"Non, bangun, Non!" Bibi Yumi yang biasa dipanggil Bibi Iyum ini membangunkan Recha yang masih tertidur lelap.
Kelihatan sekali Recha, gadis berusia 18 tahun, sangat kelelahan. Ia tertidur dengan mulut yang terbuka menganga.
Recha berambut panjang dan hitam, kulitnya berwarna putih, badannya setinggi kira-kira 157 cm, dan--yang membuat ciri khasnya adalah--berlesung pipi yang membuat wajahnya semakin cantik ketika tersenyum.
Pagi yang cerah. Recha belum juga membuka matanya karena ini merupakan jadwalnya untuk bangun siang, dan hari yang ditunggu-tunggu, hari Sabtu. Sinar matahari mulai memasuki dan menguasai seluruh ruangan kamar Recha ketika jendela kamarnya dibuka oleh Bibi Iyum. Namun, Recha sepertinya masih berkeliaran dalam mimpinya.
Bibi Iyum pun kembali membangunkan Recha dengan menepuk-nepukkan kaki Recha. Alhasil, cara ini sedikit berhasil membuat Recha terbangun.
"Hoam, apa sih, Bi? Masih pagi ah, ngantuk," gerutu Recha dengan nada yang terdengar malas tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Ini Non, buka dulu dong matanya!" seru Bi Iyum bersemangat.
"Apa sih, Bi?" Dengan agak malas, akhirnya Recha terpaksa bangun membuka matanya yang sangat berat pagi itu.
"Happy Birthday, Non Recha Haryani!” seru Bi Iyum sambil menyodorkan kue blackforest yang sangat menggoda.
"Wah, emang hari ini ultah aku ya, Bi?" tanya Recha, sedikit tak menyangka bagaimana bisa ia melupakan hari ulang tahunnya sendiri.
Senyum Recha pun merekah. Dilihatnya ke seluruh sudut kamarnya. Banyak kado yang terbungkus di atas meja belajarnya. Tersusun sangat rapi dan cantik. Ah, sungguh indah baru membuka mata sudah ada yang menyambut hari ulang tahun dengan kue dan lilin yang menyala di atasnya dan sejumlah kado. Namun, senyumnya seketika pudar ketika ia teringat akan seseorang yang tak ia lihat pagi itu.
"Ayah mana, Bi?" tanyanya sedikit sedih.
"Ayah tadi pagi sekali harus berangkat ke Batam, katanya ada dinas mendadak dan harus menghadiri meeting di sana. Ayah pesan untuk memberikan kue dan kado-kado itu untuk Non. Maaf beliau tidak bisa mengucapkannya langsung. Begitu Non, pesan dari Ayah." Bi Iyum menyampaikan pesan ayah Recha, Hary Kuncoro.
Hary Kuncoro seorang direktur dengan banyak perusahaan. Dengan demikian kekayaannya berlimpah. Mengetahui ayahnya tidak ada di pagi itu, Recha menjadi sangat tidak bergairah.
"Makasih, ya, Bi Iyum udah ngucapin ultah ke Recha. Bawa aja kuenya, buat Bibi aja. Recha mau lanjut tidur lagi, ya. Sekarang kan hari Sabtu, Recha mau tidur seharian aja.” Recha menarik selimut dan kembali melanjutkan mimpinya.
Bi Iyum tak berani mengelak. Ia tahu Recha sedang kesal. Ia tidak mau menambah sedih suasana hatinya. Mau bagaimana pun caranya membuat Recha tersenyum, kalau dari dalam diri Recha sedang sedih dan tidak mau diganggu, tidak akan berpengaruh apa-apa upayanya. Ia keluar meninggalkan kamar Recha dengan membawa kue ultah ke dapur.
Hari menjelang siang. Namun, Recha masih saja berada dalam kamarnya. Bahkan ia belum mengisi perutnya. "Non Recha nggak lapar, apa ya?" Demikian benak Bi Iyum. Ketika ia mengantarkan makanan ke kamar Recha, bel rumah berbunyi. Bunyinya yang kencang hampir membuat makanan yang dibawanya tumpah. Ia segera berjalan menuju pintu masuk, melihat di kaca kecil yang berada di pintu untuk mengetahui siapa yang datang di siang bolong itu.
YOU ARE READING
Begal Cinta
RomanceKumpulan cerita tentang orang-orang yang ingin selalu merasakan cinta, namun cinta tak lagi hadir di hidupnya. ----------- Berbicara soal cinta tak selalu berhubungan dengan pasangan. "Begal Cinta" menghadirkan kisah-kisah tentang berbagai cinta ya...
