2017
Kota Tasikmalaya.
Duk duk duk... Derap langkah kaki yang terbalus sepatu pantopel itu semakin lama semakin cepat. Kemeja marunnya sudah tidak beraturan. Lelaki itu menghampiri lift, memencet tombol lift. "ayolah..." ia mengusap keningnya dengan sikunya. Pintu lift tak kunjung terbuka. Tangan kirinya penuh seikat bunga, sedang tangan kanannya sibuk membawa tas dan handphonenya.
Pintu lift yang ia nantikan akhirnya terbuka. Ia bergegas masuk, disusul oleh beberapa orang yang juga berpakaian formal seperti dirinya juga ikut masuk kedalam lift. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak kecil, laki-laki muda, perempuan muda, hampir semua membawa hadiah untuk orang yang mereka sayang. Raut muka mereka semuanya bahagia. Mereka sangat antusias. Ada pula yang membawa tas besar, koper dan bantal leher. Sepertinya mereka datang dari kota lain. Ahmad memperhatikan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. 10 menit lagi acara mulai. Ia melirik ikat bunga yang ia bawa. Berharap bunga itu disukai oleh penerimanya.
...
Hari ini adalah hari perayaan wisuda Bunga. Hari ini Bunga resmi mendapatkan gelar perawatnya. Acara wisuda dilaksanakan di aula Graha, kota Tasikmalaya. Ahmad adalah kakak Bunga. Ahmad memang sengaja tak memberitahu Bunga tentang kedatangannya. Seminggu yang lalu, sebelum pergi, Ahmad diberi surat undangan acara wisuda oleh bunga.
...
Hujan mengguyur jakarta hari ini. Bunga melihat kearah jendela apartemen kakaknya yang basah terkena hujan itu. "kakak datang kan?" Tanya Bunga sedikit antusias. "Disana, Bunga akan di kukuhkan menjadi perawat kak! Bunga nanti bisa menolong korban, korban asli, real!!!" Ocehnya.
Ahmad menghela pelan. Ahmad beranjak dari dapur menuju Bunga yang duduk di sofa sambil membawa wedang jahe dan singkong rebus untuk mereka berdua."Kakak usahakan datang ya, tapi tidak janji kalau kakak bisa datang. Karena hari ini, ada kunjungan dari ditjen keuangan dan inspeksi dari komisi khusus." ujar Ahmad pelan sembari duduk disamping Bunga.
"iya, Bunga tahu, tidak apa-apa, bunga akan tunggu sampai kakak datang ke tempat wisuda bunga nanti" katanya menyeruput wedang jahe dan memakan singkong rebus buatan kakaknya itu.
"Kak, nanti, disana, akan Bunga kenalkan kakak dengan dosen Bunga. Dia cantik! Kakak pasti suka dengan perilaku dia." Bunga tersenyum pelan. Kakaknya balas tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
...
Lift kembali terbuka. Ahmad menuju tempat adiknya itu di wisuda. Ia masuk ke aula dan duduk ditempat yang sudah disedikan panitia. Aula yang besar dengan suara pembawa acara yang terdengar keseluruh penjuru sudut ruangan. Ahmad mengamati satu persatu wisudawan dan wisudawati. Suara bising sesekali terdengar. Panitia berlari-lari kecil disamping ruangan, segera menyelesaikan masalah kecil itu. Nama satu persatu wisudawan dan wisudawati itu dipanggil.
"Bunga Kusumawati"
Itu dia nama yang ditunggu-tunggu Ahmad. Bunga naik ke atas panggung, menerima pengukuhan dirinya, ditandai dengan tali toga yang dipindahkan oleh senat dari kiri ke kanan toga. Berjabat tangan lalu turun dari panggung. Ahmad melambaikan tangan kirinya yang memegang bunga. Selintas saat berbalik menuruni tangga Bunga membalas lambaian tangan kakaknya. Belum sampai ia turun dari tangga, seketika tanah tempatnya berpijak bergetar. Ini gempa bumi! Bunga memegang dinding disebelah tangga itu.
