Do what you wanna do. Leave what you wanna leave.
Bukankah hidup sesimpel itu?
Untuk kebanyakan orang, mungkin iya.
Tapi untuk orang yang sudah menyerahkan sepenuh hatinya lalu mengatasnamakan cinta pada setiap hal bodoh yang mereka lakukan, maka meninggalkan nggak akan sesimpel yang orang lain katakan.
Sayangnya, aku termasuk dalam golongan mereka yang kusebutkan tadi. Golongan remaja labil yang menyerahkan sepenuh hatiku pada seorang Dia yang bahkan belum bisa memberiku nafkah. Lebih sederhana dari nafkah, aku bahkan nggak mampu untuk memastikan sesuatu paling mendasar dalam hubungan ini. Seperti; apa Dia benar-benar mencintaiku?
Girls, we are 16th. Bukankah ini waktu yang tepat untuk mencoba sensasi seribu cowok berbeda? Oke, pada usia enam belas kita nggak harus terpaku pada satu hubungan yang hanya menjanjikan kebahagiaan hari ini, tanpa adanya jaminan bahwa tujuh puluh tahun kedepan kita akan tetap bahagia dengan dia yang sekarang bersama kita. Jadi, sukai siapa saja. Jangan dulu mencintai, usia kita masih terlalu muda untuk kata seberat cinta.
Sayangnya, sesimpel apapun aku menyarankan tentang apa yang sebaiknya kita lakukan di usia enam belas, nyatanya aku sendiri termasuk dalam golongan remaja labil yang hatinya sudah terjerat pada hubungan kaku nan membosankan yang sangat pantas sekali untuk diakhiri.
Dulu, saat aku balita, aku selalu mengharapkan pangeran tampan untuk datang dihidupku. Merubah hidupku yang biasa-biasa saja menjadi semenakjubkan cerita pada negeri dongeng.
Tapi kurasa, harapanku saat itu kurang tepat. Aku hanya mengharapkan si pangeran berwajah tampan, tanpa menyertakan harapan jika dia juga memiliki sifat baik. Bukan, Diaku bukan orang jahat. Hanya saja, aku nggak pernah suka dengan apapun yang dia lakukan, termasuk caranya mempertahankan hubungan ini.
Lalu, kenapa aku tetap bertahan?
Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku selalu mengatasnamakan cinta pada setiap hal bodoh yang kulakukan untuknya, termasuk memilih untuk bertahan.
But, just because I stay with him, doesn't mean I wanted too. Ini karena hatiku saja yang terlalu egois.
Lalu jika hubungan kami serumit ini, kenapa kami masih terus bersama?
Satu-satunya alasan yang mendasari tetap langgengnya hubungan ini adalah; karena nggak ada salah satu dari kami yang mengawali perpisahan.
Sudah kukatakan bukan? Bahwa aku mencintainya. Love is blind, our heart doesn't always love the right people at the right time. But, I never knew that love can got me lost so far like this. If you ask how can I still love him even when I realize that he's not doing too? Maka jawaban dari pertanyaan itu nggak akan pernah mampu kujawab dengan akal sehatku. Karena hatiku yang mengambil kehendak atas segalanya, sedang dia saja sudah terbius oleh sugesti bahwa cinta benar-benar buta.
Kami pacaran. Dia milikku dan aku miliknya. Itu yang orang lain lihat. Kalian tahu apa yang aku rasakan? Dia memang milikku, tapi aku sendiri bahkan ragu jika dia benar-benar mencintaiku. Orang-orang mengatakan, bahwa cinta bukan tentang seberapa banyak dia mengatakan "aku mencintaimu", but how much he can prove that is true. Cinta memang lebih membutuhkan pembuktian, tapi cinta juga sangat membutuhkan hal paling mendasar seperti pernyataan, untuk membedakan mana cinta mana iba. Tapi Diaku beda, jangankan membuktikan jika menyatakan saja nggak pernah.
Setiap saat sejak rasa bosan ini muncul, yang kunanti adalah akhir dari hubungan ini. Karena jika berbicara tentang perasaan, maka itu telah berakhir pada hari dimana kami memulai.
Oke, kalian akan semakin menganggapku bodoh atau bahkan gila jika kuteruskan kalimat-kalimat melantur ini.
Then, I'll share my story. Ignore that my shit relationship is such a shame. Please, just enjoy every word that I share.
YOU ARE READING
Unfinished
Teen Fiction[15+] Di zaman ini, di era globalisasi ini, di dunia yang semakin panas ini, di masa ketika banyak orang mengartikan cinta sebagai nafsu. Aku menemukanmu, orang yang mengartikan cinta adalah 'aku'.
