Deena berlari kecil di tepi jalan di tengah gerimis yang menghujani kota.
"Sial, harusnya aku bangun pagi." gerutunya di tengah hujan yang semakin menderas.
Karena hujan semakin deras, ia pun memutuskan untuk berteduh di halte bus yang sedang kosong. Tidak ada salahnya 'kan?
Tidak sesuai harapan, hujan malah semakin deras membuat percikan percikan air membasahi sedikit jaket berwarna tosca yang ia kenakan.
Deena menghela nafas pasrah. Yang benar saja, diturunkan oleh kakak dari mobil di tengah kamacetan, lalu kehujanan dan berteduh di halte. Kapan dia bisa sampai di kampusnya?
"Semoga hujannya cepet reda." Deena berdoa dalam hati sambil menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Saat Deena sedang berdoa , tiba-tiba seorang laki laki bertopi datang sambil berlari dan ikut berteduh di halte. Laki laki itu menggendong tas berwarna hitam. Misterius.
Laki-laki itu tampak seumuran dengan Deena. Ya... mahasiswa semester tiga atau empat kira-kira.
Ah, mari kita positif thinking. Mungkin dia adalah mahasiswa yang bernasib seperti Deena. Kehujanan saat berangkat kuliah.
Deena memperhatikan laki-laki itu. Tampak sedikit basah. Ah, bodoh, jelas saja basah, namanya juga kehujanan.
Laki laki bertopi itu tiba-tiba menoleh ke arah Deena saat Deena sedang melihatnya. Deena buru-buru mengalihkan pandangannya agar tidak ketahuan bahwa ia sedang memperhatikan laki laki itu.
Deena berusaha bersikap biasa saja. Sesekali ia melihat jam tangannya. Masih belum telat sih. Tapi apa bisa ia berlari menerobos hujan dalam waktu lima menit sampai di kampusnya?
Dia bukan Flash yang bisa berlari cepat. Dia bukan Nobita yang punya Doraemon untuk mengabulkan semua permintaannya.
Laki laki itu terus melihat Deena yang sedang gelisah. Deena terus melirik jam tangannya setiap lima detik sekali, sambil terus menggerutu kenapa hujannya tidak reda-reda.
Deena mengecek jam tangannya sekali lagi, kalau semenit lagi hujan belum berhenti, maka ia berjanji akan menerobos hujan agar sampai di kampusnya tepat waktu.
"Emm..mbak?"
Deena menoleh spontan ke arah laki-laki yang memanggilnya dengan sebutan mbak, dikira dia mbak mbak Ind*maret apa?!
Tanpa sepatah kata lainnya, laki-laki itu menyodorkan topi yang ia pakai pada Deena.
Deena menyerngit. "Ada apa ya?"
Laki laki itu tak menjawab, lalu ia memasangkan topi hitamnya pada kepala Deena. Lalu pergi berlari menerobos hujan yang masih belum reda sampai saat ini.
Deena melepas topi itu dan menatap benda hitam itu dengan bingung. Ia membalikkan topi itu untuk mengecek bagian dalamnya
Tidak ada ketombe.
Tidak ada kutu.
Tidak ada hal aneh lainnya.
Dan baunya harum, wangi daun mint.
Sepertinya laki-laki tadi baru habis keramas dengan shampo mint. Atau mumgkin laki laki itu mengusapkan daun mint ke rambutnya. Ah, masa bodoh dengan itu.
"Makasih, cowok tak dikenal." gumam Deena lalu memakai topi itu dan berlari menerobos hujan menuju kampusnya.
Yaaa.... memang ia akan tetap kehujanan, tapi setidaknya kepalanya sedikit terlindungi dari hujan berkat topi itu.
Dia memang tidak punya Doraemon, tapi dia punya topi yang diberikan oleh laki-laki misterius tak dikenal yang datang di tengah hujan dan sempat memanggilnya 'mbak'.
Seperti... malaikat penolong.
TOPI
-END-