'Brakk...' panggung roboh. Orang-orang yang ada diatasnya ikut roboh hingga jatuh ke lantai dasar bangunan. Dinding tempat berpegang Bunga mulai retak. Atap aula yang kokoh tadi sekarang mulai bergoyang. Semua orang didalam berubah panik. Semuanya berteriak. Pembawa acara tak lagi terdengar suaranya. Yang terdengar hanya suara jeritan anak kecil dan perempuan serta korban yang tertimpa lampu-lampu aula yang jatuh. Ahmad berlari hendak menghampiri Bunga. Tubuhnya sulit bergerak karena ia berjalan melawan arus kerumunan orang banyak.
Adiknya masih terhuyung lemas dipojok panggung yang sudah roboh hingga ke dasar. Panggung kini berlubang besar. Bunga nyaris saja ikut jatuh jika ia tidak menepi di dinding.
"Kakak!!!" Bunga menangis. Ia takut. Matanya buram. Yang ia lihat hanya debu dimana-mana. Dentuman pintu aula terdengar keras. Aula masih bergetar. Ahmad berlarian ke arah adiknya. Adik satu-satunya yang ia punya. Satu tangan Bunga telah ia pegang. Bunga telah berada bersama dirinya.
"kamu tidak apa-apa dek?" Ahmad mencoba memastikan adiknya tidak apa-apa.
Bunga mengangguk pelan. Matanya masih berurai air mata. Keringatnya mengucur. Tangannya gemetar. Sepatu tingginya patah, kakinya lebam, sakit tak bisa digerakkan. Ahmad memapah Bunga. Ia menjauh dari robohan panggung itu.
'Kreeek dumm...' lantai dibelakang mereka kembali roboh ke bawah. Ahmad semakin mempercepat langkahnya. Tapi kaki Bunga tidak bisa dibawa lebih cepat untuk berjalan.
"kak, kaki bunga..." Bunga menahan kakaknya yang terus berlari. Ahmad melihat kaki adiknya yang biru lebam.
"Bunga, kakak gendong Bunga ya! Atur terus napasmu. Kita akan sampai di depan. Jangan lihat kebelakang." Ahmad memberi aba-aba kepada Bunga untuk naik ke punggungnya. Bunga mengikuti aba-aba kakaknya. Dirinya masih kacau. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia tidak menyangka acara bahagianya bisa berubah menjadi seperti ini. Kanan kiri mereka banyak orang yang bersimbah darah terkena sepihan pecahan lampu aula yang jatuh. Ada juga yang tertimpa atap aula yang roboh. Ahmad kembali berjalan, membopong Bunga di punggungnya.
Dumm... Bunyi dentuman itu terdengar lagi. Beberapa orang menjerit. Serpihan-serpihan atap yang jatuh juga mengenai Ahmad dan Bunga. Tidak besar, tapi sanggup membuat orang yang terkena jatuhan serpihan atap itu meringis sakit.
Bunga dipunggung kakaknya masih mengatur napasnya. Bunga semakin merapatkan pegangannya ke badan kakaknya. Ia merapalkan doa-doa agar ia dan kakaknya selamat dari gempa bumi ini. Ahmad masih berusaha keluar dari aula. Napasnya terengah-engah.
"Bapak, ibu, Ahmad janji akan melindungi Bunga, apapun yang terjadi."
Bersambung...
Hai teman-teman! Sebagai pemula, kritik dan saran sangat saya harapkan dari teman-teman yang membaca di cerita saya kali ini. See you in the next chapter ❤
YOU ARE READING
ANGIN
General FictionAngin datang, selalu membawa pertanda. Entah hal baik atau hal buruk. Angin tidak pernah disesalkan datangnya. Tapi tidak pernah diminta pula kedatangannya.
