya dulu sedikit berisi, lalu pipinya yang chubby dan mudah merah tidak pernah gagal membuatnya dan seisi rumah gemas -kecuali ayahnya, tentu saja-. Ia menggelengkan kepalanya. Bukan saatnya berfikir begitu. Kondisi Ren lebih penting sekarang. Ia membopong Ren ke lantai atas, meletakkannya di ranjang kamarnya dengan perlahan, takut gerakannya malah membuat adiknya lebih kesakitan.
"Kak? Kenapa malah ke kamar? Ren harus sekolah" ujarnya penuh tanda tanya menatap Harry yang kini duduk mematung di samping ranjangnya. Ia masih kaget dan shock. Sama sekali tak menyangka bahwa ayahnya masih berkeras hati, padahal sudah sangat lama waktu berlalu. Perasaan bersalah muncul begitu saja dalam relung hatinya. Kenapa-
"Kakak"
Harry terkesiap saat tangan kecil dan kurus itu mengguncang pelan tangannya. Ia memusatkan atensinya pada sepasang mata berbeda warna milik adiknya.
"Ya?"
"Kakak kenapa??Ren harus sekolah kak...nanti terlambat"
"Kamu gak apa? Kalau sakit, gak usah sekolah dulu" Lembutnya suara Harry, menenangkan syaraf Ren yang tegang. Kakaknya, adalah kakak terhebat menurutnya. Obat penenang baginya, dan segala-galanya untuknya. Harry, dan ayahnya adalah pusat kehidupannya, walaupun apa yang sudah dilakukan ayahnya sudah melewati batasan.
"Ren harus sekolah kak, hari ini ada ulangan..."
"Tapi Ren, kamu sakit. Lebih baik kakak izinkan saja,ya?"
Ren menggeleng takut. "Please...biar Ren sekolah kak" Ujarnya semakin panik.
"Kenapa kamu keras kepala sekali? Tidak ikut ulangan sekali tidak masalah kan?"
Mau tidak mau Harry heran. Hanya ijin sekolah, tapi adiknya setakut ini. Ada apa sebenarnya?
"A...ren..ta...kut...a...a-yah..nggg"
Harry mengepalkan tangannya diam-diam. Melihat kondisi adiknya yang ketakutan setengah mati,menunduk, gemetar, panik, dan sampai kehilangan kata-kata cukup membuat nya marah. Marah pada ayahnya yang ia yakini membuat semua hal ini terjadi.
Harry menghela nafasnya, beranjak ke depan lemari, mengambil kemeja putih dan celana kain hitam sebelum memakainya.
"Baiklah baiklah. Sudah sarapan?"
"Be-lum.."
Harry mendengus.
"Kalau gitu, pencet interkomnya. Sarapan dulu. Tidak ada tapi"
Ujarnya sembari memakai jas dan dasi. Ia melangkah, mengambil kotak P3K dan meletakkannya di nakas, dan mulai merawat lebam2 pada wajah, tangan dan kaki Ren.
"UGH" Ren sontak merintih saat tangan Harry tak sengaja menekan pinggangnya.
"Kenapa Ren? Apa sakit?" Ren hanya menggeleng takut.
Harry menyipitkan matanya. Sepertinya tadi tidak sengaja ia menekan pinggang Ren.
"Ren, katakan pada kakak, mana yang sakit?" Ujarnya lembut.
Ren hanya menggeleng, senyum tipisnya tercetak. "Ren gak apa-apa kak"
"Kalau begitu buka bajumu"
Ren terdiam dengan segala ketakutannya. Ayahnya tidak akan membiarkan ini terjadi. Kalau sampai ayah tau ia-
"BUKA BAJUMU REN!!!"
Ren terperajat. Badannya langsung gemetar. Nafasnya sedikit memburu. "A-a-uhh" ia berusaha mengatakan 'aku tak apa', tapi lidahnya serasa kelu. Kelu menghadapi kenyataan bahwa bentakan kakaknya juga sama menakutkannya dengan ayahnya. Mungkin kali ini, kalau ia melakukan sedikit saja kesalahan, dirinya akan tamat.
Dengan tangan gemetar ia berusaha melepas bajunya. Ia ketakutan. Berusaha memilih. Jika ayahnya sampai melihatnya bersanding dengan kakaknya begini, ayahnya pasti marah besar. Tapi ia juga tak mau kena amuk kakaknya, yang baru diketahuinya juga tak kalah menakutkannya dengan sang ayah. Harry menghela nafas yang sarat akan rasa bersalah. Ia kini tau, ia tak boleh membentak. Adiknya trauma. Trauma oleh ayahnya sendiri. Takut orang yang marah kepada nya akan menyakitinya. Harry kembali menghela nafas, lalu dengan lembut membantu Ren melepas bajunya. "Maaf ren...aku tidak bermaksud"
Ren hanya diam, menahan sakit pada pergelangan tangan kanannya yang terkilir akibat ulah ayahnya tadi yang kini di paksanya aktif turut membuka bajunya. Dan detik setelah baju itu tersingkap, Harry mencelos.
.
.
.
To be continue
Grey's notes :
HAIII
Gimana gimana gimana???
Jadii sebenernya ideku yang pertama muncul malah ini duluan, tapi yang di publish dulu justru yang satunya hahahahaha. Grey masih noob banget, pengen banget coba2 nulis...Jadi kritik, saran, komen, sangat amat membantu. Ga ada yang gapenting, semua nya penting. Makasih banget buat yang udah luangin waktunya buat baca (calon) novel yang abal abal ini :') apa lagi yang sampe vote atau like...THANKYOU SO MUCH! semoga menghibur ^^
Akhir kata, thankyou, and..
Comment please...
;)
YOU ARE READING
SORRY
General FictionMaaf. Maaf sudah lahir ke dunia. Maaf sudah membuat ayah malu Maaf sudah membuat ibu tiada Maaf sudah membuat kakak cacat. Maaf sudah merebut semua kebahagiaan kalian Maaf sudah membawa kesialan Dalam keluarga ini Maaf...Karena aku sudah mencintai k...
