satu

464 24 0
                                        

Sebuah BMW Putih melesat anggun ke dalam pelataran parkir Sma william's senior hight school.Mobil itu berhenti tepat di samping pos satpam. Seorang pria paruh baya dengan pakian serba hitam layaknya seorang supir keluar dari pintu pengemudi.

Ia memutari BMW tersebut dan membuka kan pintu untuk jok penumpang di belakangnya. Keluar seorang wanita cantik yang sangjat anggun dengan seragam sma, dengan sneakers putih dan ransel yang bertengger manis pada kedua pundaknya.

Salshabilla clarissa william seorang wanita cantik dan kaya raya. Dengan kulitnya yang putih meskipun agak sedikit pucat tubuhnya yang tinggi dan lansing rambutnya yang panjang dan bergelombang serta mata indahnya yang menambah kata cantik itu menjadi sempurna untuk seorang salsha.

Salsha terus berjalan lurus di koridor menuju kelasnya, dengan sorot matanya yang tajam serta wajahnya yang datar. beberapa murid berbisik bisik tak suka kepadanya karena kesombongan dan kearogananya itu sebab salsha adalah cucu dari pemiliki william corps dan juga pewaris tunggal dari perusahaan itu termasuk sekolah mereka ini.

Namun salsha tak pernah menanggapi omongan mereka karena baginya orang orang itu hanyalah sampah yang iri terhadapnya.

Ia memasuki kelas baru nya Kelas  XII IPA 2 ia berjalan menuju bangku paling depan yang terletak di tengah-tengah kelas dan tepat berada di depan meja guru. Ia suka duduk di posisi ini karna ia dapat dengan jelas menerima semua materi yang di berika gurunya.

"Morning class!"

Seorang guru masuk ke dalam kelas dan langsung menyapa murid- muridnya itu. Namun ia tak datang sendiri melainkan dengan seorang pria tampan di sampingnya dengan wajah sedikit kebule bulean dengan seragam yang sama dengan murid- murid Willia's school.

"Sapa tu buk? Cakep amat yak!" Terdengar suara nyaring dari kursi paling pojok kelas.

"Diam kamu rey!" Tandas bu rita. Lalu ia beralih menatap bryan yang berdiri tepat di sampingnya.

"Okay, perkenalkan dia bryan murid baru di kelas kita" bu rita mengambil jeda sejenak.

" saya harap kalian semua bisa bekerja sama yang baik dengan bryan"

"Siap buk!"

Bu rita sedikit tersenyum mendengar jawaban para muridnya. Detik berikutnya dia mengalihkan pandanganya lagi pada bryan.

"Okay bryan, kamu silahkan duduk di samping salshabilla" di menunjuk bangku kosong di depan yang terletak persis di tengah-tengah kelas.

"Saya ga mau buk!" Tandas salsha dingin.

Bu rita menghela nafasnya tak habis fikir dengan muridnya satu ini.
"Hanya untuk sementara salsha, nanti saya akan meminta penjaga sekolah mengambilkan bangku di gudang untuk bryan"

"Hanya satu hari!"

Bu rita hanya mengagguk dan bryan pun duduk di samping salsha. Sebenarnya bu rita merasa aneh dengan cucu atasanya itu dia cantik dan punya segalanya tapi dia terlalu dingin dan menutup diri hingga dia tak memiliki seorang teman pun. Ia hanya ingin salsha sedikit lebih terbuka dan itu tujuanya mendudukkan bryan sebangku denganya.

"Okay! Kalian semua pasti sudah kenal saya kan? Ia berujar untuk memecah keheningan. "Saya adalah wali kelas baru kalian di kelas XII ini" Ia menuju meja guru dan duduk dengan anggunya. " Baik buka buku fisika kalian dan kerjakan latihan bab pertama! Nanti setelah istirahat kumpul" suara lantangnya lantas membuat semua murid lekas membuka buku dan menulis.

******

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring semua isi kelas XII IPA 2 berhamburan keluar kelas setelah semua siswinya berkenalan dengan bryan.

Kini tinggal mereka berdua di kelas salshabilla dan bryan. Hening itu lah yang terjadi bryan hanya memperhatikan salsha yang mengemaskan buku- buku nya ke dalam tas.

"Ekhem!" Bryan berdehem kecil. Dan salsha lantas menatapnya tetap dengan tatapan datarnya yang membuat nyali bryan sedikit menciut untuk mengajaknya berkenalan.

Dia mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengan salsha" gua bryan" ucapnya memberanikan diri.

"Ga perlu" balas salsaha datar dan dingin. Lantas ia berlalu meninggalkan bryan dan pergi entah kemana.

"Wanita aneh" lirih bryan singkat.

**********

Ia mengetuk pintu kokoh ini dengan perasaan yang tidak enak. Untuk apa kakek nya memanggilnya keruang kerjanya. "Masuk" setelah mendengar seruan dari sang pemilik ruangan Ia bergegas masuk den menutup pintunya kembali.

Ia menatap ruangan yang sangat lebar ini, ruangan ini penuh dengan buku dan map map penting perusahaan milik keluarganya.

"Kakek manggil salsha?" Ia bertanya setelah ia berada tepat di depan meja kerja sang kakek.

"Ngapain aja kamu! Kenapa kita bisa rugi sebesar ini ha?" Kakeknya melempar map yang ada di peganganya ke meja kerja.

Salsha dapat melihat dengan jelas kilatan marah dari mata sang kakek. Terlihat dengan jelas kakeknya sangat sangat emosi dan ia yakin kerugian itu akan membuatnya lembur seharian meski ia bekerja hanya di dalam kamar dengan ipad di tanganya.

"Maaf kek" hanya kata itu yang terlontar dari mulut salsha.

"Ya sudah sekarang kamu keluar, dan pastikan ini yang terakhir!" Ujar sang kakek tegas meski dengan suara yang sudah sedikit melembut.

"Ya udah kek aku istirahat dulu" ia berjalan menuju pintu saat tanganya akan membuka pintu suara parau sang kakek mengahalingi niatanya itu.

"Salshabilla satu minggu lagi kamu akan berulang tahun, dan pada saat itu pula semua aset perusahaan atas nama kamu jadi jangan kecewan kan kakek lagi" Kata-kata sang kakek mengingatkanya pada hari ulang tahunya ya ulang tahun ke 17.

Ia hanya mengangguk kecil menuruti semua perkataan sang kakek. Ia sangat menyayangi kakeknya ini meski terkadang kakeknya bersikap kasar padanya.

salshabillaBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin