ABHIPRAYA
Tidak semua orang di dunia ini berkesempatan memiliki kadar kebahagiaan yang lebih besar daripada kesedihan atau kehampaan yang pernah dilaluinya sepanjang hidup. Ada di antara orang-orang yang bahkan untuk memiliki sepercik kebahagiaan saja terasa sulit padahal usaha yang dilakukannya berlipat ganda daripada mereka yang lebih banyak duduk santai namun mendapatkan apa yang diinginkannya dengan lebih mudah. Tidak adil memang tapi inilah hidup dengan segala skenario yang telah disiapkan Maha Pencipta. Mau protes sama siapa? Protes sama Tuhan? Memangnya siapa kamu, berani menyalahkan dia yang maha segalanya,sementara dibandingkan semesta ini kamu hanya butiran debu dan satu dari milyaran aktor di muka Bumi ini. Skenario awal ceritanya sudah ada tergantung bagaimana kamu menjalankan peranmu, jadi pemeran utama yang tangguh atau sekedar pecundang yang tak berani menghadapi masalah dan problematika hidup.
Ya ini tentang seorang aktor kehidupan yang harus melakoni skenario dengan jalan cerita tidak terlalu bagus hmm, bukan tebih tepatnya skenario yang entahlah akupun bingung mengatakannya dalam satu kata terlalu rumit. Cerita anak manusia yang memang ada di luar sana mungkin jarang disadari oleh mereka yang terlanjur bahagia dengan skenario indah.
Sebut saja dia Abhipraya, seperti yang dia katakan padaku saat aku bercakap-cakap dengannya beberapa waktu lalu. Mulanya hanya kalimat-kalimat biasa hingga dia mengatakan semuanya. Saat itu dia masih berusia sekita 16 tahun, seorang remaja yang baru merasakan putih abu. Masa-masa yang seharusnya terasa indah dan penuh kenangan. Tapi tidak bagi Abhipraya. Dia bilang kepadaku, sebenarnya dia sudah tahu ayahnya tak mengizinkan ibunya untuk kembali melintasi angkasa kembali ke negeri sebrang, mengais rezeki demi mencari secercah kehidupan yang menurutnya akan menjadi lebih baik. Sang ibu berontak dia tak mau hanya diam tanpa bisa melakukan apapun. Mulanya semua baik-baik saja perlahan ayahnya menerima kenyataan bahwa sang istri pergi untuk membantunya. Hingga sebulan sebelum kepulangan sang istri dari tanah seberang, dia mendengarnya sendiri pengakuan dari mulut lelaki yang menjadikannya ada di dunia ini. "Maafkan ayah nak, ayah tak bisa menahan lagi. Ayah sekarang punya wanita lain selain ibumu." Awalnya dia tak bisa mencerna semua itu sampai dia sadar ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita lain. Bukan, bukan perasaannya yang saat itu hancur, tapi suatu bagian dari otaknya yang membuatnya berpikir dan merasakan bagaimana perasaan ibunya ketika pulang kembai ke negara ini dan mengetahui hal ini. Berbagai hal sudah berkecamuk di hatinya.
"Wanita mana yang tidak hancur lebur hatinya melihat dan mengetahui pria yang selama ini mengarungi lautan kehidupan bersamanya lantas memasukkan wanita lain ke dalam kehidupan mereka? Aku memang laki-laki tapi aku paham. Aku tahu perasaan ibu waktu itu seperti apa hancurnya, tapi saat itu dia memilih untuk mengikhlaskan pria yang dicintainya untuk wanita lain dan memilih pergi. Malah aku yang tak terima dengan hal itu jika saja waktu itu ibu mengizinkanku memarahi ayah. Sayangnya ibu bukan wanita seperti itu." Katanya padaku. Bahkan akupun baru tahu pil pahit yang harus dia telan beberapa tahun lalu itu.
"Orangtuaku bercerai titik keputusan akhir yang tak bisa diganggu gugat. Dunia terasa runtuh untuk pertama kalinya aku. Rasanya saat itu aku ingin pergi ke tengah rel kereta api berteriak sekencang mungkin saat kereta datang di hadapanku. Tak ada lagi tempat untuk pulang yang utuh sandaran itu telah terbelah terpecah. Tidak ada lagi dermaga tempatku melabuhkan penat dan cerita. Hancur lebur. Aku benar-benar hampir kacau saat itu. Buat apa sekolah? Jadi anak baik ya? Untung tak sampai terpikir di kepalaku obat-obatan terlarang itu. Tuhan masih sayang padaku. Tuhan mengirimkan mereka, mengirimkan kalian. Aku bukan satu-satunya di dunia ini yang mengalami hal ini. Masih ada orang di luar sana yang lebih buruk nasibnya. Sampai yang paling kuingat saat itu ada seorang kawanku berkata. Hei bukan hanya kamu yang seperti ini, kamu tidak sendirian. Ceritaku memiliki tema yang sama denganmu, ayahku pergi gak tahu ke mana tapi aku masih baik-baik saja sampai sekarang. Terserah kamu sih mau jadi hancur, terpuruk dan berujung gak dapat apa-apa atau memilih jalan yang lebih baik. Begitulah katanya kawanku itu. Perlahan aku sadar itu adalah batu yang menyandungku bukan untuk menghentikanku. Masih ada harapan banyak harapan. Aku tak mau menampilkan sisi lainku yang lemah, biar ada sisi lemah itu tak boleh aku perlihatkan. Aku harus melanjutkan hidup. Aku bisa. Aku pasti kuat. Aku masih punya satu dermaga walau bukan dermaga seperti orangtuaku. Dermaga yang berbeda ya kalian kawan yang menjadi keluargaku bukan sekedar kawan."
YOU ARE READING
Abhipraya
Teen FictionSebuah cerita untuk menjadi suatu renungan dan pengingat bahwa tak semua orang mendapatkan satu buah kursi di bangku kuliah dengan mudah. Ada ha-hal lain yang menjadi pertimbangan selain hal-hal yang lazim dipikirkan orang lain seperti jurusan apa...
